LAMPUNG SELATAN, MAL – Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, diturunkan statusnya dari Siaga (Level III) menjadi Waspada (Level II) mulai 21 September 2026 pukul 18.30 WIB setelah Badan Geologi melakukan analisis dan evaluasi aktivitas vulkanik.

Di tengah penurunan status tersebut, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap proses pertumbuhan kembali Gunung Anak Krakatau setelah runtuh pada 2018 yang memicu tsunami Selat Sunda.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan penurunan status dilakukan berdasarkan hasil analisis dan evaluasi komprehensif terhadap aktivitas gunung api tersebut.

“Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi komprehensif, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau telah diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) mulai 21 September 2026 pukul 18.30 WIB,” kata Lana.

Status Siaga sebelumnya ditetapkan sejak 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB menyusul peningkatan aktivitas seismik vulkanik dan deformasi.

Pada awal September, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi kontinu selama sekitar 25 jam, tepatnya sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.

Erupsi tersebut menghasilkan sebaran abu vulkanik luas yang berdampak pada operasional penerbangan di sejumlah bandara di Sumatera dan Jawa.

Pemantauan PVMBG dan VAAC Darwin mencatat sebaran abu mencapai ketinggian hingga 20.000 kaki dan 50.000 kaki dengan cakupan wilayah meliputi Banten, Lampung, Bengkulu, Sumatera Barat, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia di barat Lampung dan Banten.

Lana menjelaskan data citra satelit menunjukkan erupsi kontinu menghasilkan aliran lava yang bergerak ke arah barat laut hingga barat daya dari pusat erupsi.

“Berdasarkan pemantauan data citra satelit, erupsi kontinu telah menghasilkan aliran lava yang bergerak ke arah barat laut-barat daya dari pusat erupsi.

Meskipun telah mengalami 7 erupsi Strombolian setelah berhentinya erupsi kontinu, aktivitas Gunung Anak Krakatau cenderung menurun hingga 20 September 2026 pukul 00.00 WIB,” ujarnya.

Data pemantauan seismik pada 20 September 2026 mencatat satu gempa frekuensi rendah dan tremor kontinu dengan amplitudo rata-rata 2 milimeter.

Sementara pada 21 September 2026 pukul 18.00 hingga 24.00 WIB terekam satu gempa hibrid dengan amplitudo 46 milimeter dan durasi delapan detik, serta tremor kontinu dengan amplitudo 1–5 milimeter.

Meski status aktivitas telah turun menjadi Waspada, masyarakat tetap diminta mematuhi batas keselamatan yang berlaku. Radius larangan aktivitas kini ditetapkan sejauh dua kilometer dari pusat aktivitas vulkanik, lebih kecil dibanding tiga kilometer saat status Siaga.

Kepala Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran, Suwarno, mengingatkan masyarakat dan nelayan agar tetap waspada.

“Meskipun statusnya telah menurun, masyarakat tetap dilarang memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius dua kilometer dari pusat aktivitas vulkanik. Masyarakat dan nelayan juga diimbau untuk tetap waspada terhadap ancaman erupsi batuan pijar dan hujan abu lebat,” katanya.

Imbauan serupa disampaikan Kepala BPBD Lampung Selatan Maturidi. Ia meminta masyarakat, wisatawan, dan nelayan tetap mengikuti aturan keselamatan yang telah ditetapkan.

“Kami terus mengimbau masyarakat, wisatawan, dan nelayan untuk berhati-hati dan mengikuti peraturan serta arahan yang telah ditetapkan,” ujar Maturidi.

Ia menegaskan penurunan status tidak boleh diartikan sebagai berkurangnya kewaspadaan terhadap potensi bahaya di sekitar kawasan Krakatau.

“Penurunan status GAK tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan batas keselamatan demi keamanan publik. Nelayan atau pemilik kapal, misalnya, tidak boleh mendekati atau melakukan aktivitas di dekat Pulau Krakatau karena berbahaya dan ditetapkan sebagai kawasan cagar alam,” katanya.

Di sisi lain, BRIN mengungkap Gunung Anak Krakatau terus mengalami proses pembangunan kembali setelah runtuh pada 2018. Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dini Nurfiani, menjelaskan sejarah erupsi gunung api tersebut menunjukkan pola siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali.

“Sejarah erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api ini berkembang melalui siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali. Setelah kolaps pada 2018, morfologi dan gaya erupsi berubah secara drastis, lalu diikuti fase pertumbuhan kembali melalui erupsi dan pembentukan lava baru,” kata Dini.

Menurut BRIN, runtuhan sektor barat daya pada 2018 melibatkan volume material sekitar 0,116 kilometer kubik. Peristiwa itu menyebabkan ketinggian puncak Gunung Anak Krakatau turun dari sekitar 330 meter menjadi sekitar 120 meter dan memicu tsunami Selat Sunda.

“Perbandingan morfologi sebelum dan setelah runtuhan 2018 menunjukkan perubahan yang sangat besar. Bentuk kerucut yang sebelumnya relatif tinggi berubah menjadi morfologi yang lebih rendah dan terbuka, kemudian secara bertahap dibangun kembali oleh aktivitas erupsi berikutnya,” ujar Dini.

Ia menambahkan aktivitas vulkanik setelah 2019 menunjukkan terbentuknya kerucut baru melalui erupsi Strombolian, lava fountain, dan aliran lava yang secara bertahap membangun kembali tubuh gunung api.

“Catatan erupsi Anak Krakatau memperlihatkan bahwa perilaku gunung api tidak selalu tetap, tetapi dapat berubah mengikuti perkembangan tubuh gunung, sistem magma, dan kondisi lingkungannya,” katanya.