​Oleh: Dr. Ibrahim Ismail,. S. Ag., M.HI. (Abna’ Alkhairaat di Pelosok Pengabdian)

Rabu, 12 Syawal 1447 H, suasana batin kami di tempat pengabdian yang jauh dari pusat keramaian terasa begitu bergetar. Meski raga ini mungkin tak semuanya hadir bersimpuh di depan Raudah di Kota Palu, namun ruh dan doa kami menyatu dalam satu muara: Haul Ke-58 Al-Habib Idrus bin Salim Aljufri—Guru Tua, Sang Bintang dari Timur.

​Bagi kami yang kini berdiri di garis depan pendidikan, di desa-desa terpencil, di pesisir pantai, hingga di puncak-puncak gunung, mengenang Guru Tua bukan sekadar ritual tahunan. Haul ini adalah momentum “mengisi ulang” energi spiritual dan intelektual yang beliau wariskan.

Ilmu: Jalan Cahaya yang Diembannya

​Guru Tua meletakkan ilmu di atas segala-galanya. Beliau memahami bahwa tanpa ilmu, umat akan kehilangan arah di tengah badai zaman. Komitmen beliau terhadap ilmu terekam abadi dalam untaian syairnya yang menggetarkan jiwa:

​”Belajarlah, karena seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan berilmu.
Dan pemilik ilmu tidaklah sama dengan orang yang bodoh.”

​Syair ini bukan sekadar gubahan sastra, melainkan Manifesto Perjuangan. Beliau memikul amanah ilmu sebagai jalan dakwah utama, meyakini bahwa perubahan nasib sebuah bangsa hanya bisa ditempuh melalui gerbang pendidikan.

MDA: Fondasi yang Tak Boleh Terabaikan

​Dalam bangunan besar Alkhairaat, Guru Tua memberikan perhatian yang sangat mendalam pada Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA). Beliau menempatkan MDA sebagai fondasi utama—akar yang harus kuat agar pohon pendidikan bisa menjulang tinggi ke langit.

​Bagi beliau, MDA adalah tempat persemaian karakter dan akidah dasar bagi anak-anak sejak dini. Di pelosok pengabdian, kami menyadari pesan tersirat beliau: “Jangan pernah mengabaikan MDA.” Mengabaikan MDA berarti membiarkan fondasi umat rapuh. Menjaga MDA tetap hidup di kampung-kampung dan pelosok adalah kado terindah yang bisa kami berikan sebagai bentuk kesetiaan pada wasiat beliau.

Kesalehan yang Bergerak

​Refleksi terbesar dari sosok Guru Tua adalah tentang “Kesalehan yang Bergerak”. Beliau tidak hanya berdiam di atas sajadah, tapi beliau berjalan menembus hutan, menyeberangi lautan, dan membangun madrasah. Alkhairaat hari ini, dengan ribuan cabangnya, adalah bukti nyata dari keberkahan niat yang murni dan kerja keras yang tak kenal lelah.

​Kado istimewa yang kami persembahkan pada Haul ke-58 ini adalah keteguhan untuk tetap “Istiqomah di Garis Guru”. Garis yang mengutamakan akhlak, garis yang menebarkan kasih sayang (rahmah), dan garis yang menjaga persatuan umat.

​Penutup: Janji Setia

​Selamat Haul Ke-58, Guru Tua tercinta. Terima kasih telah menghibahkan hidupmu untuk kami. Terima kasih telah memberi kami identitas sebagai pembawa obor ilmu.

​Kado kami adalah janji setia: bahwa pelita yang Engkau nyalakan dari Timur ini tidak akan pernah padam. Kami akan terus menjaga MDA-MDA di pelosok negeri sebagai benteng pertahanan ilmu dan iman, sebagaimana Engkau telah mencontohkannya kepada kami.
​Alfatihah untuk Al-Habib Idrus bin Salim Aljufri.

“Alhairaat Tumbuh, negeri Utuh”.