PALU – Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Tadulako (Untad), Prof. Rosmala Nur, mengungkap kronologi perselisihannya dengan wartawan Radar Sulteng, Andika Nur Hikmah, saat peliputan program Berantas Infeksi TB, Mahasiswa Jaga dan Sayang Keluarga (Berani Magaya).
Rosmala menjelaskan, persoalan bermula ketika dirinya dikonfirmasi wartawan terkait pelaksanaan program, khususnya mengenai alat pelindung diri (APD) yang digunakan mahasiswa dalam mendampingi pasien tuberkulosis (TB).
Ia mengaku terkejut ketika hendak maju menemui wartawan, tetapi kemudian merasa ditahan. Karena tidak mengetahui identitas orang yang berada di hadapannya dan merasa tidak aman, Rosmala memilih masuk ke ruang rapat untuk mengamankan diri di tengah mahasiswa.
“Sebagai perempuan, saya tidak tahu ini siapa karena tidak memperkenalkan diri. Saya khawatir jangan sampai saya mau dipukul atau bagaimana,” katanya, didampingi jajaran pimpinan FKM Untad saat konferensi pers di Aula Dekanat FKM Untad Palu, Sabtu.
Rosmala mengatakan, pada saat itu dirinya terus mendapat pertanyaan dari mahasiswa mengenai APD yang disebut dibebankan kepada mahasiswa.
Ia kemudian menjelaskan bahwa mahasiswa telah dua kali menerima pembagian APD. Pembagian pertama dilakukan ketika mahasiswa pertama kali turun ke lapangan, sedangkan pembagian berikutnya merupakan pembagian kedua.
“Saya jawab itu karena mahasiswa sudah dua kali pembagian APD. APD pertama sudah dibagikan ketika pertama turun. Ini yang kedua,” ujarnya.
Menurut Rosmala, situasi tersebut membuat dirinya tidak memiliki ruang yang cukup untuk memberikan penjelasan secara tenang.
“Seandainya saya diberi ruang bernapas saja, sebenarnya saya bisa duduk baik-baik dan menjawab dengan bagus,” katanya.
Ia menegaskan, dirinya tidak keberatan dengan aktivitas jurnalistik maupun wartawan yang membutuhkan informasi dari pihak kampus.
Rosmala mengatakan, selama ini dirinya terbuka terhadap wartawan. Bahkan, sejumlah wartawan yang melakukan peliputan di lingkungan FKM Untad biasanya terlebih dahulu melakukan komunikasi melalui telepon atau pesan WhatsApp sebelum meminta bertemu.
“Saya sudah 30 tahun menjadi dosen. Selama ini kami juga mau melayani wartawan, tidak ada masalah. Saya sangat terbuka,” ujarnya.
Ia juga mengaku memahami tuntutan kerja wartawan, termasuk batas waktu pemberitaan dan kebutuhan memperoleh informasi dari narasumber.
Karena itu, Rosmala berharap persoalan tersebut tidak kembali terjadi dan komunikasi antara pihak kampus dengan wartawan dapat dilakukan secara lebih terbuka.
Sementara itu, wartawan Radar Sulteng Andika Nur Hikmah sebelumnya menyampaikan versi kronologi berbeda. Ia menyebut persoalan bermula dari pemberitaan mengenai keluhan mahasiswa peserta program Berani Magaya, antara lain terkait APD, screening, asuransi, dan pola pendampingan pasien.
Dalam pemberitaan tersebut, pihak FKM Untad juga telah memberikan keterangan mengenai APD.
Perselisihan kemudian berlanjut dalam komunikasi dan pertemuan antara kedua pihak pada 24 September 2026. Setelah pertemuan tersebut, Andika mengaku menerima pesan WhatsApp dan tangkapan layar yang memuat informasi mengenai statusnya sebagai mahasiswa Untad.
Atas rangkaian komunikasi tersebut, Andika menyatakan menyerahkan penilaiannya kepada redaksi dan penasihat hukumnya.
Pihak Radar Sulteng juga menyatakan tetap membuka ruang hak jawab dan hak koreksi apabila terdapat kekeliruan faktual dalam pemberitaan. Sementara pihak FKM Untad dijadwalkan memberikan klarifikasi lebih lanjut terkait persoalan tersebut.
Adapun program Berani Magaya yang menjadi konteks awal persoalan merupakan program pendampingan pasien TB sekaligus upaya memutus rantai penularan di lingkungan keluarga yang memiliki kontak erat dengan pasien.
Program tersebut melibatkan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi. Rosmala menyebut sekitar 350 mahasiswa Untad saat ini telah turun mendampingi pasien dan keluarganya.
“Untuk pasien, pendampingan sampai sembuh. Kalau keluarga, memastikan tidak ada lagi pasien baru yang muncul,” kata Rosmala.
Ia mengatakan program tersebut dilaksanakan karena kasus TB di Sulawesi Tengah masih cukup tinggi. Berdasarkan data yang disebutkannya, terdapat lebih dari 8.000 kasus TB di Sulawesi Tengah, sedangkan di Kota Palu lebih dari 2.000 kasus.
Selain Untad, program tersebut juga melibatkan sejumlah perguruan tinggi lain dengan sasaran di Sigi, Tolitoli, Poso, dan Luwu. Jumlah mahasiswa yang terlibat sejak awal disebut mencapai 1.073 orang.
