PALU – Keindahan wisata bahari di Kecamatan Menui Kepulauan, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, dinilai belum mampu menarik banyak wisatawan.
Padahal, daerah ini memiliki potensi alam yang besar dengan laut biru dan gugusan pulau kecil yang masih alami.
Ikra, mahasiswa Jurusan Geografi Universitas Tadulako, menilai, persoalan utama sepinya kunjungan wisata bukan terletak pada kurangnya potensi, melainkan pada keterbatasan akses menuju lokasi.
“Indahnya destinasi wisata tidak cukup jika wisatawan sulit untuk mencapainya,” ujar anggota Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Menui Kepulauan (IPPMMK) Kota Palu ini.
Ia menjelaskan, dalam perspektif geografi, khususnya konsep interaksi desa-kota, suatu wilayah dapat berkembang apabila terjadi aliran yang lancar antara desa dan kota, baik berupa pergerakan orang, informasi, maupun aksesibilitas.
Dalam konsep tersebut, terdapat tiga faktor utama, yakni komplementaritas, transferabilitas, dan tidak adanya hambatan wilayah lain. Namun, kata dia, persoalan Menui Kepulauan paling menonjol berada pada aspek transferabilitas atau kemudahan akses.
Minimnya sarana transportasi menuju wilayah kepulauan menjadi penghambat utama. Kondisi ini menyebabkan interaksi antara kota sebagai sumber wisatawan dan desa sebagai tujuan wisata tidak berjalan optimal.
Padahal, upaya promosi sebenarnya telah dilakukan. Dalam beberapa tahun terakhir, putra-putri daerah Menui Kepulauan bahkan terpilih sebagai duta pariwisata Kabupaten Morowali pada 2022 dan 2023, yang aktif memperkenalkan potensi daerah melalui berbagai ajang dan media sosial.
Namun, promosi tersebut belum mampu berbanding lurus dengan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan.
“Informasi sudah terbuka, tapi tanpa akses yang memadai, itu tidak berubah menjadi kunjungan nyata,” jelasnya.
Selain faktor akses, Ikra juga menyoroti perlunya penguatan perhatian pemerintah daerah dalam pengelolaan sektor pariwisata.
Menurutnya, keterbatasan fasilitas dan belum optimalnya pengelolaan dinilai turut membuat potensi wisata yang ada belum memberikan dampak ekonomi signifikan bagi masyarakat setempat.
Lanjut dia, Menui Kepulauan bukanlah daerah yang kekurangan daya tarik wisata. Justru, kawasan ini memiliki kekayaan wisata bahari yang besar dan masih terjaga keasriannya.
“Persoalannya bukan pada ada atau tidaknya potensi, tetapi bagaimana potensi itu dihubungkan dengan dunia luar,” ujarnya.
Ia menambahkan, apabila konektivitas transportasi diperbaiki serta pengelolaan destinasi diperkuat, Menui Kepulauan berpeluang menjadi salah satu destinasi unggulan di Sulawesi Tengah.

