Habib Shaleh: Bumi Tadulako Bukan Pusat Radikalisme

oleh -0 Kali Dilihat
Habib Shaleh bin Muhamad Aldjufri

PALU – Ketua Pengurus Besar (PB) Alkhairaat, Habib Shaleh bin Muhamad Aldjufri, angkat bicara menanggapi pernyataan Ketua PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Aminudin Ma’ruf yang menyebut bahwa Bumi Tadulako (sebutan khas Kota Palu) sebagai pusatnya gerakan radikal.

Menurut Habib, Bumi Tadulako bukanlah pusat radikalisme dan tak pernah melakukan pembangkangan terhadap NKRI, dari dahulu sampe saat ini.

“Kalau kita cermati gerakan Alkhairaat dari sebelum kemerdekaan sampai Indonesia merdeka, Alkhairaat selalu mengajarkan pendidikan yang tujuan pokoknya adalah cinta NKRI,” katanya.

Ajaran tersebut, lanjut Habib, sudah ditananmkan kepada Abnaul Alkhairaat dan masyarakat Sulawesi Tengah pada umumnya.

Bahkan, kata dia, Alkhairaat bukan baru kali ini bicara mengenai kecintaannya kepada NKRI. Semasa pendirinya masih hidup, yakni Habib Idrus bin Salim Aljufri, Alkhairaat-lah yang bersedia menjadi garda terdepan membela negara dari ancaman pihak manapun.

“Kemungkinan Ketum PMII kurang informasi tentang gerakan Islam di Sulteng,” kata Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dapil Sulteng itu.

Sebelumnya, Aminudin Ma’ruf, menyatakan, Bumi Tadulako sebagai pusat gerakan radikal menjadi alasan organisasi tersebut menggelar Kongres-nya yang ke-19.

Pernyataan itu diungkapkan dihadapan Presiden RI dan beberapa menteri, Gubernur Sulteng, Kapolda dan unsur terkait lainnya, pada pembukaan Kongres, di Masjid Agung Darussalam Palu, Selasa (16/05).

Berikut transkrip rekaman pidato yang diperoleh awak media ini:

 “Bapak Presiden sengaja kami membuat, melaksanakan kongres kesembilan belas di Tanah Tadulako, di Provinsi Sulawesi Tengah,  dengan tema Meneguhkan Konsensus Bernegara untuk Indonesia Berkeadaban. Di tanah ini, katanya, adalah Pusat dari gerakan radikalisme Islam. Bapak Kapolda senyum-senyum nih. Di tanah ini, katanya, adalah pusat dari gerakan menentang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia sengaja membuat kongres di tanah ini untuk membuktikan bahwa jika hadir PMII, jika ada Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, tidak sejengkal tanahpun di NKRI ini untuk mereka yang intoleran. untuk mereka-mereka yang akan merubah Pancasila sebagai dasar negara”.

Dia juga menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan kondisi keagamaan di Indonesia. Berikut lanjutan pidatonya:

Mereka yang baru saja paham keagamaan seakan-seakan paling benar, seakan surga adalah milik mereka padahal kita semua belum mengenal surga. Siapa yang mau mengenal surga duluan silahkan. Belakangan ini sesama anak bangsa saling menghujat satu bangsa beda agama, saling rebut. Satu agama beda aliran ribut juga. Satu aliran beda organisasi, ribut juga. Satu organisasi beda pendapat rebut. Satu pendapat beda pendapatan apalagi. (RIFAY)