JAKARTA, MAL – Ketidaksesuaian kompetensi lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja masih menjadi tantangan dalam penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Di tengah perkembangan teknologi digital dan ekspansi infrastruktur telekomunikasi, kebutuhan terhadap tenaga kerja terampil terus meningkat, sementara kesiapan lulusan belum selalu sejalan dengan tuntutan industri.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 1.033.182 orang berlatar belakang pendidikan perguruan tinggi, mulai dari Diploma IV hingga S3, masih berstatus sebagai penganggur per Mei 2026.

Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan, Anwar Sanusi, menilai salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah skill mismatch, yakni ketidaksesuaian antara kompetensi yang dimiliki lulusan dan kebutuhan pekerjaan. Persoalan ini juga berkaitan dengan literasi digital dan keterampilan nonteknis (soft skills) yang belum memadai.

Kesenjangan tersebut menjadi tantangan tersendiri di tengah pembangunan infrastruktur digital. Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menilai kebutuhan tenaga terampil untuk membangun, memelihara, dan memperbaiki jaringan telekomunikasi akan terus meningkat seiring dengan perluasan infrastruktur digital.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid juga menyampaikan dukungan terhadap pemenuhan kebutuhan tenaga kerja lokal untuk pembangunan jaringan serat optik. Selain mendukung ekspansi jaringan, kebutuhan tersebut membuka peluang kerja di berbagai daerah.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur digital tidak cukup hanya mengandalkan investasi pada perangkat dan jaringan. Ketersediaan sumber daya manusia dengan keterampilan teknis yang sesuai juga menjadi faktor penting.

Salah satu upaya untuk mempertemukan kebutuhan pendidikan dan industri dilakukan Tower Bersama Infrastructure Group (TBIG) melalui pelatihan infrastruktur telekomunikasi dan serat optik bagi sekitar 100 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

Selama dua hari di TBIG Learning Centre, Karawaci, Banten, peserta mempelajari teknologi serat optik dan fiber to the home (FTTH). Mereka juga mengikuti praktik pengenalan perangkat dan fungsinya serta melihat penerapan teknologi secara langsung di TBIG Lab.

Chief Business Support Officer TBIG, Lie Si An, mengatakan pengalaman belajar yang terhubung dengan praktik industri penting agar mahasiswa memahami penerapan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah.

“Mahasiswa perlu mendapatkan kesempatan untuk melihat dan mempraktikkan secara langsung apa yang selama ini mereka pelajari secara teori. Karena itu, selain materi teknis, kami juga memberikan pembekalan soft skill agar mereka lebih siap menghadapi dunia kerja,” ujar Lie Si An.

Ia berharap pelatihan tersebut dapat menambah pengetahuan dan keterampilan mahasiswa agar mampu mengikuti perkembangan teknologi infrastruktur telekomunikasi.

“Melalui pelatihan ini diharapkan peserta dapat meng-upgrade skill dan pengetahuan mereka mengenai teknologi terbaru di infrastruktur telekomunikasi dan fiber optic,” katanya.

Bagi peserta, pelatihan tersebut memberikan gambaran lebih konkret mengenai pekerjaan di industri telekomunikasi. Atilla Pramudya Nugroho, mahasiswa Universitas Telkom Jakarta, mengatakan kegiatan itu menambah wawasannya tentang infrastruktur telekomunikasi sekaligus memperkenalkannya pada budaya kerja industri.

Pengalaman serupa dirasakan Evelyn Anastasia, mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia. Menurutnya, pelatihan dan kunjungan ke TBIG Lab memberinya kesempatan mempelajari serat optik, FTTH, dan teknologi pendukung lainnya secara langsung.

Peserta juga berkesempatan mengenal dunia kerja melalui kegiatan career/job expo. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami kebutuhan industri dan mengenali peluang karier yang tersedia.

Pertemuan antara dunia pendidikan dan industri menjadi semakin penting ketika perubahan teknologi berlangsung cepat. Pendidikan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan dengan penguasaan teori, tetapi juga memastikan mereka memiliki keterampilan praktis yang relevan dengan pekerjaan.

Dalam industri telekomunikasi, kebutuhan itu mencakup kemampuan memasang, mengoperasikan, memelihara, dan mengembangkan jaringan. Pengalaman praktik selama masa pendidikan dapat membantu mahasiswa memahami tuntutan pekerjaan sekaligus memperkecil kesenjangan kompetensi ketika memasuki dunia kerja.

Lie Si An mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan mendukung pengembangan sumber daya manusia lokal.

“Tujuan kami menyelenggarakan kurikulum unggulan ini memang untuk terlibat aktif dalam pengembangan sumber daya manusia lokal untuk mendukung pembangunan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia,” pungkasnya.**