AMPANA, MAL – Sekretaris Jenderal Pengurus Besar (PB) Alkhairaat, Jamaludin Mariajang, mengatakan Kabupaten Tojo Una-Una (Touna) memiliki sejarah penting dalam perkembangan kelembagaan Alkhairaat. Sejumlah momentum bersejarah hingga pengembangan program ekonomi dan pendidikan Alkhairaat memiliki keterkaitan erat dengan daerah tersebut.
Jamaludin menjelaskan, salah satu tonggak sejarah itu adalah pelaksanaan Muktamar Alkhairaat II pada 1963 di Ampana. Muktamar yang digelar di luar Kota Palu tersebut menghasilkan rancangan yang kemudian menjadi pedoman bagi perjalanan Alkhairaat.
“Di Kabupaten Tojo Una-Una menandai sebuah arah baru dalam perkembangan Alkhairaat yang diletakkan oleh Guru Tua kala itu. Jadi, sejarah ini memiliki catatan tersendiri,” terangnya.
Selain dalam perkembangan kelembagaan, Touna juga menjadi daerah awal pengembangan sektor agribisnis Alkhairaat. Hal itu ditandai dengan penanaman perdana pisang Cavendish yang dilakukan Ketua Utama Alkhairaat, Habib Sayid Alwi bin Saggaf Aljufri, di daerah tersebut.
Menurut Jamaludin, program pisang Cavendish menjadi salah satu pintu masuk bagi pengembangan ekonomi di lingkungan Alkhairaat. Penanaman pisang itu juga telah dilakukan di sejumlah daerah pada lahan milik organisasi tersebut.
“Touna yang mengawali program penanaman pisang Cavendish. Di lahan Ponpes Bantuga nanti kita akan saksikan, semoga semua berjalan sesuai dengan harapan,” ujarnya.
Ia mengatakan, apabila program tersebut berjalan sesuai prosedur dan didukung penerapan teknologi yang tepat, hasilnya diharapkan mulai terlihat pada tahun depan. Program ini menjadi langkah awal untuk membangun kegiatan ekonomi produktif di lingkungan Alkhairaat.
Momentum berikutnya adalah penyelenggaraan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) tingkat Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Alkhairaat oleh Komisariat Daerah (Komda) Alkhairaat Touna. Kegiatan tersebut menjadi yang pertama kali digelar di Ampana.
Jamaludin menilai penyelenggaraan Porseni yang menyasar siswa MDA merupakan langkah penting dalam pengembangan pendidikan Alkhairaat. Menurutnya, kegiatan olahraga dan seni selama ini lebih sering dikenal di tingkat sekolah dasar atau jenjang pendidikan sederajat.
“Ini sungguh luar biasa. Sasaran Porseni dilakukan adalah MDA, yang selama ini kita biasa dengar tingkat sekolah dasar maupun setingkatnya. Mungkin secara nasional dalam kelembagaan Alkhairaat, Porseni MDA Alkhairaat ini baru Touna yang melakukan,” ungkapnya.
Ia menegaskan, MDA merupakan salah satu fondasi utama amanah pendidikan yang diwariskan Habib Idrus bin Salim Aljufri atau Guru Tua. Lembaga pendidikan tersebut menjadi warisan yang harus dijaga dan terus dikembangkan.
Guru Tua mengembangkan misi pendidikan Islam yang kemudian meluas ke berbagai daerah di Indonesia. Saat ini, menurut Jamaludin, jumlah MDA Alkhairaat di Indonesia telah mencapai hampir 1.700 lembaga.
“Guru Tua itu sudah mempunyai pandangan ke depan terkait kebangsaan dan kenegaraan, dengan memberikan dasar penting dalam pendidikan pada usia ini, yang mana anak-anak harus mendapat ilmu pengetahuan di Madrasah Diniyah Awaliyah,” katanya.
Ia menambahkan, pendidikan di MDA tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan agama, tetapi juga membentuk karakter, kepribadian, akhlak, dan kesadaran kebangsaan sebagai bekal generasi mendatang.
“Semua itu tidak lain untuk membentuk karakter, kepribadian, akhlak, kebangsaan, dan mempersiapkan diri supaya generasi yang cerdas di masa depan,” tutupnya.
