​ Oleh : Mohsen Hasan

Kaum Houthi adalah kelompok pemberontak bersenjata asal Yaman yang menganut aliran Islam Syiah Zaidiyah dan secara resmi menamakan diri mereka Ansar Allah (Penolong Allah).

Asal-usul & Pendiri: Dibentuk pada 1990-an di Sa’dah, Yaman utara, oleh Hussein al-Houthi untuk melawan pemerintahan Presiden Ali Abdullah Saleh. Saat ini, kelompok ini dipimpin oleh saudaranya, Abdul-Malik al-Houthi.

Ideologi & Slogan: Mereka berasal dari minoritas Syiah Zaidiyah di Yaman (mewakili sekitar 30% penduduk). Sejak 2003, mereka mengusung slogan terkenal: “Allah Maha Besar, Kematian bagi AS, Kematian bagi Israel, Terkutuklah Yahudi, dan Kemenangan bagi Islam”.

Konflik di Yaman: Pada 2014–2015, Houthi merebut ibu kota Sana’a dan menguasai sebagian besar wilayah utara serta barat Yaman. Hal ini memicu intervensi militer koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi pada 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Poros Perlawanan & Hubungan dengan Iran: Houthi adalah bagian dari “Poros Perlawanan” anti-Barat dan anti-Israel yang dipimpin oleh Iran (bersama Hamas dan Hizbullah), di mana Iran memberikan dukungan logistik, rudal, serta drone

Keterlibatan Internasional Terkini: Sejak pecahnya perang di Gaza pada Oktober 2023, Houthi melancarkan serangan drone dan rudal ke arah Israel serta menyerang kapal-kapal kargo dagang di jalur pelayaran Laut Merah dan Teluk Aden, yang kemudian membalas dengan serangan udara dari Amerika Serikat, Inggris, dan Israel.

Untuk memahami Houthi, tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa mereka adalah “kelompok Syiah yang loyal kepada Iran”, karena ini merupakan penyederhanaan yang berlebihan secara historis dan mazhab. Pada dasarnya, gerakan Houthi lahir dari lingkungan Zaidiyyah Yaman, yang kemudian merekonstruksi unsur-unsur Zaidiyyah dengan pemikiran revolusioner yang terpengaruh oleh pengalaman Iran, lalu mengubahnya menjadi proyek keagamaan, politik, dan militer.

​1. Akar Zaidiyyah

​Akar tertua mereka adalah Mazhab Zaidiyyah yang masuk ke Yaman pada abad ke-3 Hijriah / ke-9 Masehi bersama Imam Al-Hadi Yahya bin Al-Husayn, dan menetap khususnya di wilayah Yaman Utara dan Sa’dah.

Zaidiyyah berbeda dari Syiah Dua Belas Imam (Itsna ‘Asyariyah) Iran dalam persoalan-persoalan pokok akidah dan fikih. Secara historis, Zaidiyyah justru lebih dekat dengan beberapa mazhab Sunni dibandingkan dengan Syiah Dua Belas Imam. Di antara karakteristik utamanya adalah:

  • ​Mengedepankan Ahlulbait serta kedudukan agama dan politik mereka.
  • ​Memperbolehkan pemberontakan/perlawanan terhadap penguasa yang zalim.
  • ​Tidak membatasi keimaman pada imam yang gaib dan ma’shum (terpelihara dari dosa).
  • ​Memiliki peran akal dan logika yang kuat, sebagai dampak dari pengaruh historis Mu’tazilah.
  • ​Membuka pintu ijtihad secara luas.

​Di sinilah letak salah satu kunci utama untuk memahami Houthi: gagasan revolusi melawan penguasa yang zalim bukanlah hal yang asing dalam tradisi warisan Zaidiyyah.

​ 2. Memori Keimaman Hasyimiyah

​Terdapat pula dimensi historis yang berkaitan dengan “Keimaman Zaidiyyah” di Yaman, yang telah memerintah bagian wilayah utara negeri tersebut selama berabad-abad.

Namun, perlu dibedakan antara Zaidiyyah sebagai mazhab keagamaan dengan sistem keimaman politik historisnya; mazhab Zaidiyyah jauh lebih luas daripada Houthi, dan banyak pengikut Zaidiyyah yang tidak mendukung proyek Houthi.

​ 3. Konfrontasi dengan Salafiyyah

​Pada era 1970-an dan 1980-an, aktivitas Salafi meluas di wilayah-wilayah Zaidiyyah di Yaman utara dengan dukungan resmi maupun luar negeri, sehingga Sa’dah khususnya menjadi arena persaingan keagamaan antara Zaidiyyah dan Salafiyyah.

Dari sinilah terbentuk salah satu komponen penting dalam kesadaran Houthi: perasaan bahwa identitas Zaidiyyah terancam oleh gelombang Salafiyyah. Pusat Dar Al-Hadits di Dammaj menjadi salah satu titik perselisihan paling menonjol dalam konflik ini.

​4. “Forum Pemuda Beriman” (Muntada Al-Syabab Al-Mu’min)

​Pada tahun 1992, Forum Pemuda Beriman didirikan di Sa’dah dengan tujuan menghidupkan kembali pemikiran Zaidiyyah dan membina generasi muda berdasarkan pemikiran tersebut.

Namun, bergabungnya Hussein Badreddin al-Houthi ke dalam forum ini pada tahun 1999 mengubah fungsinya secara bertahap. Forum ini berubah dari proyek pendidikan untuk menghidupkan Zaidiyyah menjadi platform politik dengan retorika mobilisasi massa, hingga akhirnya berkembang menjadi gerakan pembebasan. Di sinilah kekhasan gerakan Houthi mulai muncul.

​ 5. Hussein Al-Houthi dan Rekonstruksi Zaidiyyah

​Hussein Al-Houthi tidak hanya sekadar mereproduksi Zaidiyyah tradisional, tetapi mereinterpretasikannya dalam konteks isu-isu kontemporer:
Kepemimpinan + Ahlulbait + Perlawanan terhadap Kezaliman + Perlawanan terhadap Dominasi Asing + Mobilisasi Keagamaan dan Politik.

Ceramah dan ceramah-ceramah terkenalnya menjadi salah satu sumber doktrin ideologis terpenting bagi gerakan ini.

​ 6. Pengaruh Revolusi Iran

​Di sinilah faktor Iran masuk.

Houthi terpengaruh oleh narasi Revolusi Iran tahun 1979, terutama konsep-konsep seperti:

Kesombongan Global (Al-Istikbar Al-‘Alami) – Perlawanan terhadap Imperialisme – Menghadapi Amerika Serikat dan Israel – Poros Perlawanan (Mihwar Al-Muqawamah) – Revolusi melawan Kesewenang-wenangan.
Hussein Al-Houthi juga terpengaruh oleh sosok Ruhollah Khomeini dan pengalaman politik Iran. Studi mengenai asal-usul gerakan ini menyebutkan bahwa Hussein Al-Houthi pada tahap awal telah terpengaruh oleh Syiah Dua Belas Imam dan pandangan politik Iran. Namun, ini tidak berarti bahwa Houthi berubah begitu saja menjadi pengikut Syiah Dua Belas Imam ala Iran.

​ 7. Hubungan antara Zaidiyyah dan “Wilayat Al-Faqih”

​Ini adalah salah satu poin paling menarik.

Terdapat kemiripan politik antara pandangan Zaidiyyah tradisional dengan teori Wilayat Al-Faqih pada satu poin mendasar: keduanya sama-sama menolak gagasan ketundukan pada penguasa yang zalim dan memberikan peran politik kepada kepemimpinan agama.

Namun perbedaannya sangat mendasar: Zaidiyyah tradisional tidak berlandaskan pada konsep kemaksuman (‘ishmah) Imam atau Wali Al-Faqih dalam pengertian Syiah Dua Belas Imam Iran.

Oleh karena itu, pemikiran Houthi kontemporer mewakili sintesis baru: unsur-unsur Zaidiyyah, unsur-unsur narasi revolusioner Iran, dan unsur-unsur yang berkaitan dengan karakteristik masyarakat Yaman.

​ 8. Transformasi dari “Zaidiyyah” ke Identitas Syiah

yang Lebih Jelas
​Secara tradisional, banyak penganut Zaidiyyah Yaman tidak memperkenalkan diri mereka sebagai “Syiah” dalam arti umum, melainkan sebagai pengikut mazhab Zaidiyyah independen yang memiliki kedekatan dengan Sunni dalam banyak hal.

Adapun retorika Houthi lebih mendorong penonjolan afiliasi ke dalam lingkup Syiah dan kedekatan simbolis dengan Iran, Irak, dan Lebanon, serta menghidupkan kembali beberapa tradisi dan acara yang sebelumnya bukan merupakan bagian utama dari praktik Zaidiyyah tradisional di Yaman.

​9. Gagasan “Al-Qur’an dan Pemimpin”

​Salah satu unsur menonjol dalam narasi Houthi modern adalah fokus pada konsep “Al-‘Alam” atau Pemimpin yang memiliki pengetahuan, petunjuk, dan kemampuan untuk memimpin kelompok, serta mengaitkan kepemimpinan agama dan politik dengan Al-Qur’an.

Ini menandai pergeseran dari Zaidiyyah tradisional menuju model gerakan mobilisasi yang menjadikan persatuan kelompok dan kepatuhan kepada pimpinan sebagai elemen sentral. Studi tentang pemikiran Houthi mencatat bahwa fokus pada kepemimpinan dan kepatuhan ini melampaui beberapa ciri Zaidiyyah tradisional.

​ 10. Lantas: Apa itu Akidah Houthi?

​Dapat dirumuskan secara pemikiran dalam lima muara yang saling berkaitan:

Zaidiyyah Historis

Warisan Keimaman & Prioritas Ahlulbait

Narasi Revolusioner Hussein Al-Houthi

Pengaruh Revolusi Iran & Konsep Perlawanan

Realitas Yaman: Suku, Konflik Politik, dan Salafiyyah

​Dari kombinasi inilah lahir Houthisme sebagai fenomena independen yang tidak dapat disederhanakan sepenuhnya sebagai Zaidiyyah saja, maupun Syiah Dua Belas Imam Iran saja.

​ Kesimpulan/Khulasoh

​Persamaan yang paling akurat adalah:

Houthisme bukan sekadar Zaidiyyah, dan bukan sekadar versi Yaman dari Syiah Dua Belas Imam Iran; melainkan sebuah rekonstruksi Zaidiyyah politik Yaman di dalam narasi revolusioner modern yang terpengaruh oleh pengalaman Iran, serta dipupuk oleh konflik dengan Salafiyyah dan krisis negara Yaman.

​Adapun dukungan Iran merupakan faktor penting dalam perkembangan Houthi, tetapi bukti dan analisis berbeda pandangan mengenai besaran dan sifatnya. Secara historis, tidak tepat menyederhanakan kemunculan gerakan ini hanya pada faktor tersebut; karena akar lokal Houthi jelas mendahului aliansi Iran-Houthi.

​Hal inilah yang menjadikan Houthi sebagai fenomena pemikiran dan politik yang kompleks: akarnya adalah Zaidiyyah Yaman, namun dirumuskan kembali dengan bahasa revolusi, perlawanan, dan identitas politik Syiah.

Wallahuàlam bishashawab

Jumat; 982026