Oleh: Ir. Muh. Adam, MM., M.Si.
Resonansi Guru Tua, Habib Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri, kembali menggema dari Asrama Haji Transit Palu, 3–4 November 2026. Kita menyaksikan sebuah lompatan besar: PKDA Angkatan Pertama oleh Majelis Organisasi bukan sekadar pelatihan kader, tetapi perumusan visi besar PB Alkhairaat: ALKHAIRAAT UNGGUL DAN BERDAYA SAING.
Selama ini banyak yang mengira Alkhairaat hanya soal madrasah tradisional dan haul. Padahal, visi resmi PB Alkhairaat periode ini adalah: Mewujudkan Alkhairaat yang Unggul dan Berdaya Saing dalam Pendidikan, Dakwah, dan Usaha Sosial serta Ekonomi Produktif untuk Kemajuan Umat dan Kejayaan Indonesia.
1. UNGGUL dalam Pendidikan (At-Tafawwuq fi Al-‘Ilmi)
Guru Tua berkata: “Jadilah kamu orang alim, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mendengarkan ilmu, atau orang yang mencintai ilmu. Dan janganlah kamu jadi orang kelima, maka kamu akan celaka.”
Unggul bukan berarti gedung mewah. Unggul menurut Guru Tua adalah iman yang kokoh, ilmu yang luas, dan amal yang ikhlas.
Pendidikan Alkhairaat dari TK hingga Universitas Alkhairaat (UNISA) harus mampu bersaing secara akademik nasional, tetapi tetap berakar pada kitab kuning dan sanad Ba’alawy. Di era digital, unggul artinya santri Alkhairaat tidak hanya hafal Alfiyah, tetapi juga mampu mengelola usaha ekonomi produktif, termasuk di sektor pertanian.
2. BERDAYA SAING dalam Dakwah (Al-Munafasah fi Ash-Shalah)
Guru Tua berdakwah tanpa pernah menyakiti. Beliau mengakulturasi adat Nosarara (persaudaraan) menjadi kekuatan dakwah. Itulah daya saing!
Berdaya saing dalam Manhaj Aswaja Alkhairaat artinya: At-Targhib bukan At-Tarhib. Dakwah yang membawa kabar gembira, bukan menakut-nakuti. Wasathiyah, moderat, dan toleran. Dakwah Alkhairaat yang berdaya saing adalah dakwah yang membangun, bukan memecah.
3. UNGGUL DAN BERDAYA SAING untuk Kemajuan Umat dan Kejayaan Indonesia
Sebagaimana subtema PKDA: “Untuk Kemajuan Umat dan Kejayaan Indonesia.”
Ini adalah tafsir modern dari Hubbul Wathan Minal Iman, ajaran Guru Tua. Ketika PRRI/Permesta bergolak, Alkhairaat tetap setia pada Merah Putih. Visi unggul hari ini artinya Alkhairaat tidak boleh hanya menjadi penonton pembangunan. 20 juta Abnaul Khairaat harus menjadi pemain utama. Semua harus unggul pada bidangnya masing-masing dan produktif.
Pemadatan materi selama dua hari di Asrama Haji Palu ini adalah laboratoriumnya. Berkhidmat Tanpa Batas untuk Alkhairaat yang menjadi tema utama adalah metode untuk mencapai visi unggul itu. Khidmat tanpa batas artinya tidak ada kata pensiun menjadi Abnaul Khairaat. Sebagaimana ditegaskan Ketua Utama Alkhairaat: Semua harus satu komando: Alkhairaat Unggul dan Berdaya Saing.
4. UNGGUL dalam Membangun Ekonomi Umat dan Lembaga (At-Tafawwuq fi Al-Iqtishad)
Inilah yang sering terlupa: Guru Tua bukan hanya ulama, tetapi juga pedagang dan petani. Beliau mengajarkan Al-Yadul ‘Ulya Khairun Min Al-Yadis Sufla. Tangan di atas lebih baik. Ekonomi yang unggul adalah dakwah yang paling nyata.
Dari Konsumen Menjadi Produsen: Selama ini 20 juta Abnaul Khairaat adalah pasar. Visi unggul membalik logika: kita harus menjadi produsen, bukan konsumen.
Ekonomi Berkah, Bukan Sekadar Laba: Guru Tua berpesan, “Harta yang berkah adalah harta yang mengalir.” Jika ekonomi umat unggul, maka Alkhairaat akan berdikari. Kemandirian ekonomi itulah puncak dari Fastabiqul Khairaat.
Di akhir kegiatan, 60 orang peserta PKDA mendapat pesan: Semoga niat, pengorbanan waktu dan pikiran yang disumbangsihkan demi perjuangan, langkah dan majunya lembaga yang kita cintai bersama, rumah besar kita yakni Alkhairaat, insya Allah mendapatkan bimbingan dan pertolongan dalam menjalankan amanah, serta menjadi khazanah amal yang diterima di sisi Allah SWT.
Selanjutnya, mereka dibaiat oleh Ketua Utama Alkhairaat.
Penulis: Wakil Sekjen PBA Bidang Lingkungan Hidup dan Kebencanaan.
