TOJO UNA-UNA- Aktivis lingkungan Ahmad Alhabsyi mengecam tidak transparannya Bupati Tojo Una-una terkait pembukaan lahan sawit di kabupaten Tojo Una-una, padahal area rawan banjir berada di jalan trans Sulawesi menghubungkan antara kabupaten Poso dan kabupaten Tojo Una-una.
“Program diberi nama “hijau emas” dari Bupati Tojo Una Una sangat merugikan banyak masyarakat. Penanaman sawit sangat bertolak belakang dengan hasil penelitian,” katanya.
Ia mengatakan, sawit tanaman monokultur dengan akar serabut yang dangkal, sehingga kurang efektif menahan air disandingkan hutan alami. Lahan sawit terbuka meningkatkan risiko erosi dan sedimentasi lumpur menyebabkan sungai dangkal dan keruh.
“Perluasan perkebunan sawit berisiko mengonversi area hutan berfungsi sebagai daerah resapan air, meningkatkan kerentanan wilayah terhadap banjir bandang,”ujar Ahmad.
Baru-baru ini, banjir melanda Desa Padang Pujiti, perbatasan Kecamatan Ulubongka dan Kecamatan Tojo, Kabupaten Tojo Una-Una, pada Jumat (3/4) akibat hujan deras. Banjir membawa material lumpur dan batu sempat memutus akses Jalan Trans Sulawesi.
Hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan debit air sungai meningkat, meluap, dan membawa material ke jalan. Banjir bandang mengakibatkan jembatan putus, akses Trans Sulawesi terputus, dan merendam ratusan rumah. Warga menjadi korban dan merusak jembatan utama. Area rawan mencakup Kecamatan Tojo, Ulubongka, dan Ampana Kota, terutama di bantaran sungai dan lereng perbukitan.
“Hujan deras seringkali memicu tanah longsor menutup akses jalan, seperti di jalur Padapu–Bongka,” sebutnya.

