Puasa mendidik manusia berakhlak mulia, teguh memegang amanah, jujur dan disiplin, merasa dirinya selalu diawasi Allah Swt, sekalipun berada di tempat yang sunyi tanpa seorang pun yang melihatnya.
Tidak sebutir nasi pun masuk ke dalam mulutnya, tidak pula setetes air pun membasahi kerongkongannya yang terasa retak karena kekeringan dan kehausan. Di situlah sebuah nilai iman yang demikian bersemi dalam dirinya.
Orang yang berpuasa itu adalah malaikat dalam bentuk manusia. Dalam hubungan ini pula Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan -yang tidak bermanfaat- dan perbuatan yang mengundang kedurhakaan, maka Allah tidak butuh kepadanya sekalipun ia meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari).
Bila sifat-sifat seperti itu masih ada pada orang-orang yang berpuasa, maka tidak mendapatkan hasil apa-apa kecuali lapar dan haus.
Untuk itu pula Rasulullah saw menegaskan, “Jika ada orang lain mengajak untuk berbuat yang lagha (sia-sia) atau mengucapkan kata-kata keji dan kotor, anda sedang berpuasa, maka jawab saja; saya sedang berpuasa (inni sha-im).” (HR. Ibn Khuzaimah).
Puasa mendorong pelakunya mengenal Allah SWT. Sebab ibadah puasa, khususnya puasa Ramadan dalam taraf tertentu membutuhkan keimanan yang kuat.
Jika tidak ada keimanan tentulah seseorang tidak mau melaksanakannya karena secara fisik ibadah puasa sebulan penuh memerlukan tekad yang kuat.
Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hal ini menunjukkan faktor iman sangat penting dalam ibadah puasa. Orang yang imannya meningkat karena makrifatullah tentu melaksankan ibadah puasa akan lebih berkualitas. Tidak sekedar menahan makan, minum, dan syahwat di siang hari. Tetapi sudah dapat melaksanakan puasa khushus atau bahkan khushusil khushus.
Mengenal Allah SWT. melalui puasa dapat dilihat dari perintah puasa. Di mana perintah Allah kepada hamba-Nya untuk melakukan salah satu sifat-Nya, yaitu tidak makan dan tidak minum.
Begitu pula puasa adalah istighna’, yaitu tidak membutuhkan segala sesuatu. Istighna’ adalah sifat Allah, di mana Allah tidak membutuhkan segala sesuatu.
Sebenarnya saat berpuasa, kita sedang berlatih untuk bersifat dengan sifat Allah, walau jelas kita sangat berbeda dengan Allah SWT, karena kita sangat membutuhkan orang lain.
Meniru sifat Allah bagian dari upaya kita mengenal Allah SWT. Karena itu Rasulullah saw. sendiri menyuruh kita berakhlak seperti akhlaknya Allah SWT, “Berakhlaklah kamu dengan akhlak Allah”.
Ribuan hikmah, berupa rahmat, barakah, maghfirah dapat diraih dalam ibadah Ramadhan, asal dilakukan dengan iman dan keikhlasan.
Dalam satu hadisnya, Rasulullah saw bersabda, “Seandainya manusia mengetahui rahasia kebaikan yang terkandung di dalam Ramadhan pasti mereka akan menginginkan agar sepanjang tahun itu adalah bulan Ramadhan.”
Karena di dalam bulan Ramadhan terkumpul semua kebaikan (li annal hasanata mujtami’ah), seumpama dosanya terampuni, surga rindu kepadanya.
Karena itu, bersungguh-sungguh dalam berpuasa dengan menjalankan ibadah puasa dan memaknai puasa secara hakiki akan menjadikan kita semakin mengenal Allah SWT. Wallahu a’lam
DARLIS MUHAMMAD (REDAKTUR SENIOR MEDIA ALKHAIRAAT)

