Antisipasi Masuknya Virus Corona, Legislator Minta Hentikan Sementara TKA China

oleh
Proses pemeriksaan WNA yang masuk di Bandara Syukuran Aminuddin Amir, Kota Luwuk, Kabupaten Banggai, Ahad (26/01). (FOTO: DOK. DINKES SULTENG)

PALU – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menemukan 59 kasus pneumonia (radang paru-paru) di Wuhan, Tiongkok. Wabah tersebut pertama kali terdeteksi di Wuhan pada 12 Desember 2019.

Penyakit itu diduga disebabkan oleh virus corona sebagai virus penyebab Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS).

Menyikapi itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bersama seluruh jajaran langsung melakukan antisipasi agar penyakit tersebut tidak menyebar sampai ke Indonesia. Antisipasi yang dilakukan antara lain melakukan deteksi, pencegahan, respon jika ditemukan pasien dengan gejala pneumonia berat.

Hingga Ahad (26/01) pagi, korban tewas akibat virus Corona di Cina bertambah menjadi 56 orang.

Negara-negara yang terjangkit Corona diantaranya Amerika Serikat, Australia, China, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Nepal, Prancis, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.

Di Sulteng sendiri, khususnya di Kabupaten Morowali menjadi salah satu tempat tujuan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Tiongkok. Hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri dari masyarakat, jangan sampai di antara TKA yang masuk sudah terjangkit penyakit tersebut.

Menyikapi fenomena tersebut, Anggota DPRD Sulteng, Soni Tandra menyarankan kepada investor yang beraktivitas di beberapa daerah, termasuk PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Kabupaten Morowali untuk menghentikan sementara memasukkan TKA.

“Dihentikan dulu sampai Virus Corona bisa diatasi,” katanya kepada MAL, Ahad (26/01).

Selain itu, kata dia, pemerintah juga harus memperketat pintu-pintu masuk para TKA Cina.

“Supaya kalau ada indikasi terjangkit, maka segera diisolasi,” ujarnya.

Terkait itu, Lembaga Pengawas Pelayanan Publik, Ombudsman Republik Indonesia (ORI)  Perwakilan Sulteng mempertanyakan kesiapan pemerintah dalam mengantisipasi virus dimaksud.

Kepala Perwakilan ORI  Sulteng, Sofyan Farid Lembah, mengatakan, beberapa daerah di Indonesia sudah mulai bergerak melakukan antisipasi masuknya wabah corona di daerahnya masing-masing lewat penyiapan alat detector di bandara dan pelabuhan.

“Maka tidak ada salahnya bila Sulteng juga harus bersiap. Ini bukan bentuk kepanikan, tapi sebagai langkah preventif dalam memberikan perlindungan, cegah tangkal, termasuk soal layanan publik di bidang kesehatan,” kata Sofyan.

Ia menyebutkan beberapa titik rawan keluar masuknya orang asing di Sulteng, baik sebagai wisatawan atau TKA seperti Morowali, Banggai, Morowali Utara, Tojo Una-Una dan Kota Palu sendiri.

“Jadi seberapa besar daerah-daerah tersebut menyiapkan langkah pengawasan. Sebagai contoh, kita tahu kurangnya tenaga imigrasi di Morowali khususnya di dua Bandara yang ada bahkan nihil petugas. Ini bisa menjadi titik lemah pengawasan terhadap TKA yang keluar masuk di sana,” ungkapnya.

Belum lagi, lanjut dia, pengawasan TKA asal China yang masuk lewat darat dari wilayah Sulawesi Tenggara melintasi daerah Morowali Utara kemudian masuk ke perusahaan-perusahaan di Morowali.

Tak hanya itu, keterbatasan sarana prasarana scanning (alat detector) khusus pemantau kondisi penumpang pesawat di bandara-bandara, juga menjadi kendala tersendiri.

“Ombudsman memerlukan penjelasan dinas terkait soal langkah antisipasi yang sudah dilakukan. Perlu adanya koordinasi,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulteng, dr. Reny Lamadjido, mengatakan, semua TKA asal China tidak boleh masuk Morowali.

“Di PT IMIP sendiri sudah  dilakukan pemeriksaan rutin bagi tenaga kerja China,” katanya.

Sejauh ini, lanjut dia, pihaknya bersama Dinkes kabupaten/kota bekerja sama dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) untuk pemeriksaan infra red dan thermal scan guna mengetahui suhu semua penumpang di bandara dan pelabuhan, terutama orang asing.

Menurutnya, setiap pasien yang baru datang dari  luar negeri akan mempunyai alert card  (kartu tanda warning).

“Bila suhu badanya mencapai 38 derajat celcius, maka langsung dilakukan observasi,” katanya.

Sekaitan dengan itu, pihak PT IMIP, menyatakan telah menghentikan penerimaan TKA, khususnya yang berasal dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China.

Koordinator Humas PT IMIP, Dedy Kurniawan, mengatakan, pada kawasan IMIP pihaknya juga telah melakukan identifikasi TKA yang berasal dari daerah Wuhan dan dilakukan screaning

Dedy menegaskan, seluruh karyawan diwajibkan mengikuti Medical Check Up (MCU). Selain itu, pengelola kawasan industri IMIP juga telah melakukan screaning terhadap seluruh TKA berkisar 3.000 orang yang akan masuk ke kawasan IMIP.

Dedy menuturkan, dalam kawasan IMIP telah ditempatkan alat pengukur suhu tubuh sebagai langkah preventif untuk mendeteksi awal penyebaran virus tersebut, termasuk di wilayah pelabuhan dimana terdapat balai karantina untuk melakukan pemeriksaan setiap kapal dari luar negeri.

Selain itu, pihaknya juga berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah, baik di Morowali dan Sulawesi Tengah untuk mengantisipasi hal tersebut.

Pihaknya juga terus mengupdate perkembangan tindakan pemantauan antisipasi penyebaran virus tersebut yang dilakukan pemerintah pusat di sejumlah titik yang berpotensi menjadi pintu masuk virus Corona.

“Secara internal, kami juga mengimbau karyawan untuk membiasakan bersikap hidup bersih dan sehat,” tutur mantan jurnalis itu.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Morowali juga terus melakukan koordinasi dengan sejumlah perushaan yang mempekerjakan TKA, khususnya yang berasal dari China.

“Kami sudah sebar surat edaran pencegahan. Kami akan terus mewaspadai masuknya virus corona dengan memantau perkembangan TKA di setiap perusahaan tambang,” tutur Bupati Morowali, Taslim. (HAMID/RIFAY/IKRAM)

Donasi Bencana Sulbar