Merenungi Ucapan Istirja

oleh -
Ilustrasi. (Youtube Yufid TV)

Innalillahi wainna ilaihi raji’un. Sesungguhnya kita milik Allah dan hanya kepada-Nya kita kembali”.

Ketika mendengar ucapan di atas, Saiyidina Ali menerangkan: Innaa LILLAAHI – maknanya kita mengaku ALLAH berkuasa sepenuhnya atas kita. Wa innaa ilaihi raaji’uun – maknanya kita mengakui diri kita ini tidak kekal. Kita pasti akan mati, lalu pulang mengadapNya.

Kalimat istirja ini  mudah mengatakannya, terutama saat kita tertimpa musibah. Dan mestinya tidak hanya kematian, tetapi musibah sekecil apa pun, meskipun hanya terkena duri atau tersandung batu di jalan.

Namun demikian, ucapan itu mungkin hanya sebatas ucapan di lisan saja, tetapi mungkin sulit bagi kita untuk memahami maknanya apalagi menjalankannya. Bagaimana perwujudan sikap kita yang menunjukkan bahwa kita telah mengaplikasikan ayat ini.

Rasulullah SAW bersabda, “Seorang hamba yang ditimpa musibah, lalu mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Allahumma’jurni fi mushibati wa ahlif li khairan minha (sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nyalah kita dikembalikan. Ya Allah, berilah aku ganjaran dalam musibahku ini dan berilah ganti kepadaku dengan yang lebih baik darinya), niscaya Allah akan memberi ganjaran padanya dalam musibahnya dan akan menggantikan dengan yang lebih baik darinya.” (HR Muslim).

Dengan mengucapkan kalimat istirja, berarti kita telah memperoleh salah satu ciri orang yang sabar. Sebagaimana dalam surat Al-Baqarah ayat 155, ketika Allah SWT menyebutkan, “Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” Dan dalam ayat selanjutnya Allah SWT berfirman “(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucap inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Dan kita ketahui bersama bahwa innallaha ma’ashabirin (sesungguhnya Allah akan selalu bersama orang-orang yang sabar).

Kalimat istirja ini, jika diucapkan, selain kita akan memperoleh ganjaran (pahala) karena telah mengikuti sunah Rasulullah SAW, kita juga akan memperoleh banyak manfaat darinya. Tentunya jika kita paham dan mau mengamalkan konsekuensinya.

Ucapan Inna lillahi (sesungguhnya kita milik Allah), mengandung pengertian bahwa diri kita, keluarga, dan harta benda yang kita miliki pada hakekatnya adalah milik Allah SWT. Adapun Allah SWT jadikan hal itu semua dimiliki oleh manusia sebagai suatu pinjaman (amanah). Sehingga, apabila semua yang kita miliki diambil oleh pemiliknya, maka kita harus ikhlas dan ridha. Kita tidak boleh berprasangka buruk.

Adapun ucapan selanjutnya, yaitu wa inna ilaihi raji’un (dan kepada-Nyalah kita dikembalikan), mengandung pengertian bahwa sesungguhnya sewaktu kita lahir, kita tidak punya apa-apa. Setelah meninggal dunia, kitapun tidak membawa apa-apa. Semua yang kita miliki didunia kita tinggalkan. Yang kita bawa hanyalah iman dan amal saleh.

Jadi kalimat istirja ini bisa menjadi hiburan buat kita. Dengan memahaminya akan menghilangkan kesedihan yang kita alami akibat tertimpa musibah. Jika dalam sebuah musibah kita kehilangan harta benda yang kita miliki, maka kita tidak akan bersedih dengan kesedihan yang mendalam. Sebab, harta benda yang kita miliki adalah milik Allah SWT, dan kepada-Nya semua itu akan dikembalikan. Kalimat (istirja) inipun sekaligus sebagai peringatan agar kita memperkuat iman dan amal saleh. Sebab, hanya iman dan amal saleh yang akan kita bawa ke hadapan Allah SWT kelak.

Saat kita kehilangan posisi/jabatan. Saat kita disakiti/difitnah orang. Bahkan sekalipun itu adalah anak dan pasangan hidup kita bila akhirnya harus mendahului kita menghadap Sang Ilahi, itu berarti Allah mengambil kembali apa yang dipinjamkan/diamanatkan kepada kita. Rasulullah melarang kita untuk menangisi orang yang meninggal dengan meraung-raung, sedih berkepanjangan, atau malah menyalahkan pihak lain (bahkan Tuhan) atas kematian orang itu.

Semua itu tidak akan terjadi bila kita merasa bahwa semua yang kita miliki adalah titipan dari Tuhan, semua kejadian adalah atas izin Allah, semua kehendak Allah, dan niat kita untuk berbagi dengan sesama adalah dalam rangka untuk mencari simpati (ridha) dari Allah, Tuhan Yang Mahakuasa. Wallahu a’lam

DARLIS MUHAMMAD (REDAKTUR SENIOR MEDIA ALKHAIRAAT)