PALU – Dalam rangka Dies Natalis ke-5, Ikatan Pemuda dan Mahasiswa Banggai Laut (IPMBL), menghadirkan semangat Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) melalui Talkshow Kependidikan, di Aula Gedung Inspektorat Palu, Kamis (02/05).
Talkshow yang mengusung tema, “Pau Lipu doi Tano Baseleonan (Anak Banggai di Tanah Rantau) itu dihadiri seluruh mahasiswa Balut angkatan 2018 dan calon mahasiswa baru tahun 2019.
Kegiatan itu sendiri bertujuan sebagai refleksi perjalanan mahasiswa dan alumni yang berasal dari Balut selama di rantau. Selain itu juga mengajak peserta untuk berkontribusi dengan segala kemampuan untuk daerah.
“Kegiatan ini memang sifatnya internal supaya kita bisa sama-sama belajar dari perjalanan para senior dan alumni. Karena itu kami menghadirkan pembicara yang telah merasakan asam manis hidup di tanah rantau, tapi tetap mampu menorehkan prestasi baik akademik maupun non akademik, yang secara tidak langsung turut berkontribusi untuk daerah,” jelas Dedy Nofrianto, selaku Ketua Umum IPMBL periode 2019-2020.

Adapun pemateri yang dihadirkan adalah Ikerniaty A. T Sandili (alumni Pengajar Muda Indonesia Mengajar, penerima Beasiswa Bidikmisi, Social Worker, jurnalis, dan Penulis), Zubair Samatan (Presidium Mahasiswa Untad Tahun 2017, Founder Backpaker Literasi, aktivis social dan penulis) dan Farwa Anggraini (mahasiswa Pendidikan Kimia FKIP Untad, Delegasi Untad pada Sea Teacher di Filiphina dan aktivis dakwah).
Ikerniaty Sandili berpesan kepada peserta untuk tidak menjadi katak dalam tempurung saja. Analogi tersebut dimaksudkan agar pemuda Balut tidak hanya jago di kandang, melainkan mampu belajar dan bergerak di mana saja dan memberikan kebaikan pada setiap aktivitas.
“Sebagai anak Banggai, orang Pulo, kita jangan merasa minder. Lantas hanya mau belajar di lingkaran orang-orang Banggai saja. Berlembagalah dan jangan membatasi diri. Tetapi pilih lembaga boleh lebih dari satu namun mampu untuk saling mendukung sehingga antara prestasi akademik dan non akademik bisa beriringan,” katanya.
Sementara Zubair Samatan, mengatakan, prestasi itu adalah ketika seseorang mampu melakukan satu loncatan, tidak peduli skalanya besar atau kecil.
“Kalau kita pakai ilmu logika, menggunakan premis satu dan dua, kita dapat mengatakan prestasi itu adalah ketika juara lomba ini-itu, mempeoleh nilai A, dan lain-lain. Tapi logisnya, prestasi ketika kita mampu melakukan sesuatu, misalnya dapat bangun di pagi hari,” ujarnya.
Senada dengan Zubair, Farwa mengatakan bahwa definisi berprestasi itu berbeda-beda. Sama halnya dengan definisi kesuksesan.
“Sehingga tidak dapat dikatakan orang yang berprestasi dan orang yang sukses ketika sudah melewati hal yang besar,” pungkasnya. (YAMIN)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.