PALU – Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah, Prof. KH. Zainal Abidin, menekankan pentingnya penghormatan terhadap sesama manusia dalam perayaan Cap Go Meh dan buka puasa bersama yang digelar Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sulawesi Tengah, Selasa (3/3) sore, di Milenium Water Park, Palu.
Dalam sambutannya, Prof. Zainal Abidin menegaskan bahwa seluruh umat manusia, apa pun agama, suku, dan latar belakangnya, adalah ciptaan Tuhan yang harus dimuliakan.
“Mari kita melihat seseorang bukan dari agamanya, bukan dari sukunya, bukan dari bahasanya. Selama dia manusia ciptaan Tuhan, dia harus dihormati dan diberkati,” ujarnya.
Ia mengutip ajaran tentang kemuliaan Bani Adam sebagai landasan pentingnya membangun sikap saling menghargai di tengah keberagaman. Menurutnya, nilai tersebut harus diwujudkan dalam praktik kehidupan sosial sehari-hari.
Pada kesempatan itu, ia juga menyinggung makna Cap Go Meh sebagai perayaan malam ke-15 setelah Tahun Baru Imlek. Ia menyebutkan, perayaan Cap Go Meh di Singkawang selama ini sangat terkenal dan berharap ke depan perayaan serupa di Palu dapat digelar lebih meriah.
“Insya Allah tahun depan kita buat lebih meriah. Kenapa kita harus kalah? Kita juga punya kebersamaan dan semangat yang sama,” katanya.
Prof. Zainal Abidin juga menjelaskan bahwa ibadah puasa harus berdampak pada peningkatan akhlak dan kepedulian sosial. Ia menjelaskan, dalam ajaran Islam, orang yang tidak berpuasa karena alasan tertentu diwajibkan membayar fidyah yang diberikan kepada fakir miskin.
“Apa artinya? Boleh tidak berpuasa, tapi jangan lupa kepada orang miskin. Puasa harus berdampak pada akhlak dan harmoni sosial. Kalau tidak berdampak dalam kehidupan sosial, artinya puasa kita kurang bermakna,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi penampilan anak-anak dari Rumah Merah Putih yang turut memeriahkan acara. Menurutnya, kehadiran dan kreativitas mereka menjadi pengingat bahwa setiap manusia, termasuk yang memiliki keterbatasan fisik, tetap memiliki potensi dan layak mendapatkan perhatian.
“Kalau ibadah yang kita lakukan, baik di gereja, pura, kelenteng, maupun masjid, tidak berdampak kepada kehidupan orang lain, maka ibadah itu tidak membawa manfaat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sulawesi Tengah, Wijaya Chandra, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya rangkaian perayaan Cap Go Meh yang berlangsung penuh kebersamaan.
Ia mengatakan, keberhasilan acara tersebut tidak lepas dari adanya kepercayaan dan semangat berbagi antarwarga.
“Kita bisa berbagi rasa bersama, bersilaturahmi bersama, saling mendukung. Kota Palu ini indah, dan hari ini alam pun seperti mendukung acara kita,” katanya.
Wijaya juga mengapresiasi kehadiran berbagai tokoh agama, tokoh etnis, serta para undangan yang turut memeriahkan acara tersebut. Ia menilai momen Cap Go Meh dan buka puasa bersama menjadi simbol cahaya yang menerangi kebersamaan dalam keberagaman.
“Semoga kebersamaan ini terus terjaga, kita semua diberi kesehatan, dan bagi saudara-saudara yang sedang menjalankan ibadah puasa dapat menyelesaikannya hingga Hari Raya dengan penuh keberkahan,” tandasnya.

