Haul Guru Tua dan ”Stay At Home”

oleh
Kepala SMP Alkhairaat 1 Palu, Ir. Alwy Aldjufri, M.Pd.I

OLEH: Amal Alkhairaaty*

Pertama kali dalam sejarah Haul al-Haj al-Sayyid (H.S) Idrus bin Salim Aldjufri, tepatnya yang ke-52 di tahun ini tidak dilaksanakan peringatannya seperti biasanya dengan mengundang para abna’ul khairaat, muhibbin dan para ulama dari berbagai daerah bahkan luar negeri.

Kali ini haul hanya dilaksanakan oleh keluarga terbatas dengan memkhatamkan pembacaan Al-Qur’an dan pembacaan do’a tahlil di sekitaran kuburan Pendiri Alkhairaat, Habib Idrus bin Salim Aldjufri atau “Guru Tua” begitulah namanya yang sering disapa para pecintanya.

Abna’ul Khairaat dari berbagai daerah biasanya sejak tanggal 10 Syawwal setiap tahunnya sudah menuju Kota Palu dan pada 11 Syawwal akan memenuhi Masjid Alkhairaat, pelataran Kuburan dan jalan depan Masjid Alkhairaat untuk membaca Al-Qur’an, berdzikir dan mendengar wejangan dari beberapa ulama yang hadir pada saat itu.

Hari ini, 12 Syawwal 1441 Hijriyah yang biasanya menjadi puncak pelaksanaan haul ‘Guru Tua”, nuansanya berbeda dengan lima puluh satu kali pelaksanaan Haul sebelumnya. Para pecinta Habib Idrus bin Salim Aldjufri harus dengan terpaksa memperingati hari kematian sang Guru dari rumah (Stay at Home) dan daerah masing-masing, dikarenakan musibah yang mendunia pandemi Corona Virus Disease (COVID)-19 sedang mewabah.

Sekalipun tidak berkumpul di Kompleks Alkhairaat Palu tempat pelaksanan Haul “Guru Tua” biasanya dilaksanakan, namun esensi pelaksanaan Haul Habib Idrus bin Salim Aldjufri, yaitu mengenang kiprah perjuangan Beliau dan menumbuhkan semangat juang dalam diri setiap insan dalam menyebarluaskan pentingnya meraih ilmu pengetahuan dan memiliki akhlak mulia yang diajarkan dan diamanatkannya tetap terpatri pada diri abna’ul khairaat.

Setiap kali pelaksanaan haul, kita selalu mendengar pembawa manaqib atau biografi bertutur bahwa; Habib Idris bin Salim Aldjufri atau “Guru Tua” memperoleh ilmu pengetahuan pertama kali dari Ayahnya Habib Salim bin Alwy Aldjufri di rumahnya sendiri. Berarti belajar dari rumah, dari lingkungan keluarganya justru sudah dilakukan oleh Habib Idrus di usia belajarnya, beliau bahkan menghafal al-Qur’an di usia 12 tahun di rumahnya.

Bagi Abna’ul khairaat belajar sambil tinggal di rumah (Stay at home) mestinya bukanlah hal yang baru, karena hal demikian sudah dicontohkan oleh guru besar mereka. Habib Idrus bin Salim Aldjufri kecil banyak memperoleh ilmu pengetahuan dari rumahnya, sekaligus membangun komunikasi dalam keluarganya, menciptakan kreativitas dan kolaborasi bersama-sama dengan ayah ibu dan saudara-saudaranya.

Mengutip pernyataan Afrizal Sinaro yang disampaikan pada diskusi yang diadakan di kampung belajar Bina Putra yang dirilis Republika.co.id, pada situasi dimana anak berkumpul dengan keluarga di rumah, banyak aktivitas belajar yang dapat dilakukan dalam menghadapi kehidupan nyata untuk memecahkan berbagai persolan di rumah.

Dengan demikian dapat membangun ruang kemerdekaan belajar untuk “belajar di rumah” dengan aktivitas yang nyata di rumah, yang kemudian diangkat kepencapaian kompetensi di sekolah. Apalagi sekarang ini kurikulumnya berbasis kompetensi bukan berbasis konten materi.

Dari pernyataan salah seorang pakar pendidikan di atas memberikan informasi kepada kita bahwa Habib Idrus bin Salim Aldjufri atau “Guru Tua” telah debekali dengan pendidikan sesungguhnya oleh ayah beliau, Habib Salim bin Alwy Aldjufri, dengan belajar di rumahnya bahwa pendidikan bukan hanya berbasis pada konten materi tetapi berbasis kompetensi.

Hal di atas sesuai dengan pepatah arab yang masyhur terkait pembelajaran: المادة مهمة ولكن الطريقة اهم من المادة “Materi Pembelajaran adalah sesuatu yang penting, tetapi metode pembelajaran jauh lebih penting daripada materi pembelajaran.” الطريقة مهمة ولكن المدرس اهم من الطريقة “Metode pembelajaran adalah sesuatu yang penting, tetapi guru jauh lebih penting daripada metode pembelajaran.” المدرس مهم ولكن روح المدرس اهم من المدرس “Guru adalah sesuatu yang penting, tetapi jiwa guru jauh lebih penting dari seorang guru itu sendiri.”

Ungkapan inspiratif itulah yang pasti dibekali Ayah Habib Idrus sejak belajar di lingkungan rumah dan keluarganya. Haul “Guru Tua” yang ke-52 kali ini memberikan hikmah bahwa, sekalipun harus dilaksanakan di rumah atau daerah masing-masing, tetapi keterkaitan kita dengan roh Habib Idrus bin Salim Aldjufri itulah yang sangat penting. Renungkanlah. وهللا المستعان

*Alwy Muhsin Aldjufri

Iklan-Paramitha