Oleh: Mohsen Hasan Alhinduan
Memasuki “putaran kedua” atau fase sepuluh hari madya di bulan Ramadan, kita seringkali terjebak dalam euforia ritus yang mulai mendingin. Masjid yang tadinya penuh sesak di baris pertama, perlahan mulai “maju” safnya bukan karena jamaah makin taat, melainkan karena mulai surut. Di sinilah letak ujian filosofis terbesar kita:
Apakah kita sedang menyembah Allah, atau kita sedang menyembah bulan Ramadan?
▪︎ Jebakan “Ramadani”:
Spiritual Musiman
Fenomena “Ramadani” adalah kondisi di mana kesalehan seseorang memiliki masa kedaluwarsa. Ia mendadak suci di awal Ramadan, namun kembali asing dengan Tuhan begitu hilal Syawal tampak. Dalam kacamata filsafat akhlak, ini disebut sebagai spiritualitas pragmatis.
Seorang orientalis dan pemikir Islam sering mengutip perkataan ulama salaf yang tajam:
”بِئْسَ القَوْمُ قَوْمٌ لاَ يَعْرِفُونَ اللهَ إِلاَّ فِي رَمَضَانَ”
“Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah kecuali hanya di bulan Ramadan.”
Jika ketaatan kita hanya bergantung pada kalender, maka sejatinya kita tidak sedang membangun hubungan dengan Al-Khaliq yang kekal, melainkan hanya mengikuti arus sosiologis musiman.
▪︎ Transformasi Menuju “Rabbani”
Menjadi hamba Rabbani berarti menjadikan Ramadan sebagai madrasah (sekolah), bukan penjara. Di penjara, orang berkelakuan baik karena terpaksa oleh jeruji; di sekolah, orang belajar agar memiliki karakter yang menetap bahkan setelah ia lulus.
Allah Swt. berfirman dalam QS. Ali Imran: 79:
”…كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ”
“…Jadilah kamu orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”
Ulama kontemporer Syeikh Dr. Salman al-Oudah
menjelaskan bahwa Rabbani adalah mereka yang menyambungkan setiap aktivitas duniawinya dengan nilai-nilai ketuhanan yang konstan. Ramadan adalah momentum untuk “mengisi daya” (recharging) agar cahaya ketuhanan itu tetap menyala di bulan-bulan berikutnya.
▪︎ Filosofi Putaran Kedua: Fase Transisi
Jika sepuluh hari pertama adalah Rahmah (kasih sayang), maka sepuluh hari kedua adalah Maghfirah (ampunan). Secara filosofis, ampunan bukan sekadar penghapusan dosa, melainkan detoksifikasi jiwa.
Di putaran kedua ini, tantangannya adalah istiqamah. Kita diajak untuk melampaui rasa lapar fisik dan mulai memasuki “lapar spiritual”. Hamba yang Rabbani akan menggunakan fase ini untuk menyatukan frekuensi hatinya dengan kehendak Tuhan, sehingga ketika Ramadan pergi, Tuhan tetap “tinggal” di dalam hatinya.
▪︎ Simpulan: Ramadan Akan Pergi, Tuhan Tetap Ada
Ramadan adalah tamu yang pasti akan berpamitan. Namun, pemilik rumah (Allah) tidak pernah pergi. Esensi dari puasa yang “milik-Ku” Puasa itu adalah milikku dan Aku langsung yang memberikan pahala kepada yang berpuasa” (seperti dalam Hadis Qudsi) adalah untuk membuktikan bahwa kita mampu meninggalkan kenikmatan sementara demi Zat yang Maha Abadi.
Seorang mukmin yang berhasil adalah ia yang saat Idulfitri tiba, ia tidak merasa “bebas” dari ibadah, melainkan merasa “sedih” karena kehilangan fasilitas percepatan spiritual, namun ia tetap membawa api ketaatan itu ke bulan Syawal dan seterusnya.
▪︎ Draf strategi ibadah praktis agar ritme spiritual ini tidak kendor hingga akhir Ramadan nanti?
Agar ritme spiritual tidak kendor—atau dalam istilah pendaki gunung, tidak terkena altitude sickness (kelelahan di ketinggian)—kita memerlukan strategi yang realistis namun progresif. Memasuki putaran kedua dan ketiga Ramadan, kuncinya bukan lagi pada kuantitas emosional, melainkan pada manajemen energi spiritual.
Berikut adalah draf strategi praktis untuk menjaga momentum agar tetap menjadi hamba Rabbani:
1. Evaluasi “Niat Tengah Jalan” (The Mid-Point Reset)
Seringkali penurunan semangat terjadi karena niat awal sudah mulai luntur tertutup rutinitas.
- Strategi: Luangkan waktu 5 menit sebelum berbuka untuk melakukan muhasabah (evaluasi). Katakan pada diri sendiri: “Aku berpuasa hari ini bukan karena sudah tanggal belasan, tapi karena Allah yang memerintahkanku hari ini sama dengan Allah yang memerintahkanku di hari pertama.”
- Target: Memperbarui akad penghambaan setiap pagi.
2. Gunakan Rumus “Amal Unggulan” (Spiritual Core Workout)
Jangan mencoba melakukan semua hal secara maksimal jika energi mulai menurun, karena itu akan memicu burnout.
- Strategi: Pilih satu ibadah yang menjadi “jangkar” Anda. Jika Anda kuat di Tilawah, fokuslah di sana. Jika kuat di sedekah, fokuslah di sana.
- Penerapan: Gunakan kaidah hadis: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu (istiqamah) meskipun sedikit.” (HR. Muslim).
- Target: Satu juz per hari atau sedekah subuh setiap hari tanpa putus.
3. Manajemen “Waktu Puncak” (Prime Time Management)
Jangan habiskan energi untuk hal administratif atau hiburan yang tidak perlu di jam-jam mustajab.
- Strategi: Amankan dua waktu krusial:
- 30 Menit sebelum Subuh: Fokus pada Istighfar dan Tahajud (Dialog intim).
- 30 Menit sebelum Maghrib: Fokus pada doa dan zikir, bukan sekadar menyiapkan takjil.
- Target: Minimal 10 menit khalwah (menyendiri dengan Allah) di waktu tersebut. 4. Strategi “Minimalisme Digital”
Gangguan terbesar yang membuat ritme kendor adalah gempuran konten non-spiritual di media sosial (diskon belanja lebaran, konten makanan, dll).
- Strategi: Lakukan Digital Fasting. Batasi akses media sosial hanya pada jam tertentu. Gunakan mode “Do Not Disturb” saat masuk waktu ibadah.
- Target: Mengalihkan waktu scrolling (30-60 menit) menjadi waktu tadabbur atau membaca buku sirah.
5. Persiapan “Sprint” Akhir (The Final Kick)
Dalam lari maraton, pelari akan menambah kecepatan di 1/4 lintasan terakhir.
- Strategi: Mulai menyicil persiapan teknis Lebaran (baju, makanan, mudik) di putaran kedua ini. Jangan biarkan urusan logistik menyita waktu di 10 malam terakhir.
- Target: Kosongkan jadwal duniawi di 10 malam terakhir agar bisa fokus I’tikaf atau menghidupkan malam.
Tabel Rencana Aksi (Checklist)
▪︎Dimensi Intelektual membaca 1 ayat + terjemahan & tafsir singkat setiap badal shalat
▪︎Sosial :Memberi makan orang berbuka (meski hanya air/kurma) setiap hari
▪︎Fisik: Tidur siang singkat (Qailulah) untuk tenaga Tahajud sebelum Dzuhur
▪︎Lisan:Zikir Subhanallah walhamdulillah… saat di perjalanan setiap ada waktu luang
Pesan Penutup ulasan ini : Ingatlah bahwa kualitas seorang Rabbani tidak diukur dari seberapa lelah ia di akhir Ramadan, tapi seberapa “rindu” ia pada ketaatan setelah Ramadan usai.
Salafussholeh berkata :
كن ربانيا ولا تكن رمضانيا
Jadilah dirimu seorang robbani dan jangan jadikan dirimu seorang ramadani “
Artinya takutlah kamu kepada Allah Swt sepanjag tahun bukan takut kepadaNya hanya di bulan ramadan.
Wallahu àlam bisshawaab…semog bermanfaat…
Sabtu ; 28 Februari 2026/10 Ramadan 1447
*)Penulis adalah Direktur Mahad Alquran & Dirasat Islamiah – Majlis Kajian Kitab Klasik (M-3K) Depok Jabar

