Sigi Raih Penghargaan Wisata Terbaik Klaster Kabupaten Tertinggal

oleh
Kepala BP3D Kabupaten Sigi, Sutopo Sapto menerima menerima dana insentif daerah senilai Rp3 miliar atas prestasi menjadi wisata terbaik klaster kabupaten tertinggal pada ajang lomba Inovasi Daerah Tatanan Normal Baru, Produktif dan Aman Covid-19, di Gedung Sasana Bhakti Praja, Jakarta, Senin (22/06). (FOTO: IST)

JAKARTA – Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melaksanakan lomba Inovasi Daerah Tatanan Normal Baru, Produktif dan Aman Covid-19. Lomba ini terbagi dalam tujuh sector, yaitu pasar tradisional, pasar modern, hotel, restoran, tempat wisata, transportasi umum, serta sektor tempat pelayanan terpadu satu pintu.

Ketujuh sektor ini dilombakan untuk empat klaster daerah, yakni klaster provinsi, kabupaten, kota, dan kabupaten tertinggal.

Hasil lomba telah diumumkan di Gedung Sasana Bhakti Praja, Jakarta, Senin (22/06), dibuka Wakil Presiden K.H. Ma’ruf Amin melalui Zoom dan dihadiri Mendagri Tito Karnavian.

Di ajang tersebut, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah berhasil menjadi pemenang pertama pada sektor tempat wisata, klaster kabupetan tertinggal.

Penghargaan ini diterima oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP3D) Kabupaten Sigi, Sutopo Sapto Condro yang sekaligus menerima dana insentif daerah senilai Rp3 miliar.

Penilaian penghargaan itu melalui video inovasi tatanan new normal Kabupaten Sigi digagas oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sigi, yang mengambil tempat di lokasi wisata olahraga Dirgantara Paralayang, Desa Matantimali, Kecamatan Marawola Barat.

Dalam sambutannya, Mendagri, Muhammad Tito Karnavian, mengatakan, berbagai ahli kesehatan, baik nasional maupun internasional menyampaikan bahwa pandemi Covid-19 ini tidak berakhir dengan segera.

Oleh karena itu, kata dia, dunia beradaptasi dengan pandemi ini dan melakukan upaya inovasi dengan tatanan baru yang oleh Presiden Joko Widodo disebut dengan istilah tatanan kehidupan baru yang produktif, aman Covid-19.

“Sebagai sesuatu yang baru, tatanan ini memerlukan pengenalan atau pra kondisi agar seluruh masyarakat siap dan mampu beradaptasi. Pra kondisi ini dilakukan dengan protokol kesehatan dalam berbagai sektor kesehatan dengan simulasi-simulasi,” kata Mendagri.

Dia menambahkan, upaya pra kondisi tersebut diinisiasi oleh pemerintah pusat melalui kementerian/lembaga, juga oleh Pemda di semua tingkatan.

“Tujuannya agar terjadi gerakan nasional kebersamaan menuju tatanan baru tersebut,” katanya. (HADY)

Iklan-Paramitha