Tiga Rumah Dilahap “Jago Merah” di Perdos Untad

oleh -
Suasana pascakebakaran di Perumahan Dosen Untad, Kelurahan Tondo, Kota Palu, Selasa (2/1) dini hari. (FOTO: Dok. Polres Palu)

PALU – Kompleks Perumahan Dosen (Perdos) Universitas Tadulako, Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, sekitar pukul 03.40 Wita, kembali dilahap “Jago Merah” yang menghanguskan tiga rumah, Selasa (2/1) dini hari.

Kebakaran itu menghanguskan rumah milik Najamudin (52), Yanti (35) dan Kadir Palaloa (57). Selain itu, ikut terbakar satu unit mobil dan dua unit motor milik Najamudin.

Saksi NA (22) yang melihat kejadian itu menceritakan sumber api berasal dari mobil milik yang saat itu sedang terparkir di depan rumah Najamudin. NA sendiri, saat itu berada dalam rumah Yanti.

NA berupaya membangunkan pemilik rumah. Karena api sudah membesar, akhirnya merembet ke atap garasi mobil bagian depan rumah Najamudin.

Sekitar pukul 04.30 Wita, empat unit mobil pemadan kebakaran Pemkot Palu datang untuk memadamkan kebakaran itu, dan api berhasil dipadamkan sekitar pukul 05.30 Wita..

“Penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan,” ungkap Kapolres Palu AKBP Mujianto, dihubungi Selasa.

Mujianto mengimbau dan mengingatkan masyarakat kota Palu, agar lebih waspada lagi terkait adanya kasus kebakaran ini.  Kapolres berharap masyarakat dapat menjaga, memelihara serta selalu waspada dari bencana kebakaran, seperti jaringan listrik rumah untuk mencegah  hubungan arus pendek, regulator kompor gas serta jangan membakar sampah sembarangan.

Sehari sebelumnya, Senin (1/1), kebakaran rumah juga terjadi di Jalan Sulawesi Lorong Unauna, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, sekitar pukul 14.10 Wita.

Sebanyak empat rumah terbakar, masing-masing milik warga berinisial BD (40), HD (54), JW (70), dan NF (70).

Selama 2017 ini, Kota Palu tercatat sudah mengalami bencana kebakaran selama 21 kali. Sejauh ini, Dinas Sosial setempat telah menyalurkan bantuan tanggap darurat korban bencana sosial kepada 51 KK dan 115 jiwa. (FAUZI)

Tentang Penulis: Fauzi Lamboka

Gambar Gravatar
Profesi sebagai jurnalis harus siap mewakafkan diri untuk kepentingan publik. Menulis merupakan kebiasaan yang terus diasah. Namun, menulis bukan sekadar memindahkan ucapan lisan ke bentuk tulisan. Tetapi lebih dari itu, mengabungkan logika (akal), hati (perasaan) untuk medapatkan rasa, yang bisa diingat kembali di hari esok.