Peneliti: Permukaan Tanah Teluk Palu Turun 43 Ha

oleh -
Peneliti Untad, Abdullah saat memaparkan materinya, pada Forum Warga Membaca Bencana #5, pecan lalu. (FOTO: MAL/IKRAM)

PALU – Peneliti Kebencanaan Universitas Tadulako (Untad), Abdullah, MT, menyatakan, Teluk Palu mengalami down lift sekitar 43 hektar, baik di laut maupun darat, pasca diguncang gempa bumi tanggal 28 September lalu.

Down lift merupakan penurunan permukaan tanah secara vertical akibat gempa.

“Lokasi Teluk Palu teridentifikasi down lift sekitar 43 Ha, belum termasuk di Lombonga dan Walandano,” ungkap Abdullah saat memaparkan hasil penelitiannya melalui Forum Warga Membaca Bencana #5, di Rumah Peduli SKP- HAM, Jalan Basuki Rahmat, Kelurahan Tatura Selatan, Kecamatan Palu Selatan, Sabtu (08/12) malam.

Abdullah mengatakan, warga harus memahami karateristik Teluk Palu, di mana dalam 24 jam terjadi dua kali pasang dan dua kali surut, masing-masing dalam waktu enam jam.

“Hal ini penting diketahui, jangan sampai surut saat gempa, lalu teriak tsunami. Padahal itu surut harian,” jelasnya.

Menurutnya, perbedaan surut harian dan surut menjelang tsunami, adalah waktunya. Di mana surut harian memakan waktu lama, sementara tsunami cepat.

Abdullah juga menyinggung keberadaan sesar Palu-Koro yang menjadi penyebab terjadinya gempa bumi di Palu dan sekitarnya. Kata dia, sesar Palu-Koro pertama kali teridentifasi oleh peneliti Belanda bernama Fossa Sarasina.

Dia menguraikan, sesar Palu-Koro, memanjang hamper dari utara ke selatan, di ujung pertemuan air laut Sulawesi dengan Selat Makasar. Dari Selatan melalui Selat Makasar, wilayah pesisir Teluk Palu, Lembah Palu, Lembah Koro, terus ke bagian utara Teluk Bone.

Khusus di Lembah Palu, kata dia, sesarnya berbentuk graben, dengan lebar bagian utara Kota Palu sekitar 7 kilometer, arah Selatan Bangga 4 kilometer, lalu ke Selatan menyatu di sekitar Kulawi sampai Teluk Bone.

“Data tahun 1981, kecepatan pergeseran sesar Palu Koro adalah 14 sampai 17 milimeter per tahun. 20 tahun kemudian meningkat menjadi 35 milimeter per tahun,” ungkapnya.

Dia menyampaikan kepada masyarakat, bahwa semua mata air panas, baik di Tambu, Mapane, Lompio, Ombo Masaingi, Bora, Mantikole, Poi, Pulu, dan Kulawi, tidak ada hubungannya dengan gunung api.

Sebagian air panas itu muncul akibat pengaruh topografi wilayah dan adanya pergerakan sesar Palu Koro, serta adanya pemanasan dari magma.

“Kebetulan mata air panas yang ada saat ini sekaligus manifestasi eksistensi Palu Koro,” terangnya.

Khusus di Pulau Sulawesi, kata dia, ada tiga macam pusat gempa, yakni pusat zona divergen antar Pulau Sulawesi dan Pulau Kalimantan dengan magnitodo 2 sampai 3 SR.

Kemudian, pusat zona konvergen atau zona subduksi di bagian utara Pulau Sulawesi, bagian timur Teluk Tomini, kemudian bagian timur Morowali sampai Kendari, dengan magnitude bisa mencapai 8 SR.

“Lalu pusat gempa berikutnya adalah sesar. Di Pulau Sulawesi ada sesar Palu Koro, sesar gorontalo, sesar Sadang, sesar Walanae dan sesar Matano,” imbuhnya.

Tim Peneliti Palu-Koro, Neni Muhidin, menyandingkan kejadian gempa terjadi di Selandia Baru  dengan kekuatan gempa bermagnitudo besar seperti Aceh dan Palu.

Di mana, kàta dia, korban jiwa, kerusakan dan kerugian ditimbulkan di Selandia Baru lebih minim dibandingkan dengan yang terjadi di daerah di Indonesia tersebut.

“Sebab mitigasi bencana di negara tersebut berjalan baik. Untuk itu kami meminta kepada pemerintah agar tidak main-main dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) serta memastikan agar mitigasi bencana berjalan dengan baik,” tutup Neni. (IKRAM)