JAKARTA, MAL – Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang terdeteksi menyebar hingga sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Lampung pada 5-6 September 2026 tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan serius dan membahayakan operasional penerbangan.

Abu vulkanik merupakan campuran batuan, mineral, dan partikel kaca yang dikeluarkan saat letusan gunung berapi. Berbeda dengan debu biasa, partikel abu vulkanik berukuran sangat kecil, berdiameter kurang dari 2 milimeter, namun memiliki tekstur keras dan bergerigi sehingga mudah terbawa angin hingga ratusan kilometer dari sumber erupsi.

Bahaya abu vulkanik menjadi perhatian setelah sebarannya terdeteksi mencapai sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra menyusul aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sejak Jumat (4/9/2026) malam. Kondisi tersebut juga berdampak pada sektor penerbangan karena partikel abu dapat membahayakan mesin pesawat dan sistem avionik.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan masyarakat agar tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak paparan abu vulkanik.

“Masyarakat agar tidak panik, dan titip ada tiga hal yang mesti kita jaga bersama. Jadi, pernapasan, mata, dan kulit adalah tempat-tempat di mana masalah kesehatan bisa terjadi akibat adanya debu vulkanik ini,” katanya.

Ia mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan guna meminimalkan risiko gangguan kesehatan.

“Untuk pernapasan, tolong pastikan Bapak Ibu di rumah saja dulu. Untuk daerah-daerah yang tadi disampaikan oleh Pak Kepala BMKG sama Pak Kepala BNPB. Kalau Bapak Ibu ada di daerah-daerah di sana, untuk menjaga kesehatan pernapasan Bapak Ibu, usahakan kegiatannya dilakukan di rumah,” ujarnya.

Dampak kesehatan akibat paparan abu vulkanik dapat muncul dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Pada sistem pernapasan, abu dapat memicu batuk, sakit tenggorokan, pilek, mengi, sesak napas, hingga memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Risiko tersebut lebih tinggi pada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita gangguan pernapasan.

Paparan berkepanjangan juga berpotensi menyebabkan silikosis, yaitu kerusakan paru akibat partikel silika yang masuk dan menumpuk di jaringan paru.

“Ketika dihirup dan masuk ke paru-paru, abu vulkanik dapat mengoyak bagian dalam bronkioli, alveoli, dan kapiler. Akibatnya, hal ini dapat menimbulkan gangguan pernapasan dan dalam jangka panjang dapat menyebabkan silikosis atau penyakit yang berpotensi menimbulkan bekas luka permanen pada paru-paru,” demikian penjelasan yang dikutip dari Forbes.

Selain paru-paru, mata menjadi organ yang rentan terkena dampak. Partikel abu yang tajam dapat menyebabkan iritasi, konjungtivitis, abrasi kornea, mata merah, gatal, nyeri, berair, hingga sensasi seperti ada benda asing di dalam mata.

Kulit juga dapat mengalami iritasi, kemerahan, gatal, hingga ruam akibat sifat abrasif partikel dan kandungan kimia asam yang terdapat dalam abu vulkanik. Beberapa partikel juga dapat membawa senyawa seperti sulfur dioksida (SO2), hidrogen sulfida (H2S), dan asam klorida (HCl) yang berpotensi memperparah iritasi.

Pakar kebencanaan Daryono menyebut bahaya abu vulkanik berasal dari kombinasi karakteristik fisik dan kimianya.

“Bahaya abu Gunung Anak Krakatau terletak pada kombinasi sifat fisik partikelnya yang tajam dan kandungan kimianya,” ujarnya.

Tidak hanya membahayakan kesehatan manusia, abu vulkanik juga menjadi ancaman serius bagi dunia penerbangan. Partikel halus yang masuk ke dalam mesin jet dapat mencair akibat suhu tinggi, kemudian mengendap pada komponen mesin dan mengganggu kinerjanya. Risiko inilah yang menjadi salah satu alasan otoritas penerbangan melakukan penutupan sementara bandara ketika terdeteksi sebaran abu vulkanik.

Untuk mengurangi risiko paparan, pemerintah mengimbau masyarakat tetap berada di dalam rumah, menutup pintu, jendela, dan ventilasi, serta menggunakan masker, terutama masker N95, jika harus beraktivitas di luar ruangan.

“Kalau Bapak Ibu harus keluar rumah, pastikan memakai masker, ya. Pastikan memakai masker,” kata Budi.

Ia juga meminta masyarakat menggunakan pelindung mata saat berada di luar ruangan.

“Kalau harus keluar, usahakan memakai kacamata, ya. Usahakan memakai kacamata agar debunya agak terhalang masuk ke mata kita,” ujarnya.

Jika mata terkena abu vulkanik, masyarakat diminta tidak menguceknya.

“Kalau ternyata sudah debunya masuk, ya pastikan jangan dikucek-kucek, ya. Bersihkan pakai air dan segera ke puskesmas,” kata Budi.

Untuk membersihkan lingkungan rumah, abu vulkanik disarankan dibersihkan menggunakan kain lembap. Metode menyapu dalam kondisi kering tidak dianjurkan karena dapat membuat partikel kembali beterbangan ke udara.

Pemerintah juga telah menyiapkan fasilitas kesehatan untuk menangani dampak paparan abu vulkanik.

“Kalau ternyata sudah sakit, ya segera ke puskesmas. Kita sudah siapkan kalau pernapasan ada nebulizer dan oxygen concentrator, kalau misalnya mata kita siapkan tetes mata, kalau kulit juga kita siapkan salep kulit,” ujar Budi.

Hingga Minggu (6/9/2026), masyarakat di wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik masih diimbau untuk membatasi aktivitas luar ruangan, menggunakan alat pelindung diri, dan segera mencari bantuan medis apabila mengalami gangguan pernapasan, mata, maupun kulit akibat paparan abu.