Gunanta Memelihara si Seram “Chucky”

oleh -
Muhamad Gunanta Putra, dan buaya muara peliharaanya "Chucky".

Pembaca pasti tahu boneka “Chucky”. Ya, Chucky Ray adalah karakter fiksi dan antagonis utama dari franchise film Slasher Child’s Play.

Chucky digambarkan sebagai pembunuh berantai yang kejam, yang saat ia kehabisan darah dari luka tembak, mentransfer jiwanya ke dalam boneka “Orang Baik” dan terus mencoba untuk pindah ke tubuh manusia. 

Nah, nama itulah menginspirasi Muhamad Gunanta Putra, untuk menamakan buaya muara peliharaanya “Chucky”.

Buaya muara atau Crocodylus Porosus adalah jenis buaya terbesar di dunia. Bisa memiliki panjang 5,2 meter dan berat 100 kilogram.

“Apa biasa orang bilang ah boneka itu, boneka, saya kasih namalah Chucky,” kata Gunanta pria kelahiran Palu 09 Oktober 1996 saat ditemui di kediamannya Jalan Lentora, Lorong Moma, Kelurahan Mamboro, Kota Palu, Ahad (14/11).

Saat disambangi ini, Chucky baru saja diberi makan seekor ayam potong. Ia lalu dikeluarkan dari kandangnya, dilepas di teras depan rumah menjadi tontonan warga yang melintas.

Mahasiswa Universitas Tadulako (Untad) Fakultas Tehnik, Jurusan Tehnik Sipil semester akhir ini, pada awalnya lebih suka pada burung. Salah satu peliharannya, bahkan burung hantu.

Setelah itu masuklah dia pada komunitas hewan Kota Palu. Dalam komunitas itu, ada bermacam-macam reptil. Dari situlah awal ketertarikannya.

“Saya pikir mudah juga rawat reptil ini, sebab tidak setiap hari makan, sehingga ada waktu pergi kemana-mana,” kata Gun panggilan akrab dari Bapak Unan dan Ibu Novita Astarita Akase ini.

Ia lalu mencoba memelihara ular piton (ular sawah). Seiring waktu, akhirnya tertariklah dia dengan buaya. Dan kebetulan terdapat teman pencinta reptil di Makassar menawarkan buaya pada dirinya untuk dipelihara.

“Kau mau saya kirimkan ini buaya (tanya temannya). Saat itu Chucky masih berukuran sekitar 50 centimeter panjangnya,” kata Gun juga pengagum motor antik.

Maka dikirimlah Chucky buaya tersebut dari Makassar. Sejak saat itulah, sekira awal 2016, dia mulai menggeluti dunia reptil.

Kini usia Chucky kira-kira 6 tahun lebih dengan panjang 2 meter, berat sekitar 70 kilogram dalam pemeliharaan Gunanta keponakan dari Kasubdit PAM VIP Ditpamobvit Polda Sulteng, Kompol DR. Hj. Naima Akase.

Meski Chucky terlihat jinak, tapi bagi Gun tetap waspada dan menjaga diri, karena hewan buas seperti buaya, sifatnya tidak dapat ditebak. kata dia, walaupun sudah terbiasa dengan kita, insting buasnya tetap ada.

Untuk memberi makan pada piaraannya, telah beranjak dewasa Gun memberi makan seminggu dua kali , seekor ayam potong seharga Rp50 ribu.

“Waktu masih kecil ayam satu ekor dipotong, bisa sampai satu bulan diberikan. Sekarang sudah besar, ayam satu ekor sekali makan dan dua atau tiga hari lagi baru dikasih makan,” ucapnya.

Ia mengatakan, tidak anda anggaran khusus disiapkannya, dalam memberi makan. Bila sewaktu-waktu tidak memiliki uang, orang tuanyalah memberi uang, untuk membeli makanan bagi Chucky. Orang tua dan keluarga turut mendukung dengan hobinya, mereka juga senang.

Tidak ada anggaran khusus disiapkan untuk memberi makan ternaknya itu. “Biasa saya lambat kasih makan, karena belum ada uang. Orang tua kasih, ini uang untuk beli makannya Chucky,” tuturnya.

Bagi dia, selama pengalamannya berkutat pada reptil, buaya inilah hewan tidak terlalu ribet dipelihara Sebab memiliki daya tubuh yang kuat sekali.

“Alhamdulillah, sejak awal rawat sampai sekarang , tidak pernah sakit seperti malas makan, lesu dan lainya,” ujarnya.

Ia memberikan tips bagi memiliki hoby pada piaraan, lebih dulu mempelajari sifat, karakter, pola makan hewan akan dipelihara, sebelum memutuskan membeli atau memilikinya.

“Bila sewaktu-waktu menemui kendala , sudah ada info awal didapatkan tidak lagi terlalu repot kesana-kemari,” pungkasnya.

Hewan peliharaan buaya ini juga sudah memiliki surat izin penitipan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulteng.

rep: Ikram/ed: Nanang