Wali Kota: Tidak Benar Petobo akan Dihilangkan

oleh
Salah satu rumah warga Kelurahan Petobo yang masih tersisa akibat dampak likuifaksi 28 September 2018. (FOTO: ANT/MUHAMMAD HAJIJI)

PALU – Wali Kota Palu, Hidayat dengan tegas membantah bahwa dirinya akan menghilangkan Kelurahan Petobo karena telah hancur akibat bencana likuifaksi pada 28 September 2018 lalu.

“Itu tidak benar,” katanya kepada MAL, Jumat (17/01), menepis pemberitaan bahwa dirinya kemungkinan besar akan menghilangkan kelurahan tersebut.

Justru, kata dia, dirinya berkeinginan agar masyarakat tetap tinggal di wilayah Petobo dengan cara meminta batas wilayah dengan Sigi agar ditambah.

“Namun tanah itu juga sudah banyak yang bersertifikat dan diperjualbelikan,” terangnya.

Solusinya, kata dia, jika masyarakat yang memiliki tanah di Petobo dan bersedia dibangunkan hunian tetap (huntap), maka pemerintah akan membangunkannya.

Diwartakan sebelumnya, Hidayat menyatakan bahwa Kelurahan Petobo kemungkinan besar akan dihilangkan.

“Karena memang warganya sudah tidak ada (tinggal di sana) dan akan direlokasi ke kawasan huntap,” katanya.

Sebagaimana yang dilansir dari antaranews.com, pernyataan itu disampaikan dalam rapat evaluasi percepatan pembangunan huntap di Kota Palu dan Kabupaten Sigi, di Aula Merah Putih, Makorem 132/Tadulako di Palu, Rabu (15/01).

Menurutnya, wilayah Kelurahan Petobo sudah tidak layak menjadi kawasan permukiman, meski sejumlah lokasi di kelurahan tersebut tidak terkena likuifaksi.

Apalagi, pemerintah pusat melalui kementerian dan lembaga terkait serta pemerintah daerah terdampak bencana 2018 di Sulteng telah menetapkan Kelurahan Petobo sebagai zona merah likuefaksi sehingga tidak boleh ditinggali.

“Saat ini kami juga sudah memerintahkan camat dan lurah untuk mendata siapa saja warga yang berdomisili di Petobo yang ingin pindah ke huntap atau tetap dibangunkan rumah di atas tanahnya di sana. Ini sudah model huntap insitu,” ujarnya.

Ia mengaku tidak bisa memaksa pindah segelintir orang yang bersikeras tetap ingin tinggal di atas tanah miliknya. Meski begitu, pihaknya sudah memberikan imbauan dan peringatan kepada mereka.

“Sudah Ada 55 jiwa yang ingin dibangunkan huntap insitu,” ucapnya. (RIFAY/HAMID)