PALU — Lajnah Falakiyah Alkhairaat Madinatul Ilmi Dolo Kabupaten Sigi merilis hasil hisab awal bulan Syawal 1447 Hijriah yang dilakukan di Gedung Observasi Hilal Kementerian Agama Sulawesi Tengah, Desa Marana, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala. Rilis tersebut ditandatangani Ketua Lajnah Falakiyah, M. Muhammad Syarief Hidayatullah, diinformasikan pada Sabtu (14/3).

Hasil perhitungan itu dijelaskan, ijtima’ akhir Ramadan terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 09.23 WITA. Waktu Matahari terbenam tercatat pukul 18.12.06 WITA, sedangkan Bulan terbenam pada pukul 18.22.15 WITA dengan umur Bulan sekitar 8 jam 48 menit. Tinggi hilal mar’i berada pada posisi 1 derajat 51 menit 19 detik dengan lama hilal (mukuts) sekitar 10 menit setelah Matahari terbenam.

Selain itu, elongasi Bulan tercatat 5 derajat 15 menit 34 detik dengan fraksi iluminasi sebesar 0,17 persen. Berdasarkan data tambahan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ketinggian hilal di wilayah Indonesia saat Matahari terbenam diperkirakan berkisar antara 0,91 derajat hingga 3,13 derajat, sementara elongasi berkisar antara 4,54 derajat hingga 6,1 derajat.

Mengacu pada kriteria Imkanur Rukyat MABIMS dan ketentuan yang juga digunakan oleh Nahdlatul Ulama, yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat, posisi hilal di Indonesia dinilai belum memenuhi syarat visibilitas. Dengan demikian, bulan Ramadan 1447 Hijriah diperkirakan disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal).

Namun demikian, hasil hisab ini masih bersifat prediksi dan sebagian umat Islam tetap diminta menunggu keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat yang akan digelar oleh Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai penentu awal bulan Syawal 1447 Hijriah.