PALU – Selama April 2019, Kota Palu mengalami kenaikan inflasi sebesar 0,72 persen. Angka tersebut membuat Kota Palu berada di peringkat sembilan secara nasional dan kedua di kawasan Sulampua.
Sedangkan indeks harga kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar selama April 2019 mengalami penurunan sebesar 0,09 persen.
Kepala Bidang Statistik Distribusi, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulteng, G A. Nasser, Kamis (02/05), mengatakan, kenaikan inflasi itu dipengaruhi naiknya indeks harga pada kelompok bahan makanan sebesar 3,20 persen, diikuti kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,44 persen, kesehatan 0,20 persen, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,10 persen, pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,03 persen, serta sandang 0,02 persen.
“Beberapa komoditas utama yang memiliki andil terhadap inflasi antara lain ikan selar 0,06 persen, ikan cakalang 0,11 persen, bawang merah 0,09 persen, tarif angkutan udara 0,08 persen, ikan ekor kuning 0,07 persen, ikan layang 0,07 persen, bawang putih 0,05 persen, bayam 0,05 persen, daging ayam ras 0,04 persen, dan kangkung 0,04 persen,” terangnya.
Kata Nasser, pada periode yang sama, inflasi year on year Kota Palu mencapai 5,55 persen.
“Komoditas yang memiliki andil negatif terhadap inflasi antara lain ikan kambung 0,06 persen, telur ayam ras 0,06 persen, tahu mentah 0,03 persen, nangka muda 0,03 persen, tarif listrik 0,02 persen, cumi-cumi 0,01 persen, terong panjang 0,01 persen, mie kering instan 0,01 persen, ikan asin belah 0,01 persen dan sawi hijau 0,01 persen,” jelasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, dari 82 kota pantauajn IHK nasional, sebanyak 77 kota mengalami inflasi dan lima kota mengalami deflasi.
Inflasi tertinggi terjadi di Kota Medan sebesar 1,30 persen dan terendah di Kota Pare-Pare sebesar 0,03 persen.
Sementara deflasi tertinggi terjadi di Kota Manado sebesar 1,27 persen dan terendah di Kota Maumere sebesar 0,04 persen. (YAMIN)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.