Aneh, Pasca Bencana Kemiskinan di Sulteng Menurun

oleh
Kabid Statistik Sosial, Wahyu Yulianto (kiri) didampingi Kepala BPS Sulteng, Faizal Anwar memberikan keterangan pers di klantor BPS, Senin (15/07) (FOTO : MAL/YAMIN)

PALU – Walaupun provinsi Sulawesi Tengah, mengalami bencana gempa bumi pada 28 September 2018 lalu, namun kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi seperti kebutuhan makanan.

Ternyata menurut, data BPS, pada bulan Maret 2019 mengalami penurunan atau menurun dari September 2018. Hal ini didukung hasil pendataan BPS, 70 – 75 persen dari konsumsi.

Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Sulteng, Wahyu Yulianto, saat memberikan keterangan Pers, Senin (15/07) menyampaikan, pada Maret 2019, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Sulawesi Tengah yang diukur oleh Gini Ratio adalah sebesar 0,327. Angka ini relatif stagnan jika dibandingkan dengan Gini Ratio September 2018 yang sebesar 0,317, sementara itu jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2018 yang sebesar 0,346, angka tersebut turun sebesar 0,019 poin.

Pesentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2018 sebesar 9,50 persen turun menjadi 9,32 persen pada Maret 2019. Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2018 sebesar 15,41 persen turun menjadi 15,26 persen pada Maret 2019.

Sedangan selama periode September 2018 – Maret 2019, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan naik sebanyak 0,90 ribu orang (dari 83,84 ribu orang pada September 2018 menjadi 84,74 ribu orang pada Maret 2019), sementara di daerah perdesaan turun sebanyak 4,03 ribu orang (dari 329,65 ribu orang pada September 2018 menjadi 325,62 ribu orang pada Maret 2019).

Walaupun angka penduduk miskin Sulteng mengalami penurunan di bulan Maret 2019, akan tetapi pada kondisi nasional penduduk miskin Sulawesi Tengah berada di urutan ke 9 teratas  yang memiliki angka kemiskinan tertinggi dari 34 Provinsi se Indonesia.

Selain itu persentase penduduk miskin di Sulawesi Tengah dibanding provinsi lain di kawasan Sulawesi juga masih cukup tinggi. Persentase kemiskinan di Sulawesi Tengah menempati urutan tertinggi kedua setelah Gorontalo.

Dari sisi jumlah, penduduk miskin di Sulawesi Tengah juga tergolong besar. Jumlah penduduk miskin sebesar 410,36 ribu orang merupakan tertinggi kedua setelah Sulawesi Selatan yang sebesar 767,80 ribu orang. Walaupun angka penduduk miskin Sulawesi Tengah mengalami penurunan di bulan Maret 2019, namun dari sisi ketimpangan megalami kenaikan dibanding bulan September 2019.

Lebih jauh Wahyu menjelaskan, peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (misalnya perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan pada Maret 2019 tercatat sebesar 76,35 persen. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan kondisi September 2018 yaitu sebesar 76,14 persen.

Komoditi  beras yang memberi sumbangan sebesar 20,33 persen di perkotaan dan 24,85 persen di perdesaan.

Rokok kretek filter juga memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap GK sebesar 18,09 persen di perkotaan dan 16,98 persen di perdesaan.

Komoditi lainnya adalah kelompok kue basah  sebesar 2,79 persen di perkotaan dan 3,23 persen di perdesaan, ikan tongkol, tuna, cakalang  sebesar 2,76 persen di perkotaan dan 3,16 persen di perdesaan, gula pasir 2,22 persen di perkotaan dan 3,11 persen di perdesaan. (YAMIN)