Menelisik Peluang Caleg PKS di Dapil Sulteng I dan II

oleh -
Rombongan pengurus DPW PKS Sulteng saat tiba untuk mendaftarkan bacalegnya di Kantor KPU Sulteng, Senin (08/05). (FOTO: media.alkhairaat.id/Rifay)

OLEH: Muchsin Sirajuddin*

Secara resmi, DPW PKS Sulteng menyerahkan atau mendaftarkan nama-nama Bacalegnya untuk bertarung di Pileg Februari 2024 mendatang. PKS mengisi seluruh kuota, atau mengusulkan 55 Bacalegnya.

Dari daftar nama-nama itu, seluruh incumbent yang saat ini duduk di DPRD Sulteng, juga dipastikan akan kembali menjadi Caleg usulan PKS.

Namun dari seluruh incumbent, hanya Sri Atun yang berasal dari Dapil Sulteng 4 (Kabupaten Banggai Bersaudara) yang diusulkan untuk nomor urut 1. Sedangkan tiga incumbent, yakni Hj Wiwik Jumatul Rofiah (Dapil Sulteng 1), H Tahir H Siri (Dapil Sulteng 7) dan Hj Fatimah Amin Lasawedi (Dapil Sulteng 5), diusulkan menduduki nomor urut 2.

Yang menarik, akan terjadi persaingan ketat di Dapil Sulteng I (Kota Palu). Incumbent yang saat ini menjabat Ketua Fraksi PKS DPRD Sulteng, akan bersaing dengan Caleg nomor urut 1, yakni Ketua DPW PKS Sulteng, Muh Wahyuddin dan Caleg nomor urut 3, Muh Rizal Dg Sewang, Ketua DPD PKS Kota Palu yang saat ini juga menjabat Wakil Ketua DPRD Kota Palu.

Sementara itu, dari daftar usulan yang diajukan, di Dapil Sulteng 2 (Parigi-Moutong), terdapat nama wartawan senior, Abdul Hanif yang diusulkan dalam Daftar Caleg urutan dua. Di urutan pertama, ada nama Hj Intje Sari Passau, tokoh wanita Parigi yang saat ini menjabat Ketua Wanita Islam Alkhairaat (WIA).

Hadirnya dua nama ini cukup menarik untuk dicermati. Yakni bersatunya dua kekuatan Ormas yang dikenal memiliki basis massa masing-masing, yakni Alkhairaat dan Muhammadiyah. Abdul Hanif, selain dikenal sebagai wartawan, juga dikenal sebagai aktivis Muhammadiyah yang memiliki basis dukungan di kalangan akar rumput dan anak-anak muda Muhammadiyah.

Hadirnya Intje Sari dari Alkhairaat dan Abdul Hanif dari Muhammadiyah, bisa menjadi amunisi PKS untuk bisa kembali mengisi kekosongan kursi Dapil Parigi Moutong selama dua periode ini.

Selain mengandalkan basis dukungan organisasi, keduanya juga tampaknya akan mengandalkan basis dukungan keluarga. Nama belakang Intje Sari, yakni Passau dikenal sebagai keluarga besar di pesisir Teluk Tomini.

Belum lagi, gelar Intje, yang merupakan darah biru di kalangan Keluarga Kaili, tampaknya akan menjadi modal besar bagi Intje Sari meraup dukungan di Kabupaten Parigi Moutong.

Bagaimana dengan Abdul Hanif? Dari hasil penelusuran, Abdul Hanif ternyata dari garis keturunan sang Ibu, adalah anak asli Pantai Timur. Selain kelahiran Kampung Lodji Parigi, ternyata dari garis keturunan Ibu, Abdul Hanif memiliki fam keluarga Mardjengi dan Mardjawi. Sebuah gelar keluarga yang tidak asing di Pantai Timur, khususnya di Daerah Tinombo, Tinombo Selatan hingga ke Tada dan sebagian Palasa.

Marjengi itu dari sebelah kakeknya. Sementara dari sebelah ibunya, fam keluarganya Maya yang banyak terdapat di Parigi.

Sang Kakek, atau bapak dari Ibunya yang bernama Tjatjo Panintjo Mardjengi, dulunya adalah Kepala Desa Pertama Bantaya Parigi.

Selain kedua nama tersebut, yang juga tidak kalah menariknya, Caleg nomor urut 3, Syamsidi Laeho.

Nama tersebut pernah menjadi Bakal Calon DPD dan meraup dukungan suara lebih dari 25 ribu suara. Sebuah capaian yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Apalagi jika melihat fam di belakangnya, yang dikenal sebagai keluarga besar di Kecamatan Ampibabo. Juga latarbelakangnya sebagai aktivis HMI, tentu menjadi modal bagi Syamsidi untuk bisa meraih dukungan.

Antara Abdul Hanif dan Syamsidi, memiliki irisan dukungan, yakni mantan aktivis-aktivis kampus yang kini banyak berkiprah di Parigi Mouotong, tentu masih memiliki kedekatan secara emosional dengan keduanya.

Kemudian ada pula nama Moh Ghofur. Mungkin bagi sebagian orang masih terdengar asing, tapi di kalangan masyarakat Jawa di Parigi, nama tersebut cukup viral.

Dulunya, sosok yang menduduki nomor urut 6 tersebut, adalah salah satu tim sukses Bupati Parigi Moutong saat ini. Bahkan Ustad Ghofur, sapaannya mengaku masih menjalin hubungan emosional dengan seluruh simpul-simpul massanya.

Yang terakhir ada nama Ni Ketut Suriani. Seorang bersuku Bali asli, yang sudah pasti memiliki basis dukungan, khususnya dari kalangan keluarganya. Walaupun Ni Ketut Suriani, sekarang sudah mualaf, bahkan menjadi seorang penghafal Al-Qur’an, namun informasinya masih memiliki keluarga yang Beragama Hindu di wilayah Parigi Selatan.

Dukungan keluarga, adalah hal yang paling utama. Jadi cukup menarik untuk melihat, seperti apa persaingan di Pemilu nanti. Belum lagi kita membahas peluang dari Caleg dari Partai lain, yang pasti dalam waktu sepekan ini, ramai-ramai datang mendaftar di KPU Sulteng.

*Penulis adalah Redaktur Politika Radar Sulteng