SIDOARJO, MAL – Sebanyak 431 santri dan santriwati Pondok Pesantren (Ponpes) Manba’ul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, dirawat di sejumlah rumah sakit setelah mengalami gejala keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (1/9). Hingga Rabu (2/9), penyebab pasti kejadian tersebut masih dalam penyelidikan melalui pemeriksaan laboratorium.

Keracunan massal itu terjadi setelah sekitar 1.010 santri jenjang MTs dan MA mengonsumsi makanan MBG yang didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin. Makanan dibagikan sekitar pukul 12.00 WIB setelah sebelumnya dikirim ke pondok sekitar pukul 10.00 WIB.

Beberapa jam setelah makan siang, sekitar pukul 16.00 WIB, para santri mulai mengeluhkan pusing, mual, muntah, diare hingga sesak napas. Jumlah korban terus bertambah sehingga dilakukan evakuasi ke sejumlah rumah sakit sejak pukul 16.30 WIB hingga malam hari.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, sebelumnya menyatakan sebanyak 293 santri dirawat di delapan rumah sakit pada Selasa malam. Hingga Rabu, jumlah korban yang menjalani perawatan meningkat menjadi 431 orang.

Delapan rumah sakit yang menerima pasien antara lain RS Notopuro, RS Delta Surya, RS Siti Hajar, RS Pusura, RSU Aisyiyah St Fatimah Tulangan, RS Pusdik Bhayangkara, RS Arafah Anwar Medika, dan satu rumah sakit lainnya yang terlibat dalam penanganan pasien.

Pendamping SPPG di lokasi, Serka Andik, menyebut menu MBG yang dibagikan terdiri atas nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis baby corn, tempe bumbu Bali, dan buah apel.

“Menu hari ini nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis baby corn, tempe bumbu Bali, dan buah apel,” kata Andik.

Salah seorang santriwati, Syaza (15), mengaku mencurigai salah satu menu sayuran yang dikonsumsi.

“Yang dimakan nasi putih, telur orak-arik, tempe kayak bali, gak pedes. Sayur gak habis, yang kecut dari sayurnya,” ujarnya.

Ketua Yayasan Ponpes Manba’ul Hikam, KH Abdul Wachid Harun, menegaskan makanan yang dikonsumsi santri tidak diolah di lingkungan pesantren, melainkan berasal dari SPPG Kalitengah.

“Soal SPPG bukan ditangani pesantren, tapi dari beliau, dari Kalitengah. Dan kami hanya menerima manfaat saja. Tidak benar kalau SPPG itu ada di pondok, tidak benar ya,” katanya.

Ia menyebut pihak pesantren terus memantau kondisi para santri yang menjalani perawatan di rumah sakit maupun rawat jalan.

“Wait and see. Lihat situasi besok. Iya, tapi semua harus tertangani secara tuntas. Ada posko dan pengurus-pengurus juga ikut memantau di tempat rumah sakit di mana anak-anak santri dirawat inap, ada yang rawat jalan,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur turut melakukan pemantauan terhadap penanganan korban. Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo membuka posko medis di area pesantren untuk membantu penanganan dan pendataan korban.

Bupati Sidoarjo Subandi memastikan tidak ada korban meninggal dunia dalam peristiwa tersebut sekaligus membantah informasi yang sempat beredar mengenai adanya santri yang meninggal.

“Semuanya anak-anak kita yang tiba di rumah sakit semua sudah termonitor semua, ya. Ini tadi yang sudah sembuh-sembuh tak suruh pulangkan. Berarti tidak ada bahasa yang meninggal itu tidak ada, ya. Tidak ada yang meninggal,” kata Subandi.

Ia menambahkan pemerintah daerah akan melakukan pemeriksaan langsung ke lokasi penyedia makanan.

“Besok kita akan cek ke lokasi SPPG yang ada di Tanggulangin, kenapa sampai terjadi seperti ini. Tugas kita sebagai kepala daerah adalah pengawasan,” ujarnya.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan hingga kini tidak ditemukan adanya makanan lain yang dikonsumsi secara massal selain menu MBG dari SPPG Kalitengah.

“Mengenai makanan yang mana, ada Maulid di pondok pesantren? Enggak, tidak ada makanan lain yang disuguhkan secara massal. Ya kalau jajan sendiri-sendiri lain cerita, tapi secara massal tidak ada,” kata Emil.

Menurut Emil, seluruh pasien mendapatkan penanganan sesuai kondisi medis masing-masing dan tidak ada yang terabaikan selama proses perawatan.

“Seluruh pasien tidak ditangani secara seragam, tetapi mendapatkan penanganan khusus sesuai kondisi medis masing-masing pasien,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, SPPG Kalitengah telah di-suspend sementara. Evaluasi lapangan dan uji laboratorium masih berlangsung untuk memastikan penyebab pasti insiden yang menyebabkan ratusan santri menjalani perawatan tersebut.