SIGI, MAL — Pencinta Alam Dolo (PALADO) melaksanakan Daki Wajib Anggota Muda Angkatan V di Gunung Nokilalaki, kawasan Taman Nasional Lore Lindu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Sabtu (29/8).

Gunung Nokilalaki memiliki ketinggian 2.355 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kegiatan tersebut diikuti 13 anggota muda, terdiri atas 11 laki-laki dan dua perempuan, dengan pendampingan pengurus serta sejumlah anggota senior PALADO. Kegiatan dipimpin Koordinator Lapangan (Korlap) Imam.

Mengusung tema “Etika di Atas Ego Menjadi Satu Langkah Besar dalam Pembentukan Karakter Kepemimpinan”, Daki Wajib tidak sekadar menjadi ajang menguji kemampuan fisik menghadapi medan pendakian. Kegiatan ini merupakan bagian dari proses pembentukan karakter, kedisiplinan, solidaritas, dan jiwa kepemimpinan anggota.

Daki Wajib menjadi salah satu tahapan yang harus dilalui anggota muda PALADO yang masih mengenakan slayer hijau sebelum menjadi anggota tetap dan memperoleh slayer ungu.

Dalam perjalanan tersebut, peserta dituntut menerapkan materi yang telah diperoleh selama pendidikan dan latihan dasar, baik Diksar Ruangan maupun Diksar Lapangan. Mereka juga diuji dalam menerapkan prosedur operasional standar perjalanan, mulai dari perencanaan dan persiapan hingga pelaksanaan serta penyelesaian perjalanan.

Aspek mental dan fisik turut menjadi bagian penting. Peserta dilatih membangun ketahanan diri, kedisiplinan, serta kemampuan bertahan hidup (survive) ketika menghadapi berbagai kondisi di alam bebas.

Namun, kemampuan individu bukan satu-satunya ukuran. Peserta juga dituntut membangun solidaritas, saling membantu, peduli terhadap anggota lain, serta menempatkan kepentingan kelompok di atas kepentingan pribadi.

Prinsip “Etika di Atas Ego” menjadi salah satu penekanan selama perjalanan. Dalam kegiatan alam bebas, kemampuan teknis dinilai tidak cukup tanpa sikap, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja dalam tim.

Peserta juga diarahkan mengenali kondisi ekosistem secara langsung sekaligus menumbuhkan kesadaran menjaga kelestarian alam sesuai Kode Etik Pecinta Alam.

Sebelum pendakian, seluruh peserta mengikuti prosesi pelepasan di Camp PALADO, Desa Kotapulu, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Jumat (28/8).

Pelepasan dipimpin Dewan Pendiri PALADO, Tuaka Sahbib, didampingi Ketua PALADO Muhammad Lutfi serta jajaran pengurus dan anggota senior.

Dalam arahannya, Tuaka Sahbib mengatakan Daki Wajib merupakan bagian dari proses panjang pembentukan karakter anggota PALADO.

“Daki Wajib bukan sekadar bagaimana seorang anggota mampu mencapai puncak. Yang lebih penting adalah bagaimana ia mampu menjaga etika, mengendalikan ego, bertanggung jawab terhadap dirinya dan tim, serta mampu mengambil keputusan dalam kondisi yang sulit. Di sanalah karakter dan jiwa kepemimpinan ditempa,” ujarnya.

Menurutnya, alam bebas memberikan ruang pembelajaran yang tidak selalu dapat diperoleh di dalam ruangan.

“Gunung bukan tempat untuk menunjukkan siapa yang paling kuat. Gunung mengajarkan bahwa kita saling membutuhkan. Karena itu, jangan pernah menempatkan ego pribadi di atas keselamatan, kebersamaan, dan tanggung jawab terhadap lingkungan,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua PALADO Muhammad Lutfi mengatakan proses pengkaderan di PALADO dirancang agar setiap anggota memahami bahwa status sebagai anggota tetap bukan sekadar simbol, tetapi juga membawa tanggung jawab terhadap organisasi, lingkungan, dan masyarakat.

“Menjadi anggota tetap PALADO bukan hanya tentang mendapatkan slayer ungu atau Nomor Registrasi Anggota. Ada proses panjang yang harus dilalui. Setiap tahapan adalah ruang untuk menguji kemampuan, mental, sikap, kedisiplinan, dan tanggung jawab seorang anggota,” kata Lutfi.

Ia menjelaskan, setelah mengikuti Diksar Ruangan, Diksar Lapangan, dan Daki Wajib, anggota muda masih harus menyelesaikan satu tahapan terakhir untuk memperoleh Nomor Registrasi Anggota (NRA).

Pada tahap tersebut, anggota diwajibkan melakukan perjalanan pendakian secara mandiri sesuai ketentuan organisasi, kemudian menyusun dan menyerahkan laporan perjalanan.

“Kami ingin anggota yang nantinya memperoleh NRA benar-benar memahami arti tanggung jawab. Mereka bukan hanya mampu melakukan perjalanan di alam bebas, tetapi juga mampu merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mempertanggungjawabkan perjalanan yang dilakukan,” jelasnya.

Lutfi berharap Angkatan V dapat menjadi generasi yang mampu menjaga nama baik organisasi sekaligus meneruskan nilai-nilai kepencintaalaman yang selama ini dibangun PALADO.

PALADO berdiri pada 1997. Hingga 2026, organisasi tersebut telah berusia 29 tahun dan melaksanakan proses rekrutmen hingga Angkatan V. Saat ini, jumlah anggota PALADO mencapai sekitar 150 orang, termasuk anggota muda yang masih menjalani proses pengkaderan.

Selama perjalanan organisasinya, PALADO tidak hanya menjalankan aktivitas pendakian dan olahraga alam bebas. Organisasi tersebut juga bergerak dalam kegiatan lingkungan, konservasi, adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, aksi kemanusiaan, serta kegiatan sosial.

PALADO turut mendukung sejumlah program pemerintah di berbagai tingkatan, termasuk program Pemerintah Kabupaten Sigi, “Pakagali Pakagaya Ngata”.

Eksistensi PALADO selama hampir tiga dekade menunjukkan bahwa kepencintaalaman bagi organisasi tersebut bukan sekadar aktivitas menikmati alam. Lebih dari itu, kepencintaalaman menjadi bagian dari proses membentuk manusia yang memiliki kepedulian, tanggung jawab, dan kebermanfaatan bagi lingkungan serta masyarakat.

Melalui Daki Wajib Anggota Muda Angkatan V, PALADO kembali menegaskan komitmennya melahirkan kader yang tidak hanya tangguh menghadapi medan alam bebas, tetapi juga memiliki etika, solidaritas, kedisiplinan, kepedulian terhadap lingkungan, dan jiwa kepemimpinan.

Bagi PALADO, mencapai puncak bukanlah akhir perjalanan. Menaklukkan ego, menjaga etika, serta bertanggung jawab terhadap sesama dan alam adalah bagian terpenting dari perjalanan seorang pecinta alam.***