PALU, MAL – Kebutuhan darah di Sulawesi Tengah diperkirakan mencapai 1.500 kantong setiap bulan. Namun, kebutuhan tersebut belum selalu diimbangi ketersediaan pendonor aktif.

Hal itu disampaikan Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid yang diwakili Staf Ahli Gubernur Bidang Pengembangan Kawasan dan Wilayah Setdaprov Sulteng, Dr. Rusmiadi, saat membuka Workshop dan Seminar Nasional Unit Donor Darah (UDD) PMI Provinsi Sulawesi Tengah di Sultan Raja Hotel, Kamis (24/9/2026).

Menurut Rusmiadi, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi pengelola pelayanan darah, tetapi juga memperkuat komitmen bersama dalam memenuhi kebutuhan darah masyarakat.

“Di Sulawesi Tengah, kebutuhan darah diperkirakan mencapai 1.500 kantong setiap bulan. Namun, kebutuhan tersebut belum selalu dapat diimbangi dengan ketersediaan pendonor aktif. Kesenjangan ini menjadi perhatian kita bersama,” ujarnya.

Ia mengajak masyarakat Sulawesi Tengah menjadikan donor darah sebagai gerakan kemanusiaan yang dilakukan secara sukarela, rutin, dan berkelanjutan.

“Donor darah bukan hanya dilakukan ketika keluarga atau kerabat membutuhkan, tetapi harus menjadi bentuk kepedulian sosial yang tumbuh di tengah masyarakat. Satu kantong darah yang kita donorkan dapat menjadi bagian penting dalam menyelamatkan kehidupan sesama,” katanya.

Pemprov Sulteng, lanjutnya, akan terus mendorong kolaborasi dengan PMI, pemerintah kabupaten dan kota, fasilitas kesehatan, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, komunitas, perguruan tinggi, serta seluruh elemen masyarakat untuk memperluas partisipasi pendonor.

Ia juga berharap UDD PMI terus meningkatkan kualitas pelayanan, pengelolaan stok darah, pendataan dan rekrutmen pendonor, serta edukasi kepada masyarakat sehingga pelayanan darah semakin profesional, aman, dan responsif.

Sementara itu, Direktur UDD Pusat PMI, Dr. Ni Ken Ritchie, mengapresiasi pelaksanaan Workshop dan Seminar Nasional yang digelar PMI Sulteng.

Menurutnya, dukungan dari berbagai pihak menunjukkan PMI Sulteng telah mendapatkan kepercayaan masyarakat.

“Kepercayaan ini harus kita jaga melalui pelayanan yang prima. Peningkatan kualitas di Sulawesi Tengah juga harus terus dipertahankan,” katanya.

Ni Ken menegaskan, PMI tidak dapat berjalan sendiri dalam meningkatkan donor darah sukarela maupun menjaga keamanan darah. Karena itu, diperlukan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Ia juga berharap UDD di kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah dapat semakin berkembang dan membangun jejaring pelayanan darah yang lebih kuat.

“Dari laporan yang ada, PMI Sulawesi Tengah sudah terakreditasi. Sekali lagi, selamat kepada PMI Sulteng,” ujarnya.

Ketua PMI Sulawesi Tengah, Hidayat Lamakarate, mengatakan workshop dan seminar nasional tersebut merupakan upaya PMI bersama UDD untuk meningkatkan kualitas pelayanan donor darah di Sulawesi Tengah.

“Kegiatan ini intinya bagaimana meningkatkan kualitas sumber daya, memastikan pelayanan lebih baik dengan menggunakan teknologi digitalisasi dan peralatan yang lebih baru,” jelasnya.

Hidayat mengatakan, kehadiran Direktur UDD Pusat PMI dalam kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan informasi dan penguatan bagi pengelola UDD di seluruh Sulawesi Tengah.

“Harapannya, pelayanan donor darah di Sulawesi Tengah semakin berkualitas dan mampu memenuhi kebutuhan darah masyarakat,” pungkasnya.