PALU – dr. Salim Bin Alwi Aljufri, MARS menegaskan bahwa puasa Ramadan merupakan bentuk intervensi Ilahiah yang berdampak besar terhadap kesehatan fisik, mental, dan spiritual seorang muslim. Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Ta’lim Ramadan Virtual Alkhairaat bertajuk “Detox Tubuh, Kalibrasi Jiwa, dan Reprogram Otak menurut Al-Qur’an dan Science”, Ahad (22/2) siang.

Dalam kajian tersebut, dr. Salim mengupas puasa dari tiga dimensi utama, yakni biologis atau medis, psikospiritual, dan neuroscience. Ia mengawali pemaparan dengan menyinggung ajaran sederhana dalam Islam, seperti anjuran tersenyum. Mengutip hadis Rasulullah SAW bahwa bermuka manis kepada sesama adalah sedekah. Penjelasannya, bahwa secara ilmiah senyum terbukti menurunkan denyut jantung dan tekanan darah.

“Syariat Islam itu sederhana, tapi manfaatnya luar biasa. Bahkan penelitian ilmiah dari Barat membuktikan manfaat fisiologis dari tersenyum. Ini menjadi bukti bahwa di balik setiap syariat pasti ada maslahat,” jelasnya.

Lebih lanjut, dr. Salim menerangkan kondisi manusia modern yang cenderung mengalami kelebihan asupan kalori dan gula, yang berdampak pada peningkatan insulin dan inflamasi sistemik kronis. Kondisi tersebut menjadi pemicu berbagai penyakit seperti obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.

Menurutnya, puasa Ramadan adalah bentuk intervensi untuk menstabilkan kembali metabolisme tubuh.

“Selama 11 bulan kita overfeeding dan overthinking. Maka satu bulan Ramadan adalah momen membatasi makan, minum, dan kecenderungan duniawi agar fokus mendekat kepada Allah,” kata putra dari Ketua Utama Alkhairaat, HS Alwi bin Saggaf ini.

Secara medis, dr. Salim menjelaskan bahwa puasa membantu menstabilkan kadar insulin, mengaktifkan proses lipolisis atau pemecahan lemak sebagai sumber energi alternatif, serta menghasilkan keton yang dapat digunakan otak untuk meningkatkan fokus dan kejernihan berpikir.

Selain itu, puasa juga memicu proses autophagy atau mekanisme alami tubuh untuk membersihkan sel-sel rusak dan meregenerasi sel baru. Proses ini disebut memiliki kaitan dengan pencegahan pertumbuhan sel kanker dan peremajaan sel.

“Syariat puasa, tapi bonusnya diet. Syariat puasa, tapi efeknya menurunkan inflamasi dan memperbaiki metabolisme,” tegasnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa praktik puasa yang tidak diiringi pola makan dan istirahat yang baik justru dapat memicu gangguan kesehatan seperti sakit lambung, dehidrasi, insomnia, hingga gangguan mood di awal Ramadan.

Ia juga menyoroti fenomena bahwa meskipun masjid dan kajian ramai saat Ramadan, banyak orang yang belum merasakan perubahan signifikan dalam hidupnya.

“Kita sudah puluhan tahun puasa, tapi kenapa tidak ada perubahan? Ini pertanyaan besar. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum detox tubuh, kalibrasi jiwa, dan reprogram otak,” pungkasnya.