Pemda Sigi Diminta Perhatikan Pendidikan di Dususn Ngata Papu, Balumpeva

oleh -
Anak-anak di Dusun Ngata Papu, Desa Balumpeva, belajar di alam terbuka. (FOTO: IST)

SIGI – Ketua Komunitas Banua Pangajari Desa Kotarindau Kecamatan Dolo Kabupaten Sigi Selfina, dalam momen hari anak nasional tahun ini, meminta kepada Pemerintah Daerah (Pemda) setempat agar memerhatikan kondisi pendidikan anak-anak di Desa Balumpeva, Dusun Ngata Papu, Kecamatan Dolo Barat.

Dia mengatakan, hak anak-anak harusnya mendapatkan pendidikan yang layak. Selain itu, pihaknya juga prihatin masih banyak pendidikan yang belum merata dan layak di pelosok Kabupaten Sigi.

“Hak anak itu mendapatkan pendidikan yang layak, seperti yang sekarang ini kita perjuangkan di Ngata Papu. Kita menginginkan bahwa pendidikan di Ngata Papu harus sama dengan anak-anak yang di dataran Sigi.

“Mutunya juga harus sama, saya tahu sebenarnya pendidikan di Sigi anjlok di urutan terakhir dari data LPMP mutu pendidikan berada peringkat ke 13,”  kata Sefilana, Ahad (23/7) sore.

Ia mengatakan, komunitas yang konsen terhadap pendidikan itu tetap akan berupaya dan menuntut perhatian pemerintah agar anak-anak bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Baginya saat ini, kondisi pendidikan di Ngata Papu miris, karena kualitas guru yang mengajar hanya berijazah SLTP.

“Tapi sekarang ini Banua Pangajari tetap bergerak,tidak berfikir apapun itu yang kita mau adalah pendidikan itu harus merata, sampai ke tempat-tempat terpencil sekalipun, pendidikan itu harus sama. Ngata Papu itu tidak memiliki gedung sekolah, kita mengunakan konsep alamnya, anak-anak bisa belajar dimana pun,” tambahnya.

Cepy sapaan akrabnya menambahkan, anak-anak itu tidak bisa dipaksakan mengikuti kurikulum  yang berlaku, karena  pemahaman anak-anak jauh di atas gunung itu, sangat berbeda dengan anak di dataran. Bahkan relawan yang mengajar itu mengunakan bahasa lokal yakni kaili inde, supaya mereka mudah mengerti apa yang dijelaskan para relawan.

“Alhamdulilah juga itu tercapai. Karena anak relawan disana selama seminggu Alhamdulillah bisa membaca walapun masih mengeja, karena di sana itu kelas satu sampai kelas empat. Malah di kelas tiga itu ada umur 15 tahun belum bisa membaca,” ujarnya.

Dia juga berpesan dalam momen hari anak Nasional tahun ini, agar anak-anak dusun itu dan anak kurang beruntung lainya tetap memiliki semangat, terus belajar dan jangan pernah berkecil hati.  (NANANG IP)