MUNICH, MAL — Produsen otomotif raksasa asal Jerman, BMW Group, menyiapkan skema pesangon BMW fantastis yang mencapai Rp13 miliar per orang guna memangkas sekitar 8.000 tenaga kerja secara global hingga akhir 2027.

Program pengunduran diri sukarela ini diambil sebagai bagian dari strategi efisiensi besar-besaran untuk menghadapi tekanan pasar otomotif dunia yang kian berat.

Perusahaan menawarkan paket kompensasi maksimal senilai lebih dari 650.000 euro atau setara Rp13,1 miliar, tergantung pada kriteria usia, masa kerja, dan besaran gaji terakhir karyawan.

Langkah strategis ini diharapkan mampu menghasilkan penghematan biaya tahunan hingga 1 miliar euro atau sekitar Rp18 triliun mulai tahun 2028 mendatang.

CEO BMW, Milan Nedeljković, mengungkapkan bahwa restrukturisasi ini sangat krusial untuk menjaga daya saing perusahaan di tingkat internasional. Fokus utama dari program ini adalah mengoptimalkan margin operasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan margin operasional perusahaan dari 3 persen menjadi 5 persen pada tahun tersebut,” kata Milan Nedeljković, CEO BMW.

Pengumuman ini sempat memicu lonjakan akses luar biasa pada portal internal perusahaan hingga menyebabkan gangguan sistem. Manajemen BMW Group melaporkan bahwa sistem mereka sempat mengalami crash setelah puluhan ribu karyawan mencoba masuk secara bersamaan untuk melihat estimasi nilai kompensasi masing-masing.

Selain pesangon pokok, perusahaan juga menyediakan skema Turbo Bonus bagi karyawan yang bersedia mengundurkan diri lebih awal sebelum 31 Maret 2027.

Skema pembayaran pesangon BMW ini ditawarkan dalam beberapa opsi, mulai dari pencairan sekaligus, pembayaran bertahap, hingga pengalihan sebagian dana ke program pensiun atau asuransi.

Kebijakan efisiensi ini dilakukan di tengah lesunya performa pasar di China dan meningkatnya biaya perdagangan akibat tarif internasional.

BMW bukan satu-satunya manufaktur Jerman yang melakukan langkah drastis, mengingat industri otomotif Eropa saat ini sedang berjuang menghadapi persaingan ketat dari produsen kendaraan listrik asal Asia.