Pemerintah Diharap Revitalisasi Bangunan Bersejarah

oleh
Suasana Kota Donggala. (Istimewa)

DONGGALA – Pemerhati budaya dan tokoh masyarakat kota Donggala, kembali menggagas agar pemerintah daerah segera merevitalisasi bangunan bersejarah yang rusak akibat gempabumi lalu. Terutama bangunan milik pemerintah agar dapat nemiliki fungsi kembali, sebab pembiaran tanpa ada tindakan ril akan menghilangkan identitas kota tua Donggala dengan arsitekturnyabyang khas.

Abdul Rauf Thalib, salah satu pemerhati Donggala menyatakan keprihatinan dalam sebuah pertemuan, Senin (25/2) membahas kota tua.

“Tinggal sedikit bangunan bersejarah yang tersisa di kota ini dan mungkin beberapa tahun lagi habis. Selain banyak rusak saat gempabumi juga dimakan usia karena tak terpelihara, sehingga pemerintah harus berperan melakukan revitalisasi,” kata Abdul Rauf.

Ia mencontohkan Langgar Arab, bangunan tahun 1946 telah hilang dihantam tsunami san bangunan Aduma Niaga runtuh, sehingga makin habis identitas kota bila tidak ada perbaikan kembali. Terutama Aduma Niaga sebafai milik BUMN, yang memiliki arsitektur kolonial sebaiknya pemerintah daerah dapat berkoordinasi dengan pusat untuk perbaikan kembali sekaligus dapat difungsikan.

Keprihatinan serupa diungkapkan sejarawan Donggala, Amiruddin Masri, mengatakan, pembiaran aset sejarah akan memperpuruk kekhasan kota. Harusnya diperbaiki kembali dengan fungsi yang berbeda tak mesti seperti zaman dahulu, tapi bagaimana suatu bangunan bernilai sejarah dapat dikelola kembali.

Tentu dikelola secara maksimal dalam kemasan sesuai kondisi masa kini agar menjadi daya tarik sebuah kota.

Untuk revitalisaai suatu bangunan menurut Arsitek Universitas Tadulako, Fathurahman Mansur dapat dilakukan dengan merancang kembali tanpa merubah bentuk aslinya. Apalagi kalau masih ada dokumentasi foto sangat memudahkan dalam perbaikan, atau bila suatu bangunan sebagian masih utuh, maka perbaikan dapat dilakukan pada bagian tertentu saja.

Di antara langkah yang dilakukan untuk pengajuan pendanaan bagi revitalisasi bangunan, pihak Donggala Heritage dalam hal ini Zulkifly Pagessa telah melakukan inventarisasi dan lendokumentasian kembali bangunan potensi cagar budaya pascabencana gempabumi. (JAMRIN AB)