Ramadhan adalah salah satu dari lima pilar yang dijadikan oleh Allah sebagai pondasi syariat Islam. Ia memiliki fungsi yang sangat vital dalam membentuk kepribadian seorang muslim. Ramadhan menjadi semacam madrasah bagi umat Islam untuk mendidik pribadi mereka.

Ramadhan menjadi mulia karena didalamnya ada kewajiban berpuasa. Inilah menjadi pembeda bulan Ramadhan dengan bulan lainnya.

Ibadah puasa tentu berbeda dengan ibadah lainnya. Sebab puasa sifatnya sangat rahasia. Tidak ada yang mengetahui kelangsungan puasa seseorang, kecuali pelakunya dan Allah SWT. Meski ikut makan sahur dan buka puasa bersama kita, bukan jaminan bahwa dia telah berpuasa seharian. Bisa saja di waktu siang bolong dia makan tanpa sepengetahuan orang.

Makanya, puasa dikatakan amanah. Sebuah amanah haruslah dilangsungkan dan dikerjakan. Pemberian amanah puasa ini tentu bukan tanpa maksud. Ada banyak hikmah dan rahasia di dalamnya.

Tidak semua orang mengerti tujuan dari ibadah puasa. Makanya, tak heran bila ada yang puasa, tetapi dia tidak mengerti dan menerima dampak positif dari ibadah yang dilakukan.

Oleh sebab itu, Imam Al-Ghazali dalam karyanya Ihya Ulumuddin membagi tiga tingkatan puasa. Beliau mengatakan, “Ketahuilah bahwa puasa ada tiga tingkatan: puasa umum, puasa khusus, dan puasa paling khusus.”

Puasa umum ialah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat. Ada orang puasa hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum saja, tetapi perbuatan maksiat tetap dilakukannya. Inilah puasa orang awam.

Pada umumnya, mereka mendefenisikan puasa sebatas menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa secara dzahir.

Puasa khusus ialah menahan telinga, pendengaran, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa. Ini puasanya orang-orang saleh. Mereka lebih maju dibandingkan orang awam.

Sebab mereka paham bahwa puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari melakukan dosa. Percuma berpuasa, bila masih terus melakukan maksiat. Karenanya, kelompok ini menilai maksiat menjadi pembatal puasa.

Sementara puasa paling khusus adalah menahan hati agar tidak mendekati kehinaan, memikirkan dunia, dan memikirkan selain Allah SWT. Untuk puasa yang ketiga ini disebut batal bila terlintas dalam hati pikiran selain Allah SWT dan hari akhir.

Puasa model ini hanya dikerjakan oleh orang-orang tertentu. Hanya sedikit orang yang sampai pada puasa tahap ini. Pasalnya, selain menahan lapar dan haus dan menahan diri untuk tidak bermaksiat.

Mereka juga memfokuskan pikirannya untuk selalu mengingat Allah SWT. Bahkan, pikiran selain Allah SWT dan pikiran terhadap dunia dianggap merusak dan membatalkan puasa.

Dari jenis tingkatan ini, kita mengetahui bahwa ibadah puasa merupakan kesempatan terbesar untuk melatih diri kita supaya lebih baik dari sebelumnya. Semoga puasa kita tidak bersifat formalitas, tetapi juga bermanfaat dan berdampak positif. Wallahu a’lam

DARLIS MUHAMMAD (REDAKTUR SENIOR MEDIA ALKHAIRAAT)