Begini Cara Oligarki Hidup di Kampus Untad; Implikasi Suksesi Rektor (Bag. 2)

oleh -351 Kali Dilihat
Universitas Tadolako. (FOTO: IST)

OLEH : KPK Untad*

Dapur oligarki itu mulai bekerja meracik strateginya dari halaman fakultas. Kemenangan dalam pemilihan Dekan, sekaligus menambah 1 suara senat universitas. Lantas bagaimana hasil suksesi dekan di 10 Fakultas? Pastilah Rektor memenangkan sebagian besar Dekan terpilih. Ini buah dari 35 % suara rektor dalam suara senat yang digunakan berpihak pada keinginan Rektor.

Lalu Dekan membawa misi Rektor untuk menambah beberapa calon anggota senat lagi. Telah diatur ada tiga calon pengganti jika ketiadaan guru besar di satu fakultas. Dibikinlah syarat supaya ketiga calon harus punya tulisan jurnal internasional. Sudah pasti dosen yang sering mendapat fasilitas mengirim tulisan ke jurnal internasional memenuhi syarat pengganti calon senat dari Guru Besar. Ini seolah-olah pilihan rasional tetapi, sesungguhnya anti demokrasi dan melecehkan wibawa Guru Besar.

Demikian ambisi aktor berkuasa, sengaja memperkecil ruang bagi insan akademik yang memiliki independensi dan kemerdekaan berfikir untuk menjadi calon anggota senat. Justru, meloloskan calon yang harus tunduk manut pada kepentingan aktor oligarki.

Keberhasilan menekan psikologi sebagian Guru Besar, kesengajaan siasat rekrutmen senat pengganti guru besar, pemilihan dekan berkat 35 % suara Rektor, merupakan serangkaian bukti konkrit bekerjanya oligarki untuk mendominasi suara di senat universitas. Kalaulah tidak sedang mempersiapkan kepemimpinan rektor dari sumber oligarki, mengapa repot membuat siasat hingga menyeludupkan pasal haram dan jebakan licik dalam statuta untuk pemilihan Dekan dan rekrutmen anggota senat universitas ?

***

Basir Cyio dan kawan-kawan dalam pusat oligarki ini telah merekayasa dominasi senat untuk kepentingan suksesi Rektor. Berdasarkan teori hukum besi oligari dari Robert Michels menggariskan “kelompok berkuasa senantiasa mendelegasikan kepemimpinan pada orang orang dari kelompoknya dengan cara apapun”. Mereka tidak peduli kualitas, tetapi lebih menekankan ketaatan tanpa pamrih. Menggunakan perspektif ini, mudah terbaca bahwa oligarki sejak lahirnya telah mematok jatah kepemimpinan dari kelompok mereka sendiri, apakah ada atau tidak ada suksesi.

Maka, jika saat ini oligarki kampus diserang kaum terpelajar yang memiliki independensi dan kemerdekaan berfikir, bersikap kritis terhadap sepak terjang kepemimpinan universitas, karena melihat berbagai kebijakan yang dianggap berlawanan dengan hukum. Demikian juga, karena diduga telah menimbulkan kerugian negara yang demikian besar.

Oleh karena sasaran dari serangan ini kemungkinan mengenai status quo para aktor calon pemimpin, termasuk kader kader mereka, maka sensifitas ambisi berkuasa mereka semakin terganggu. Itulah faktor dimana mereka selalu terobsesi mensimplifikasi semua permasalahan kampus berkaitan dengan suksesi pemilihan Rektor. Sebab, otak dan saraf mereka telah dikendalikan nafsu berkuasa. Mereka seperti sedang melihat diri mereka di depan cermin retak. Mereka seringkali membaca kesalahan diri mereka sendiri ketika menghadapi pikiran orang lain.

Sesungguhnya para aktor oligarki itulah paling terobsesi dengan suksesi Rektor setiap detik. Sebab mereka selalu dibayang-bayangi kejatuhan status sosial dan ekonomi tanpa kekuasaan dalam genggaman mereka. Para aktor itu menderita semacam paranoid saban kali menghadapi kritik.

Dalam sejarah oligarki, organisasi apapun selalu menghadapi kehidupan suram. Korupsi merajalela, moralitas pejabat rusak, sumberdaya birokrasi tidak bermutu, karena juga pemimpinnya tak bermutu. Dalam ranah teoritik Vilfredo Pareto ditekankan bahwa pada situasi itu perubahan harus terjadi yaitu; segera percepatan dalam sirkulasi elit sehingga jalan organisasi bisa dinormalkan dan seluruh aset organisasi dapat diselamatkan dari penjarahan. Save Tadulako. semoga.

*KPK Untad adalah sekelompok orang yang terdiri dari akademisi yang peduli dan prihatin atas kekisruhan di kampus Untad