PALU, MAL- Ketua Utama Alkhairaat, Habib Sayid Alwi bin Saggaf Aljufri, membuka Pesantren Kader Dasar Alkhairaat (PKDA) angkatan pertama yang diselenggarakan Majelis Organisasi Pengurus Besar (PB) Alkhairaat di Asrama Haji Transit Palu, Selasa (3/11/2026).

Dalam arahannya, Habib Alwi menegaskan perbedaan antara murid dan kader. Menurutnya, murid datang untuk memperoleh ilmu, ijazah, dan gelar. Setelah menyelesaikan pendidikan, mereka kembali untuk kepentingan masing-masing. Hubungan akademik dengan guru pun berakhir seiring selesainya masa belajar.

Sementara kader, kata Habib Alwi, datang untuk ditempa, kemudian kembali mengabdi kepada umat. Pengabdian seorang kader tidak dibatasi masa pendidikan karena berlangsung sepanjang hidup. Guru, dalam hubungan tersebut, merupakan orang tua rohani yang menjadi tempat belajar dan meneladani kebaikan.

“Hari ini kalian hadir bukan sebagai murid dan dengan izin Allah SWT saya kukuhkan kalian sebagai kader,” ungkap Habib Alwi.

Ia mengatakan, kader merupakan kebutuhan yang terus dinantikan pendiri Alkhairaat, Habib Sayid Idrus bin Salim Aljufri atau Guru Tua. Selama 95 tahun berdiri, Alkhairaat telah memiliki ribuan madrasah dan jutaan murid. Namun, menurutnya, Alkhairaat masih membutuhkan kader militan yang siap berkorban untuk membesarkan organisasi.

“Saya menyampaikan pesan arahan ini sekaligus saya juga menitipkan amanah pada kalian yang hadir dalam PKDA ini,” ujarnya.

Habib Alwi juga menyampaikan terima kasih kepada para peserta yang memilih jalan pengabdian. Di tengah kecenderungan anak muda mengejar popularitas melalui berbagai aplikasi, jabatan, dan harta, peserta PKDA dinilainya telah memilih jalan pengabdian dengan mengorbankan waktu dan pikiran untuk agama, bangsa, dan negara melalui Alkhairaat.

PKDA angkatan pertama diikuti perwakilan Komisariat Daerah (Komda) se-Sulawesi Tengah, badan otonom (Banom), serta sejumlah siswa sekolah Alkhairaat di Kota Palu.