Kami yang Sangat Merindukanmu

oleh -
Ketua Utama Alkhairaat, Habib Sayyid Saggaf bin Muhammad Aljufri (semasa hidup) bersama putranya, Habib Mustafa bin Saggaf Aljufri. (FOTO: IST)

Sebenarnya tidak ada kata yang tepat yang bisa menggambarkan sosok sepertimu, tapi izinkan saya mengungkapkan sedikit dari apa yang bisa saya ungkapkan.

Kata pepatah “Setiap pertemuan pasti ada perpisahan”, rasanyaa ingin menentang pepatah itu Abah.
Tapi kami yakin perpisahan yang dimaksud adalah perpisahan raga, adapun ruh kita senantiasa hadir bersama dan tak akan pernah terpisah.

Tak pernah terbayang bagaimana rapuhnya kalau ditinggal Abah.
Apakah kami bisa kuat??
Itu selalu terbesit di hati dan pikiran kami.
Tapi subhanallah, menemani dan menyaksikan sampai Aba menghembuskan nafas terakhir membuat kami sangat ikhlas dan ridho atas apa yang telah Allah tetapkan.

Karena dari ungkapan-ungkapan Abah sebelum meninggalkan kami, kami yakin beliau sangat berbahagia dan menanti-nantikan pertemuan itu.

Ketika beliau mengatakan bisyaroh mina rosul, Inilah penguat kami, inilah jaminan kami untuk bisa tenang melepaskan Abah.

Abah…
Tempat dari segala resah tercurah..
Tempat dari segala rasa bahagia bermuara..
dan tempat untuk pulang yang paling tepat.

Ketika kami membutuhkan ilmu, beliaulah sebagai rujukan kami
Ketika kami membutuhkan nasehat, beliau juga yang memberikan nasehat indah dan sangat tulus itu.
Ketika kami punya masalah, hanya beliau lah tempat pulang yang paling tepat untuk kami meminta jalan keluar.

Abah pendidik dan pengabdi yang luar biasa.
Semua hidupnya diberikan untuk ummat, diberikan untuk Alkhairaat.
Bahkan tak jarang yang selalu beliau pesan adalah jaga dan perhatikan Alkhairaat.
Kami selalu dibuat terharu kalau dengar semua perjuangan Aba untuk Alkhairaat.
Yang selalu kasih semangat ke anak-anaknya, ke murid-muridnya untuk jadi orang bisa menebar manfaat ke sesama.
Seseorang yang selaras antara ucapan dan perilakunya.

Abah sangat menghargai setiap detik waktu yang dilalui.
Beliau sangat tidak nyaman jika berlama-lama tanpa kitab dan pena.
Membaca, menulis mengajar adalah aktivitasnya. Bahkan dalam keadaan sulit sekalipun Abah tetap mengusahakan agar waktunya tidak sia-sia begitu saja.
Ketika sakit sekalipun, sering kali Abah memanggil kami untuk membacakan berbagai macam kitab, ataupun sekadar duduk untuk mendengarkan ilmu dari beliau.
Ah.. berat sekali rasanya, kalau ternyata sekarang momen itu tidak akan terulang lagi

افضل الكرامة لزوم الاستقامة
“Paling afdhal nya karomah itu adalah Keistiqomahan”

Ya, cerminan itu pun ada padanya.
Sejak Abah diberi amanat mengemban tugas di Alkhairaat, dari kami kecil sampai sekarang, semua perbuatan beliau yang kami saksikan tidak pernah berubah.
Beliau selalu mengisitqomahkan amalan apapun yang sudah menjadi amalannya.

Kami sering kali bergumam kagum ketika melihat sosoknya.
Ketika orang bertanya siapakah sosok yang sangat menginspirasi buatmu?
Dengan cepat tanpa ragu kami akan menjawab, Abah adalah sosok yang menginspirasi itu.

Ketika bertemu dengan orang-orang kami selalu menceritakan sosoknya.
Ketika berdua dengan Rabb-ku, aku juga menyebut namanya.
Ketika kami tertawa, bahagia, engkaulah di balik kebahagiaan kami
Ketika kami sedih, engkau juga yang ada di balik kesedihan kami.

Tak henti-hentinya bersyukur karena Allah hadirkan sosok seperti Abah dalam kehidupan kami
Manusia paling sabar, paling ikhlas yang paling kami idolakan.
Pembawaannya tenang, tidak pernah mau menyusahkan orang, selalu berusaha menyenangkan dan menghargai perasaan orang lain, sehingga semua yang datang padanya selalu merasa mendapat pandangan khusus darinya.

Taalluq/hubungannya dengan sang kakek membuat orang yang menyaksikan selalu tersenyum sambil meneteskan air mata.
Setiap kali beliau membutuhkan petunjuk, Allah selalu memberikan petunjuk melalui sang kakek yang selalu hadir memberi isyarat.
Setiap kali berziarah kepada Habib Idrus, beliau selalu melakukan hal yang tidak biasa kita lakukan.

“Assalmualaikum ya Habiby” begitulah salam yang beliau ucapkan ketika pertama kali masuk ke maqbaroh kakeknya..
Betapa Indahnyaa..

انا راض عنك ظاهر وباطن
“Saya ridha padamu ya Saggaf secara dhahir dan batin”

‎Itu kalimat yang diucapkaan Habib Idrus kepada sang cucu. Yang menjadi kalimat terakhir dan pertemuan terakhir mereka berdua. Antara sang kakek dan cucu.
Kalimat yang diucapkan saat Habib Saggaf berpamitan dan mencium tangan Habib Idrus kakeknya.
Kala itu tak terbayang dan terpikirkan bahwa itu adalah pertemuan terakhirnya.

Ya sekarang Abah sudah kembali berkumpul bersama Habib Idrus.
Kami yakin pasti beliau sangat merindukanmu.
Kami yakin Habib Idrus pasti menjemput Abah.

Pernah tanya sama beliau, bagaimana caranya supaya bisa selalu ada ikatan dengan sang Pendiri Alkhairaat, kepada sang guru Al’alimul allamah Alhabib Idrus bin Salim Aljufri. Kata beliau, jangan lupa kirimkan fatehah setiap selesai Shalat 5 waktu buat Habib Idrus, jaga apa yang beliau tinggalkan dan teruslah berada di thoriqohnya. Insya Allah akan selalu ada ta’alluq dengannya.

Ini yang diajarkan pada santri-santrinya di pondok. Para santri dan abnaulkhairaat menjadi saksi bagaimana beliau tetap memegang amanat dari sang kakek yaitu selalu mengisi waktunya dengan mengajar. Rasanya terlalu beruntung dan nikmat yang luar biasa yang kami dapat, bisa diajar langsung oleh beliau.

Untuk orang yang sangat berharga dalam hidup kami. Yah sangat berharga boleh kubilang, aba sangat berharga buat kami.

Hadirnya Abah dalam hidup kami membuat kami tahu apa arti kehidupan yang sesungguhnya.
Darinya kami belajar untuk menjadi manusia sesungguhnya, kami jadi tahu tujuan hidup, untuk apa saya dicptakan dan bagaimana seharusnya saya hidup sesuai maunya Allah dan Rasul.

Dari Abah juga kami belajar melatih diri bahwa tidak semua yang kita inginkan harus kita dapatkan, apalgi jika itu bertentangan dengan syariat, maka harus ditinggalkan.

Bagaimana seharusnya kita hidup di dunia ini, bagaimana agar kita bsa jadi orang yang berguna, bagaimana membuat orang-orang di sekitar kita nyaman saat dekat dengan kita, itu semua pelajaran berharga yang kami dapat dari Abah.
Kami belajar arti cinta dan kasih sayang dari beliau, saat Abah dengan ikhlas mengurus ummat tanpa ada kata-kata mengeluh keluar dari lisannya. Yang ada hanya ada kata-kata kasih sayang yang selalu beliau lontarkan.

Doa kami, Semoga Allah menakdirkan untuk mengumpulkan dan membersamakan kita kembali di surga, sebagaimana Allah mengumpulkan dan membersamakan kita di dunia.

*Sebuah catatan kecil dari Syarifah Rugayah binti Saggaf Aljufri, Putri Tercinta Ketua Utama Alkhairaat