PARIMO, MAL – Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) mendorong pemerintah daerah dan pelaku usaha menyusun strategi bersama untuk meningkatkan aktivitas ekspor komoditas Sulawesi Tengah (Sulteng) melalui Pelabuhan Pantoloan.
Ketua KADIN Parimo, Faradiba Zaenong, mengatakan penguatan fungsi Pantoloan penting agar manfaat ekonomi dari perdagangan komoditas daerah tidak berhenti pada sektor produksi, tetapi juga berkembang pada rantai usaha lainnya.
Menurutnya, aktivitas tersebut mencakup pergudangan, logistik, jasa kepelabuhanan hingga pengiriman komoditas ke pasar internasional.
“Komoditasnya dari Sulteng, maka ekosistem ekspornya juga harus tumbuh di Sulteng. Pantoloan harus menjadi salah satu pintu utamanya,” ungkap Faradiba, Kamis (8/10).
Faradiba mengatakan Sulawesi Tengah memiliki basis komoditas yang kuat. Tantangan berikutnya adalah memastikan semakin banyak aktivitas ekonomi yang menyertai perdagangan komoditas tersebut berlangsung di dalam daerah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Sulawesi Tengah sepanjang 2025 mencapai US$22,31 miliar.
Sementara selama Januari–November 2025, nilai ekspor Sulawesi Tengah tercatat US$19,976 miliar. Dari angka tersebut, ekspor senilai US$19,238 miliar dikirim melalui pelabuhan di Sulawesi Tengah, sedangkan US$738,18 juta lainnya tercatat dikirim melalui pelabuhan di provinsi lain.
Faradiba menilai angka tersebut tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang hilang.
Namun, data tersebut menurutnya perlu menjadi dasar untuk memetakan aktivitas ekonomi ekspor yang masih berlangsung di luar Sulawesi Tengah.
“Ini bukan soal mengatakan PAD kita hilang. Yang perlu kita lihat adalah aktivitas ekonomi apa saja yang berada di balik angka US$738,18 juta itu, berapa sebenarnya komoditas Sulawesi Tengah yang bisa kita tarik melalui Pantoloan?” ujarnya.
Faradiba mengusulkan adanya target yang realistis untuk menarik sebagian aktivitas ekspor yang selama ini melalui pelabuhan di luar Sulawesi Tengah.
Salah satu skenario yang dapat dikaji, kata dia, adalah membidik sekitar 10 persen dari nilai ekspor yang saat ini dikirim melalui pelabuhan di provinsi lain.
Dengan menggunakan asumsi nilai rupiah dalam perhitungan awal, nilai yang dibidik berada di kisaran Rp1,3 triliun.
Namun, ia menekankan target tersebut perlu didukung pemetaan yang lebih terukur, mulai dari jenis komoditas, jalur pengiriman, pelaku usaha, hingga kebutuhan infrastruktur pendukung.
Menurut Faradiba, pengembangan Pantoloan tidak cukup hanya berorientasi pada pembangunan fisik pelabuhan.
Pantoloan perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi perdagangan sekaligus penguatan sistem logistik Sulawesi Tengah.
Jika semakin banyak aktivitas ekspor berlangsung melalui Sulteng, kebutuhan terhadap fasilitas pendukung juga berpotensi ikut meningkat.
Peluang investasi tersebut mencakup pembangunan gudang, cold storage, depo kontainer, jasa angkutan truk, perusahaan logistik, freight forwarding, pengemasan, layanan perbankan hingga industri pengolahan.
Karena itu, pemerintah daerah bersama pelaku usaha dinilai perlu membangun ekosistem yang mampu menarik investasi swasta.
Ketersediaan fasilitas, dukungan logistik, dan kepastian aktivitas perdagangan menjadi faktor penting agar perusahaan tertarik membangun pusat distribusi maupun fasilitas ekspor di Suteng.
Faradiba menilai penguatan ekosistem tersebut akan membuat manfaat ekonomi dari aktivitas ekspor lebih banyak dinikmati di dalam daerah.
“Kita harus menciptakan ekosistem yang membuat perusahaan swasta melihat Sulawesi Tengah sebagai lokasi yang rasional untuk membangun gudang, pusat logistik dan fasilitas pendukung ekspor. Jangan hanya komoditasnya yang keluar dari Sulteng, tetapi nilai ekonominya juga harus semakin banyak tinggal di Sulteng,” ungkapnya.
