POSO, MAL – Memperkuat perdamaian di Kabupaten Poso tidak cukup hanya melalui dialog lintas agama. Ketahanan mental dan kemampuan mengelola persoalan psikososial menjadi faktor penting untuk mencegah konflik sekaligus menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Civic Education for Democracy and Peace (CiDep) Sulawesi Tengah membekali 30 pemuda Muslim dan Kristen dengan keterampilan psikososial serta pengelolaan kesehatan mental.
Pelatihan yang berlangsung selama dua hari, 31 Oktober hingga 1 November 2026, di Tasiraya Cottage, Kelurahan Madale, Kabupaten Poso itu, dilaksanakan melalui kerja sama dengan WAHID Foundation dan mendapat dukungan Embassy of Denmark Jakarta.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat peran generasi muda dalam membangun perdamaian yang berkelanjutan di wilayah bekas konflik.
Pihak CiDep Sulteng, Budiman Maliki, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari penguatan kapasitas simpul pemuda yang telah terbentuk di 10 kecamatan di Kabupaten Poso.
Dampak konflik masa lalu, kata Budiman, masih menyisakan persoalan psikologis yang perlu mendapat perhatian serius, mulai dari trauma, stres hingga kerentanan sosial.
“Anak-anak muda di wilayah pascakonflik perlu memiliki kemampuan mengelola kesehatan mental, memahami persoalan psikososial, serta membangun resiliensi agar mampu menghadapi berbagai tekanan dalam kehidupan sosial,” katanya.
Para peserta, lanjut Budi, tidak hanya dibekali kemampuan untuk mengenali dan mengelola persoalan kesehatan mental secara pribadi, tetapi juga dipersiapkan menjadi penggerak perdamaian di lingkungan masing-masing.
“Dengan begitu, pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan dapat diteruskan kepada pemuda lainnya di tingkat kecamatan,” tukasnya.
Sementara itu, Koordinator kegiatan, Anto, menilai penguatan kapasitas penting untuk membangun jaringan pemuda lintas agama yang memiliki kepedulian terhadap kesehatan mental, sekaligus mampu mengenali dan merespons persoalan psikososial di tengah masyarakat. Pendekatan itu diharapkan untuk memperluas praktik toleransi melalui tindakan nyata.
“Kami ingin membangun generasi muda yang tangguh dan memiliki daya tahan dalam menjaga perdamaian,” tegasnya.
Melalui pelatihan ini, Anto berharap lahir pelopor-pelopor muda yang mampu mendorong kesadaran kesehatan mental sekaligus menjadi penjaga kerukunan lintas agama.
“Kami menilai ketahanan psikologis menjadi modal penting agar generasi muda tidak mudah terpengaruh tekanan sosial maupun provokasi yang berpotensi memicu konflik,” tandasnya.
Upaya tersebut sekaligus menegaskan bahwa pembangunan perdamaian di Poso membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Tidak hanya mengandalkan dialog dan seruan toleransi, tetapi juga membangun masyarakat yang sehat secara mental, memiliki kepedulian sosial, serta mampu menjaga persatuan demi masa depan daerah.
