Ahli Jagung Asal Maros Sowan ke Ketua Utama Alkhairaat

oleh -
Kepala Balai Sereal Maros, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian RI, Dr. Muhammad Azrai saat bersilaturahmi di kediaman HS Saggaf Aljufri, Senin (24/07). (FOTO: IST)

PALU – Kepala Balai Sereal Maros, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian RI, Dr. Muhammad Azrai menyempatkan diri bersilaturrahmi dengan Ketua Utama Alkhairaat, HS. Saggaf Aljufri, di kediamannya, Senin (24/06).

Di kediaman Habib, peneliti dan ahli jagung dari Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros ini mendapat jamuan makan siang dari Habib.

Kedatangannya di Palu dalam rangka menghadiri penanaman perdana benih jagung Bima URI di lahan pertanian  Pondok  Pesantren (Ponpes) Madinatul Ilmi, Desa Kotarindau, Kecamatan Dolo.

Kehadirannya didampingi Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Sulteng, Dr Andi Baso bersama staf, Sekretaris Yayasan Dr. Agus Lamakarate, Dekan Fakultas Pertanian Unisa Dr. Hj. Hasmari Noer serta para dosen dan mahasiswa Unisa dan Untad.

Dalam arahannya, Muhammad Azrai mengingatkan kepada pengelola Ponpes dan para santri yang telah ditugaskan untuk melakukan perawatan intensif dengan memperhatikan lingkungan pertumbuhannya.

Penemu varietas benih jagung Bima URI itu menambahkan, benih itu dikembangkan khusus untuk rakyat Indonesia, sehingga tidak akan dilisensikan untuk perusahaan manapun.

“Varietas Bima URI ini tidak akan dilisensikan, ini milik rakyat Indonesia, sehingga pemerintah, para kelompok tani dan kelompok penangkar harus mengembangkannya,” harapnya.

Dia juga menyampaikan awal mula menemukan varietas yang berasal dari persilangan tersebut, yakni antara hibrida silang tunggal 6180/mr.14 sebagai tetua betina dan galur Nei 9008p sebagai tetua jantan, dengan umur 50 persen keluar rambut kurang lebih 58 hari setelah tanam.

Tambah dia, varietas Bima URI ini yang dikembangkan di lahan Ponpes Madinatul Ilmi itu memiliki kelebihan, diantaranya tahan penyakit bulai, karat dan hawan daun.

Dia berharap, kerjasama antara BPTP Sulteng dan Ponpes Madinatul Ilmi bisa menjadi sarana pembelajaran bagi santri dan mahasiswa pertanian.

“Dan yang terpenting, varietas yang sudah banyak meraih penghargaan Internasional ini, produksinya di daerah akan semakin mendekatkan benih dengan petani. Ini artinya, benih itu akan selalu tersedia saat petani membutuhkannya,” pungkasnya. (IWANLAKI)