SETIAP kali muncul kasus guru menghukum murid dengan cara yang dianggap berlebihan, perdebatan hampir selalu kembali ke masa lalu. Ada orang dewasa yang berkata, “Dulu guru memukul murid, kami tidak ada yang protes. Bahkan kalau mengadu ke orang tua, malah tambah dihukum.” Kalimat itu seolah ingin mengatakan bahwa anak-anak sekarang terlalu sensitif, sementara pendidikan masa lalu lebih berhasil membentuk manusia.
Namun persoalannya tidak sesederhana itu. Generasi yang dahulu menerima hukuman keras di sekolah kini sebagian telah menjadi orang tua yang berdiri paling depan ketika anaknya mengalami perlakuan serupa. Mereka yang dulu menerima bentakan, cubitan, pukulan atau hukuman dari guru, hari ini bisa membawa persoalan tersebut ke sekolah, bahkan ke ranah hukum. Di sinilah paradoks pendidikan kita terlihat.
Paradoks itu menarik karena menunjukkan bahwa perubahan cara mendidik tidak hanya terjadi pada anak, tetapi juga pada orang dewasa. Orang tua hari ini adalah produk pendidikan masa lalu, tetapi mereka membesarkan anak dalam zaman yang memiliki pemahaman berbeda tentang hak anak, kekerasan dan relasi antara guru dengan murid.
Maka, pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan apakah pendidikan dulu lebih baik daripada pendidikan sekarang. Pertanyaannya adalah apa yang dahulu berhasil dipertahankan dan apa yang seharusnya ditinggalkan.
Pendidikan masa lalu mungkin memiliki satu hal yang semakin sulit ditemukan sekarang: batas yang jelas. Guru memiliki otoritas, anak memahami bahwa ada konsekuensi atas pelanggaran, dan orang tua tidak selalu masuk ke setiap persoalan sekolah untuk membela anak. Tetapi di balik itu terdapat praktik-praktik yang hari ini tidak lagi dapat dibenarkan, terutama ketika disiplin berubah menjadi kekerasan dan otoritas berubah menjadi penghukuman.
Sebaliknya, pendidikan hari ini memiliki kesadaran yang jauh lebih kuat terhadap hak anak. Anak tidak semestinya dipukul, dipermalukan atau diperlakukan secara sewenang-wenang atas nama pendidikan. Perubahan ini penting. Tetapi perlindungan terhadap anak juga tidak boleh berubah menjadi keyakinan bahwa anak tidak boleh ditegur, tidak boleh diberi konsekuensi, atau selalu harus dibela ketika melakukan kesalahan.
Di sinilah kita membutuhkan cara pandang baru. Hak anak dan disiplin bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Anak berhak diperlakukan dengan bermartabat, sekaligus memiliki kewajiban untuk menghormati aturan, guru dan teman. Guru tidak boleh menggunakan kekerasan, tetapi guru juga membutuhkan otoritas untuk menjaga proses belajar. Orang tua berhak melindungi anak, tetapi perlindungan itu seharusnya tidak berarti membenarkan semua tindakan anak.
Masalah pendidikan kita mungkin terletak pada kegagalan menemukan bentuk disiplin setelah kekerasan ditinggalkan. Kita semakin memahami bahwa hukuman fisik bukan cara yang tepat untuk mendidik, tetapi belum selalu memiliki budaya dan mekanisme yang kuat untuk menggantikannya. Akibatnya, sebagian guru masih membawa pola lama, sementara sebagian orang tua meresponsnya dengan pola baru yang sama-sama ekstrem.
Padahal disiplin dapat dibangun tanpa kekerasan. Anak yang melanggar aturan tetap perlu berhadapan dengan konsekuensi. Perbedaannya, konsekuensi tersebut harus mendidik, proporsional dan berkaitan dengan kesalahan yang dilakukan. Anak yang merusak sesuatu perlu belajar bertanggung jawab memperbaikinya. Anak yang mengganggu proses belajar perlu belajar memulihkan akibat perbuatannya. Dengan begitu, disiplin tidak lahir dari rasa takut, tetapi dari pemahaman tentang tanggung jawab.
Karena itu, kita tidak perlu kembali kepada pendidikan lama hanya karena generasi sebelumnya merasa berhasil melewatinya. Pengalaman bahwa seseorang pernah dipukul guru dan kemudian tumbuh menjadi orang baik tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa pemukulan merupakan metode pendidikan yang baik. Tetapi kita juga tidak perlu membangun pendidikan baru yang membuat anak tumbuh tanpa batas hanya karena kekerasan harus ditolak.
Yang diperlukan adalah jalan ketiga: pendidikan yang meninggalkan kekerasan tanpa meninggalkan disiplin, melindungi hak anak tanpa menghapus tanggung jawab, dan memperkuat posisi guru tanpa memberikan kekuasaan untuk bertindak sewenang-wenang.
Perubahan itu juga menuntut kedewasaan dari orang tua. Membela anak bukan berarti selalu membenarkan anak. Dalam konflik antara guru dan murid, orang tua semestinya tidak buru-buru memilih siapa yang harus dihukum. Yang lebih penting adalah memastikan apa yang terjadi, mengapa itu terjadi, siapa yang melakukan kesalahan, dan bagaimana persoalan tersebut diselesaikan tanpa menghilangkan fungsi pendidikan.
Sekolah juga perlu menjadi ruang pertama untuk menyelesaikan konflik pendidikan secara adil. Tidak semua kesalahan guru harus ditutup atas nama kehormatan profesi, tetapi tidak setiap persoalan murid pula harus langsung dibawa keluar sekolah. Ada persoalan yang memang membutuhkan mekanisme hukum, tetapi banyak persoalan lain membutuhkan dialog, evaluasi dan pemulihan hubungan.
Kita sedang meninggalkan pendidikan yang terlalu banyak menggunakan rasa takut sebagai alat kontrol. Tantangannya sekarang adalah jangan sampai kita menggantinya dengan pendidikan yang kehilangan batas dan otoritas. Anak membutuhkan rasa aman, tetapi juga membutuhkan batas. Guru membutuhkan perlindungan, tetapi juga harus bertanggung jawab. Orang tua membutuhkan ruang untuk membela anak, tetapi juga harus berani mengatakan kepada anak ketika ia melakukan kesalahan.
Jadi, persoalannya bukan pendidikan dulu atau pendidikan sekarang. Persoalannya adalah pendidikan seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya.
Kita tidak perlu mewariskan ketakutan yang pernah dialami generasi sebelumnya. Tetapi kita juga tidak boleh mewariskan kepada anak-anak sebuah dunia tanpa konsekuensi. Pendidikan yang matang seharusnya membuat anak memahami bahwa dirinya berharga, tetapi orang lain juga berharga; bahwa ia memiliki hak, tetapi juga memiliki tanggung jawab; dan bahwa kesalahan tidak harus dibalas dengan kekerasan, melainkan dihadapi dengan keberanian untuk memperbaikinya.
Mungkin inilah pekerjaan pendidikan kita hari ini: bukan memilih antara masa lalu dan masa kini, tetapi mengambil pelajaran dari keduanya untuk membangun sekolah yang lebih manusiawi sekaligus lebih bertanggung jawab.
