PALU – Haul Sayid Idrus bin Salim Aljufri tidak lain untuk mengenang dan menyelami perjalanan hidup sosok yang lebih dikenal masyarakat dengan nama Guru Tua, sebagai pemimpin umat dan ulama.

“Hal inilah yang kita rasakan saat ini, hadir berkumpul di tengah yang penuh hikmat dalam pelaksanaan Haul ke 58 di kompleks perhimpunan Alkhairaat,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Alkhairaat, Habib Mohsen Alaydrus, di hadapan para jamaah Haul ke 58, Rabu (01/04).

Tentu hal ini lanjutnya, sebagai salah satu wujud komitmen untuk menyatakan Guru Tua sebagai tokoh bangsa yang hidup dalam keberagaman suku dan kebudayaan. Menunjukkan pula bahwa secara sosiologis, antropologis dan ekologis memantulkan kepribadian bangsa Indonesia.

Dalam ranah inilah, kita memahami hakekat perjalanan Guru Tua sebagai anak bangsa yang mempunyai peranan besar dalam perubahan masyarakat di Indonesia.

“Maka tak dapat dibantah Guru Tua adalah putra bangsa yang telah mengorbitkan karya monumentalnya perguruan Islam Alkhairaat. Tempat bagi generasi bangsa menempa ilmu dan akhlak menjadi dasar pembentukan kepribadian dan peradaban,” terangnya.

Pengurus Besar Alkhairaat, selaku ormas yang mengorganisir pengembangan misi pendidikan Alkhairaat. Melanjutkan misi ini, arus utama ideologi pendidikan Guru Tua ialah, membentuk kepribadian berlandaskan ilmu dan akhlak.

Ideologi ini Kata Habib Mohsen, mewarnai desain metodologi pembelajaran di madrasah, menerobos basis masyarakat di pedesaan dan memperkuat kelembagaan pondok pesantren.

Dengan prespekrtif ini Guru Tua memberi isyarat bahwa, kepribadian yang berlandaskan ilmu dan akhlak adalah, menjadi tonggak utama kebudayaan dan integritas bangsa.

“Maka madrasah merupakan basis agama seperti madrasah diniyah dan pondok pesantren sebagai pilar utama transformasi pengetahuan dan perilaku yang berkualitas dari generasi bangsa,” ujarnya.