JAKARTA, MAL — Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan hebat hingga membuat nilai tukar Rupiah tembus Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (28/10).

Kondisi pelemahan ini memicu lonjakan konversi simpanan masyarakat dari rupiah ke mata uang dolar AS yang meningkat signifikan hingga 20 persen di sektor perbankan.

Berdasarkan data perdagangan pasar spot Rabu pagi, mata uang Garuda dibuka melemah 18 poin atau 0,10 persen ke posisi Rp18.174 per dolar AS. Tren penurunan ini melanjutkan koreksi pada penutupan Selasa (27/10) yang berada di level Rp18.156, seiring dengan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global menjelang rapat kebijakan Federal Reserve.

“Rupiah hari ini melemah, dipengaruhi oleh domestik tekanan di pasar saham dan obligasi, dan peningkatan konversi simpanan ke valas di perbankan,” kata Rully Nova, Analis Bank Woori Saudara.

Kenaikan simpanan valas yang mencapai angka 20 persen tersebut mengindikasikan kuatnya preferensi masyarakat untuk memegang dolar AS sebagai langkah antisipasi. Namun, fenomena ini berisiko memicu kelangkaan likuiditas dolar AS di pasar domestik yang dapat memperparah stabilitas nilai tukar dalam jangka pendek.

Tekanan eksternal juga datang dari tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury tenor 10 tahun yang kini mendekati level 5 persen. Kondisi tersebut diperburuk oleh ekspektasi pasar bahwa The Fed akan tetap mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama guna menekan inflasi di Amerika Serikat.

“Dolar AS masih kuat menjelang keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) pada 27–28 Oktober 2026,” kata Sutopo Widodo, Presiden Komisaris HFX International Berjangka.

Para analis memproyeksikan pergerakan nilai tukar masih akan bergerak sangat fluktuatif sepanjang hari ini. Keputusan akhir dari rapat The Fed pada Rabu malam waktu setempat akan menjadi penentu utama apakah tekanan terhadap Rupiah tembus Rp18.100 ini akan berlanjut atau justru mulai mereda.

“Rupiah hari ini diperkirakan bergerak fluktuatif namun rentan melemah di kisaran Rp18.150–Rp18.200 per dolar AS,” kata Ibrahim Assuaibi, Ekonom Trisakti School of Management.