JAKARTA, MAL – Serangan siber menyasar kulkas dan freezer di sejumlah supermarket di tujuh negara Eropa. Peretasan tersebut menyebabkan sistem pendingin mengalami gangguan hingga suhu penyimpanan makanan dilaporkan meningkat drastis, bahkan mencapai 50 derajat Celsius.

Serangan yang terjadi Senin (2/11/2026) itu dilaporkan berlangsung di Swedia, Swiss, Irlandia, Belanda, Belgia, Luksemburg, dan Estonia. Di Belgia, misalnya, sistem evaporator pada sejumlah kulkas dan freezer dialihkan ke mode pencairan es atau defrost.

Motif serangan tersebut hingga kini belum diketahui. Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab maupun penjelasan mengenai keuntungan yang ingin diperoleh para peretas.

Namun, pakar keamanan siber menilai serangan semacam ini berpotensi menjadi bagian dari sabotase politik yang bertujuan menciptakan ketidakstabilan dan ketakutan di tengah masyarakat.

Dilansir dari The Guardian, Gérôme Billois, mitra di perusahaan keamanan siber dan teknologi Wavestone, mengatakan terdapat dua kemungkinan pelaku di balik serangan tersebut.

Pertama, kelompok anak muda atau aktivis yang ingin membuktikan kemampuan mereka dengan merusak sejumlah perangkat pendingin. Kedua, aktor negara yang melakukan sabotase untuk menciptakan ketidakstabilan, baik dari dalam maupun luar negeri.

Billois menilai pola serangan tersebut memiliki kemiripan dengan insiden yang terjadi di Prancis pada Oktober 2026. Saat itu, ratusan toko dilaporkan menjadi sasaran peretasan sistem pendingin.

Menurut dia, serangan semacam ini dapat dirancang untuk menyampaikan pesan bahwa masyarakat tidak aman, pemerintah tidak mampu mengendalikan keadaan, serta menumbuhkan ketakutan.

Ia juga menyebut Iran dan Rusia sebagai dua aktor internasional yang dikenal pernah melakukan operasi siber dengan karakteristik serupa. Meski demikian, belum ada bukti yang mengonfirmasi keterlibatan kedua negara dalam serangan terbaru tersebut.

Dampak serangan tidak hanya mengganggu operasional supermarket, tetapi juga memaksa sejumlah peritel membuang makanan yang tidak lagi dapat dijamin kualitas penyimpanannya.

Dilansir dari CBS News, insiden ini turut memunculkan kekhawatiran mengenai ketahanan pangan, terutama ketika sejumlah negara Eropa sedang mendorong masyarakat mempersiapkan persediaan kebutuhan pokok untuk menghadapi situasi darurat.

Jerman dan Swedia, misalnya, telah mengeluarkan panduan kesiapsiagaan untuk menghadapi krisis selama 10 hari. Persediaan yang dianjurkan mencakup makanan, air, kebutuhan medis, hingga perlengkapan kebersihan.

Sementara itu, Prancis mengimbau warganya menyiapkan persediaan kebutuhan pokok untuk sedikitnya 72 jam.

Di Inggris, pemerintah menjalankan kampanye Be Ready untuk meningkatkan kesiapsiagaan rumah tangga menghadapi berbagai keadaan darurat, termasuk gangguan infrastruktur dan serangan siber.

Warga dianjurkan menyimpan makanan, air, tisu toilet, salinan dokumen penting seperti paspor, serta uang tunai. Persiapan tersebut diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan terganggunya layanan perbankan dan sistem pembayaran digital.

Pemerintah Inggris juga menyarankan masyarakat memiliki radio FM bertenaga baterai dan power bank agar tetap bisa mengakses informasi ketika pasokan listrik maupun jaringan internet terganggu.**