LUWU TIMUR, MAL – Arpa Jaska, warga Dusun Balambano, Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur, menyatakan tidak keberatan terhadap rencana jalur pipa minyak PT Vale Indonesia Tbk yang melintas di dekat permukiman.
Ia menilai keberadaan perusahaan telah memberikan manfaat bagi masyarakat setempat, mulai dari perbaikan akses jalan hingga terbukanya lapangan kerja.
Arpa, yang mengaku telah puluhan tahun tinggal di Balambano, mengatakan dirinya tidak khawatir dengan rencana jalur pipa tersebut. Ia meyakini penentuan rute telah mempertimbangkan aspek teknis dan keamanan.
“Saya pribadi sama sekali tidak keberatan meskipun pipa minyak itu lewat dekat rumah. Malah, saya sangat bersyukur dengan keberadaan Vale Indonesia,” ujar Arpa saat dikonfirmasi belum lama ini.
Menurut Arpa, perkembangan infrastruktur di wilayah Balambano telah memudahkan aktivitas masyarakat, terutama dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia membandingkan kondisi saat ini dengan masa lalu ketika warga harus menempuh perjalanan yang lebih sulit untuk berbelanja ke Wasuponda.
“Saya tumbuh dan tua di Balambano, Pak. Kami merasakan betul bagaimana kehadiran perusahaan ini mengubah desa. Bayangkan dulu kalau tidak ada Vale, betapa sulitnya kami mau membeli beras ke Wasuponda. Sekarang jalanan sudah bagus, tidak perlu lagi jalan kaki jauh-jauh hanya untuk berbelanja,” katanya.
Ia juga menyebut keberadaan perusahaan turut membuka kesempatan kerja bagi warga setempat, termasuk dirinya yang mengaku memperoleh pekerjaan berkat PT Vale Indonesia.
“Banyak warga sekarang punya penghasilan tetap, termasuk saya sendiri yang bisa bekerja berkat PT Vale. Boleh dibilang, kesejahteraan warga Balambano terangkat,” ungkapnya.
Terkait rencana pembangunan jalur pipa minyak, Arpa meyakini perusahaan mempertimbangkan aspek teknis dalam menentukan lokasi lintasan. Ia juga menyatakan kesediaannya apabila jalur pipa tersebut harus melewati tanah miliknya, tanpa menuntut ganti rugi.
“Kalau ada yang bilang semua warga Balambano menolak, itu sama sekali tidak benar. Saya bahkan sudah sampaikan ke pihak perwakilan perusahaan, sekalipun pipa minyak itu harus melintas di atas tanah pribadi saya, saya tidak akan menuntut ganti rugi. Saya paham penentuan titik jalur seperti ini tidak dilakukan asal-asalan, pasti ada hitungan teknisnya,” tegas Arpa.
Arpa juga mengkhawatirkan perubahan rute pipa justru berpotensi memunculkan persoalan baru di lokasi lain, seperti sengketa lahan dan tuntutan kompensasi. Namun, pandangan tersebut merupakan kekhawatirannya terhadap kemungkinan dampak pemindahan jalur.
Sebelumnya, rencana pengalihan rute atau reroute jalur pipa minyak PT Vale Indonesia di Balambano menuai penolakan dari puluhan warga yang tergabung dalam Forum Komunikasi Balambano. Mereka menyampaikan kekhawatiran mengenai potensi kebocoran pipa serta meminta transparansi dan sosialisasi lebih luas terkait dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). ***
