Merespon Semangat UNBK

oleh -
Rifay

Mulai Selasa (02/05) lalu, para pelajar yang duduk di bangku kelas III tingkat Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), mulai mengikuti ujian nasional. Ujian ini berakhir pada tanggal 4 Mei, kemarin.

Pemerintah pusat telah menetapkan ujian tingkat SMP/MTs tersebut, setelah sebelumnya melaksanakan ujian yang sama untuk tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), tanggal 3 sampai 6 April dan tingkat SMA/MA (Madrasah Aliyah) pada tanggal 10 sampai 13 April.

Oleh pemerintah, sistem ujian ini diterapkan dalam dua sistem, yakni Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) dan Ujian Nasional Kertas Pensil (UNKP) bagi sekolah yang belum memiliki dukungan sarana dan prasarana UNBK, seperti komputer dan koneksi jaringan internet.

Patut diakui, banyak sekolah di Indonesia yang belum bisa melaksanakan UNBK dan Kota Palu adalah salah satunya. Minimnya anggaran pengadaan sarana dan prasarananya, menjadi penyebab utama.

Sebenarnya, sistem UNBK ini diakui banyak memiliki kelebihan dibanding ujian manual yang mengandalkan kertas dan pensil. Dari segi biaya, sistem ini lebih hemat, karena tidak pakai kertas, lebih aman, dan kesalahan dapat diminimalisasi.

Kelebihan lain adalah keterlambatan soal UNBK lebih kecil terjadi dibanding ujian berbasis kertas dan pensil, tertukarnya soal bisa diminimalisasi dan tidak rumit dalam pengumpulan lembar jawaban Ujian Nasional (LJUN).

Bagi yang penglihatannya kurang tajam (visus rendah), UNBK sangat menolong karena huruf-huruf soal bisa diperbesar. Kemudahan ini akan mengakibatkan pengumuman hasil ujian bisa lebih cepat.

“Kabar” baik ini seharusnya bisa disikapi dengan jeli dan cepat. Komitmen antar pengambil kebijakan di Dinas Pendidikan dan sekolah yang bersangkutan, tentu sangat dibutuhkan dalam rangka melakukan analisis kebutuhan, termasuk Sumber Daya Manusia (SDM).

Di satu sisi, sekolah diperkenankan mengajukan usul pengadaan sarana dan fasilitas ke Dinas Pendidikan.

Selain niat, tentu ada upaya teknis yang mesti dilakukan para pihak. Ketertinggalan ini perlu diatasi. Jika benar-benar punya niat memperbaiki sistem pendidikan agar tidak tergerus jaman, maka alasan-alasan klasik yang kerap terlontar, harus ditanggalkan.

Tak boleh terpaku, bahkan diam melihat persoalan ini karena semua yang diinginkan tidak mungkin bisa dicapai dengan diam. Perlu usaha dan kerja keras untuk mewujudkannya. Wallahu’alam.