Ada anak yang sudah pandai menghitung perkalian, pecahan, bahkan persentase. Tetapi ketika diberi uang saku Rp10 ribu, ia belum tentu tahu harus diapakan uang itu.
Lima ribu untuk jajan. Dua ribu untuk minum. Sisanya? Bisa ditabung, bisa juga tiba-tiba lenyap karena melihat sesuatu yang menarik di kantin.
Tidak ada yang aneh dengan itu. Anak memang sedang belajar. Persoalannya, pelajaran seperti ini jarang dianggap sebagai bagian penting dari pendidikan.
Kita terlalu sering mengukur kemampuan anak melalui angka yang tercetak di kertas. Nilai matematika 90 dianggap prestasi. Nilai bahasa 85 dianggap cukup baik. Tetapi kemampuan mengelola uang saku hampir tidak pernah masuk dalam pembicaraan ketika orang tua mengambil rapor.
Padahal kelak, anak tidak akan hidup dengan soal pilihan ganda.
Ia akan berhadapan dengan gaji, tagihan, cicilan, kebutuhan rumah tangga, diskon, keinginan membeli sesuatu, dan godaan untuk menghabiskan uang sebelum akhir bulan. Di situlah kemampuan mengelola uang menjadi sangat menentukan.
Anehnya, sekolah bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan mengajarkan anak menghitung persentase, tetapi kehidupan sering tidak sempat mengajarkan bahwa potongan harga 50 persen tidak selalu berarti menghemat 50 persen.
Kalau sebuah barang tidak dibutuhkan, membelinya dengan harga setengah tetap saja berarti mengeluarkan uang.
Pelajaran seperti itu sebenarnya bisa dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: uang saku.
Rp10 ribu, misalnya, dapat menjadi kelas ekonomi pertama bagi seorang anak. Dari sana ia belajar memilih. Mau menghabiskannya hari ini atau menyimpan sebagian untuk besok? Mau membeli makanan karena memang lapar atau karena teman di sebelah membelinya?
Keputusan kecil itu mungkin terlihat sepele bagi orang dewasa. Tetapi bagi anak, di situlah proses memahami uang mulai terbentuk.
Yang lebih penting, anak juga belajar bahwa uang memiliki batas.
Kalau hari ini seluruh uang saku dihabiskan, maka besok tidak ada tambahan uang dari keputusan hari ini. Kalau uang ditabung selama beberapa hari, sesuatu yang lebih besar mungkin bisa dibeli kemudian.
Itulah konsep menunda kesenangan. Bukan teori yang harus selalu diterangkan dengan istilah rumit, melainkan pengalaman yang dirasakan sendiri.
Sayangnya, orang dewasa kadang terlalu cepat menyelamatkan anak dari konsekuensi keputusannya.
Uang saku habis sebelum waktunya, diberi lagi. Uang untuk membeli sesuatu kurang, ditambahi. Barang yang dibeli ternyata tidak terlalu berguna, kemudian dibelikan barang lain.
Niatnya tentu baik. Orang tua tidak ingin anak kesusahan.
Tetapi kalau setiap keputusan yang keliru selalu diperbaiki oleh orang lain, anak kehilangan kesempatan untuk merasakan akibat dari pilihannya sendiri.
Bukan berarti anak harus dibiarkan kesulitan. Hanya saja, ada kalanya pengalaman kehilangan kesempatan membeli sesuatu karena uang sudah habis justru menjadi guru yang lebih efektif daripada nasihat panjang tentang hidup hemat.
Ada satu hal lagi yang berubah cukup besar dibanding masa lalu: uang semakin tidak terlihat.
Dulu seorang anak menerima uang kertas. Ia bisa melihat jumlahnya, menghitung lembarannya, memasukkannya ke celengan, kemudian mengambilnya kembali.
Sekarang uang dapat berpindah hanya dengan memindai kode atau menekan beberapa tombol.
Dunia digital membuat transaksi jauh lebih mudah, tetapi juga membuat uang terasa lebih abstrak. Anak tidak melihat uang benar-benar berpindah dari tangannya. Yang terlihat hanya sebuah transaksi berhasil.
Persoalannya bukan teknologi itu sendiri. Teknologi justru bisa menjadi sarana pendidikan finansial yang baik. Yang perlu diperhatikan adalah apakah anak memahami bahwa di balik satu kali klik tetap ada uang yang berkurang.
Ini penting karena dunia anak juga sudah dikelilingi oleh iklan yang semakin canggih.
Mainan, makanan, pakaian, gim, aksesori, hingga berbagai barang yang sebenarnya tidak mereka cari dapat tiba-tiba muncul di layar. Keinginan membeli bisa muncul bukan karena anak membutuhkan sesuatu, melainkan karena ia terus-menerus melihat sesuatu yang membuatnya merasa perlu memiliki.
Di sinilah pendidikan finansial bertemu dengan pendidikan media.
Anak perlu memahami bahwa iklan memang dibuat untuk membuat orang tertarik membeli. Kata “promo”, “limited”, “gratis”, “diskon besar”, atau “tinggal sedikit lagi” bukan sekadar informasi. Ada strategi di baliknya.
Anak yang memahami hal itu akan lebih mampu berhenti sejenak sebelum membeli.
Bukan berarti anak harus tumbuh menjadi orang yang pelit. Pendidikan finansial bukan tentang melarang anak menikmati uang. Anak tetap boleh membeli makanan yang disukai, bermain, memiliki mainan, atau sesekali menghabiskan uang untuk sesuatu yang membuatnya senang.
Yang perlu dibangun adalah kemampuan membedakan: saya ingin membeli ini karena memang saya mau dan mampu, atau karena saya sedang dibuat merasa harus membelinya?
Perbedaan kecil itu kelak akan menjadi penting ketika nominal uang semakin besar.
Hari ini mungkin hanya Rp10 ribu. Besok bisa menjadi Rp100 ribu. Ketika dewasa, mungkin Rp10 juta.
Kebiasaan mengelola uang biasanya tidak muncul tiba-tiba ketika seseorang menerima gaji pertamanya. Ia terbentuk jauh sebelumnya, dari keputusan-keputusan kecil yang berulang.
Termasuk keputusan sederhana seperti tidak menghabiskan seluruh uang saku hari ini.
Di rumah, orang tua sebenarnya mempunyai peran yang jauh lebih besar daripada sekadar menentukan jumlah uang saku. Anak memperhatikan bagaimana orang dewasa berbicara tentang uang.
Ia melihat orang tua berbelanja. Ia melihat bagaimana keluarga menentukan mana yang harus dibayar lebih dulu. Ia mendengar ketika orang tua mengatakan “belum bisa membeli itu” atau sebaliknya membeli sesuatu secara spontan.
Anak belajar dari sana, bahkan ketika tidak ada pelajaran khusus.
Karena itu, pendidikan finansial tidak cukup hanya dengan mengatakan kepada anak, “Kamu harus hemat.”
Hemat itu apa?
Apakah membeli barang murah selalu hemat? Apakah tidak boleh jajan berarti hemat? Apakah menabung semua uang adalah keputusan yang selalu benar?
Anak perlu diajak memahami alasan di balik keputusan.
Bahkan konsep utang pun sebenarnya dapat dikenalkan secara sederhana. Ketika seorang anak meminjam uang untuk membeli sesuatu dan kemudian harus mengembalikannya, ia sudah mulai memahami satu hal penting: uang yang dipinjam bukan uang tambahan.
Ada kewajiban yang mengikuti.
Tentu pembahasannya harus sesuai usia. Anak SD tidak perlu dijejali istilah ekonomi yang rumit. Tetapi semakin bertambah usia, pembicaraan bisa berkembang: tabungan, rekening, bunga, cicilan, pinjaman, kebutuhan, keinginan, investasi, penipuan digital, sampai keamanan transaksi.
Sekolah juga tidak harus membuat mata pelajaran baru hanya untuk mengajarkan semua itu.
Matematika dapat digunakan untuk menghitung anggaran. IPS bisa membicarakan konsumsi. Prakarya dapat mengajarkan modal dan keuntungan melalui kegiatan jual beli sederhana. Bahasa Indonesia dapat mengajak siswa membedah bahasa iklan.
Pendidikan finansial bisa hadir dalam banyak pelajaran tanpa harus menambah satu buku lagi di dalam tas anak.
Yang dibutuhkan sebenarnya adalah perubahan cara pandang.
Kita perlu berhenti menganggap kemampuan mengelola uang sebagai urusan orang dewasa semata.
Sebab anak-anak sudah berhadapan dengan uang sejak mereka menerima uang saku, meminta dibelikan sesuatu, mengenal diskon, bermain gim, melihat iklan, dan mulai memiliki keinginan untuk membeli barang sendiri.
Mungkin sudah waktunya kita bertanya ulang tentang apa yang disebut “anak pintar”.
Apakah anak pintar hanya anak yang mendapatkan nilai tinggi dalam matematika?
Atau anak yang juga tahu kapan harus membeli, kapan harus menunggu, kapan harus menabung, dan kapan harus mengatakan kepada dirinya sendiri: “Saya ingin, tetapi saya tidak harus punya.”
Kalimat sederhana itu mungkin tidak pernah muncul dalam soal ujian.
Tetapi dalam kehidupan, kemampuan mengatakannya bisa menyelamatkan seseorang dari banyak keputusan buruk.
Dan mungkin, di situlah Rp10 ribu uang saku memiliki nilai pendidikan yang jauh lebih besar daripada yang selama ini kita kira.**
