WASHINGTON, MAL — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui perang dengan Iran turut berkontribusi terhadap kekalahan Partai Republik dalam pemilu sela AS. Ironisnya, salah satu tujuan serangan tersebut adalah menggulingkan pemerintahan Iran, tetapi dampak politiknya justru ikut mengguncang posisi Trump di dalam negeri.
Meski penghitungan suara masih berlangsung, Partai Demokrat dipastikan menguasai mayoritas kursi di Senat dan House of Representatives (DPR AS).
“Menurut saya, salah satu penyebabnya adalah Iran. Namun, di saat yang sama, masyarakat memahami pentingnya langkah-langkah yang telah saya ambil terkait Iran,” kata Trump dalam wawancara melalui telepon dengan Fox News saat membahas hasil pemilu sela, Selasa (3/11/2026) malam.
Dalam kesempatan itu, Trump juga melontarkan pujian yang jarang ia berikan kepada Partai Demokrat.
“Menurut saya, Partai Demokrat telah bekerja dengan baik. Sungguh. Menurut saya, mereka bekerja dengan baik. Mereka berjuang keras,” ujarnya.
Kemenangan Demokrat menjadi pukulan politik bagi pemerintahan Trump. Penguasaan Kongres oleh partai oposisi berpotensi mempersulit agenda legislatif pemerintahannya sekaligus membuka ruang pengawasan lebih ketat terhadap kebijakan perang Iran.
Situasi tersebut dapat membuat Trump memasuki fase lame duck, istilah politik untuk menggambarkan pemimpin yang pengaruh politiknya melemah, terutama ketika partainya kehilangan kendali atas lembaga legislatif. Namun, Trump tetap memiliki kewenangan sebagai presiden hingga masa jabatannya berakhir.
Berdasarkan hasil penghitungan terakhir, dari 100 kursi Senat, Demokrat telah memenangkan 54 kursi, sedangkan Republik memperoleh 44 kursi. Dua kursi lainnya masih belum dipastikan.
Sementara itu, dari 435 kursi House of Representatives, Demokrat telah menguasai 229 kursi, sedangkan Republik memperoleh 139 kursi. Sejumlah kursi lainnya masih dalam proses penghitungan.
Pemilu sela AS secara luas dipandang sebagai referendum terhadap kepemimpinan Trump. Perang AS terhadap Iran yang dimulai pada akhir Februari 2026 turut memicu gejolak ekonomi di dalam negeri, antara lain kenaikan biaya hidup akibat melambungnya harga minyak.
Konflik tersebut juga memicu ketidakpastian ekonomi. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu beban bagi para kandidat Partai Republik dalam menghadapi pemilih.
Meski perang Iran menjadi sorotan dan menuai kritik publik, Trump tetap membela keputusannya melancarkan serangan. Ia beralasan tindakan militer tersebut diperlukan untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
Pada September 2026, Trump menyatakan tidak menyesali keputusannya berperang melawan Iran, meskipun muncul kekhawatiran konflik tersebut akan berdampak terhadap peluang elektoral Partai Republik. Ia bahkan mengatakan akan mengambil keputusan yang sama jika menghadapi situasi serupa.
Merujuk laporan sejumlah media AS dan Israel, serangan terhadap Iran pada Februari lalu tidak lepas dari dorongan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Netanyahu disebut berhasil membujuk Trump dengan janji bahwa serangan militer akan segera diikuti tumbangnya rezim Ayatullah Ali Khamenei.
Serangan pada hari pertama langsung menewaskan Ali Khamenei, sejumlah anggota keluarganya, serta para jenderal penting Iran. Ribuan warga sipil juga dilaporkan menjadi korban.
Namun, kematian Khamenei tidak diikuti kejatuhan rezim. Kekuasaan tertinggi justru beralih kepada putranya, Mojtaba Khamenei. Iran juga mampu melakukan perlawanan dengan menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah dan memblokade Selat Hormuz.
Alih-alih menyaksikan tumbangnya pemerintahan Iran, Trump kini harus menghadapi konsekuensi politik perang tersebut di dalam negerinya sendiri. Kekalahan Partai Republik membuat ruang gerak pemerintahannya di Kongres semakin terbatas.
