JAKARTA, MAL — Banjir bandang menerjang wilayah dekat perbatasan China dan Nepal pada Rabu (26/8). Bencana tersebut menyebabkan sedikitnya 22 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya dilaporkan masih hilang.
Banjir melanda sejumlah wilayah di Nepal dan Tibet, China. Tanah longsor juga terjadi di kawasan Gyirong, Tibet, yang berada di dekat perbatasan kedua negara.
Dikutip dari Al Jazeera, otoritas setempat melaporkan sekitar 384 turis hilang akibat bencana tersebut. Sebanyak 291 di antaranya merupakan turis asal Inggris, Amerika Serikat, India, dan Malaysia.
Pemerintah China memperingatkan kemungkinan adanya korban jiwa dalam jumlah besar. Presiden China Xi Jinping juga memerintahkan upaya pencarian dan penyelamatan secara maksimal terhadap warga yang masih hilang.
Di Nepal, sebanyak 60 pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air dilaporkan hilang. Mereka bekerja di Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air Langtang Khola di Rasuwa.
Para pekerja tersebut sedang melakukan pekerjaan beton di dalam terowongan ketika banjir terjadi. Banjir kemudian merusak kawasan proyek pembangkit listrik tersebut.
Selain pekerja, sekitar 400 wisatawan, termasuk warga negara asing, juga belum diketahui keberadaannya, menurut badan pariwisata Nepal.
Menteri Luar Negeri Nepal Shishir Khanal mengatakan banjir diduga terjadi setelah gempa bumi memicu tanah longsor besar. Longsor tersebut kemudian menghalangi aliran Sungai Bhote Koshi hingga menyebabkan air meluap.
“Gempa bumi terjadi pukul 08.37 pagi tadi, dan akibatnya terjadi tanah longsor besar yang menghalangi aliran sungai, yang tampaknya menyebabkan banjir,” kata Khanal dalam rapat di Dewan Perwakilan Rakyat Nepal.
Dikutip dari CNN, Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat gempa berkekuatan magnitudo 4,4 di wilayah tersebut pada waktu yang sama.
Tim penyelamat dari kepolisian dan militer Nepal terus melakukan pencarian terhadap warga serta pekerja yang masih hilang.
Perdana Menteri Nepal Balendra Shah meminta masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Masyarakat di sepanjang sungai disarankan untuk lebih berhati-hati dan tetap waspada,” kata Balendra, seperti dilaporkan Reuters.
Upaya penyelamatan menghadapi sejumlah kendala. Juru bicara militer Nepal Raja Ram Basnet mengatakan helikopter tidak dapat mendarat di sejumlah wilayah, termasuk Syapru Besi dan Timure di Nepal Utara, hingga kondisi air surut.
Sementara itu, Presiden Xi Jinping memerintahkan upaya pencarian dan penyelamatan besar-besaran untuk menemukan warga yang masih hilang, menurut kantor berita pemerintah China.
Pemerintah China juga menyiapkan bantuan berupa tenda, kompor pemanas, pakaian, dan perlengkapan tidur bagi warga yang terdampak bencana.
Hingga Rabu malam, tim penyelamat masih melakukan pencarian terhadap korban dan warga yang belum diketahui keberadaannya, sementara masyarakat di kawasan sepanjang sungai diminta tetap waspada terhadap kemungkinan banjir susulan.**
